
"Nana udah tidur, Mas?" tanya Rubby ke Maliq.
"Udah, Bu. Padahal belum makan malah udah tidur." jawab Maliq yang menuruni tangga.
"Ibu mau ngomong sama Mas boleh?"
"Boleh, ngomong apa?" Maliq menghampiri Sang Ibu, lalu duduk disofa.
"Mas serius mau ngejar beasiswa?"
"Iya, Bu. Kata Ayah, Maliq itu mau disekolahkna ditempat lain yang jaug biar mandiri, tapi Maliq ngga mau. Maliq maunya disekolah yang sekarang aja. Bisa bantu Bram jagain Nana. Ibu tau sendiri, Bram juga suka jahilin Nana, mana dia juga sering dibully disekolah. " jawab Maliq.
"Tapi, Mas udah sekolah disana lama. Niat Ayah sama Ibu itu, supaya Masa dapet temen baru, dan berbaur dengan lingkungan baru? Masa ngga mau."
"Ngga dapet temen baru ngga papa, Bu. Yang penting adek-adek Maliq aman. Ibu sibuk, Ayah sibuk. Jadi Maliq yang harus jagain kan. Maliq cuma jagain Dua adek kok, Bayu sama Adi lebih sering sama Bik ratih." jawab Bayu.
Rubby hanya diam, mengusap rambut Maliq.
"Ngga papa kan, kalau Maliq menentang Ayah sekali aja? Maliq akan buktikan, kalau Maliq baik-baik saja, meskipun harus terus sekolah ditempat yang sama sampai Maliq lulus SMA."
"Ngga papa. Yasudah, Maliq berusaha keras saja, untuk menjawab tantangan Ayah. Ayah pasti akan mengerti nanti." jawab Rubby.
Maliq dengan hati gembira, kembali menemani adik-adiknya bermain, seraya menunggu Ayah mereka pulang, dan makan malam bersama.
Beberapa jam kemudian.
"Assalamualaikum, Ayah pulang." ucap Edra yang memasuki rumahnya.
"Ayaaaaah!" teriak Si kembar, yang berlari dan langsung memeluk Ayah mereka. Sedangkan Bram, membereakan mainanya yang berantakan.
"Kan... Main aja, main terus. Beresin ngga mau. Mas lagi yang capek." keluh Bram.
__ADS_1
"Bram kenapa ngomel sendiri?" tanya Maliq yang keluar dari kamarnya.
"Biasalah... Kembar itu, menyesakkan dada." jawab Bram.
"Yaudah, Mas bantuin ayok." ujar Maliq.
Setelah semua beres, dan Edra sudah membersihkan diri. Mereka berkumpul dimeja makan, lalu Rubby menyendokan nasi ke piring masing-masing untuk makan bersama.
"Nana mana?" tanya Edra.
"Nana tadi ketiduran waktu main, yah. Mau bangunin kasihan, nanti aja Maliq kekamarnta buat suapin." jawab Maliq.
"Oke... Maliq gimana, jadi mau kejar beasiswa?" tanya Edra.
"Jadi dong. Kan itu tantangan ayah." jawab Maliq.
"Kenapa ngga mau masuk pesantren aja? Maliq tinggal masuk, makan dan tidur disana."
Edra memang berniat memasukan Maliq kepesantren, untuk mengembangkan ilmu agamanya, dan melatih kemandirian Maliq. Namun, meskipun Maliq sebenarnya taj menolak, Ia pun tak ingin menerimanya. Hanya saja, Ia segan untuk berbicara dengan Sang ayah.
Edra yang tahu, jika sebenarnya Maliq menolak, memberi tantangan ke Maliq. Bahwa jika Maliq ingin menetap disekolah lama, maka Ia harus mendapatkan beasiswa disana. Maka dari itu, Maliq berusaha begitu keras menerima tantangan itu.
Sepeninggal Maliq, Rubby menceritakan alasan Maliq tak mau pergi. Edra berusaha memahami, namun masih dengan keputusan awalnya.
Maliq sebenarnya anak yang baik dan begitu menurut. Tapi, ketika hati terdalamnya mengatakan tak ingin dengan alasan yang jelas, maka Ia tak akan mau melakukanya, dan akan berusaha sekuat tenaga untuk menolak. Begitupun dalam keada'an ini, ketika Adik-adiknya yang menjadi alasan terbesarnya, sehingga mau mengatakan tidak pada keputusan Sang ayah.
Seminggu berlalu setelah kejadian itu. Pagi ini, Maliq bersiap berangkat kesekolah untuk melaksanakan ujian akhirnya.
Dengan antusias, Maliq mengerjakan semua soal-soal yang ada dihadapanya, dan begitu yakin dengan kemampuanya mendapatkan nilai terbaik, dan mendapat beasiswa itu.
Jam istirahat, Maliq tak keluar. Ia kembali membaca bukunya dikelas. Lalu Nana datang menghampirinya.
__ADS_1
"Mas, ini Nana bawain minum." ucap Nana, dengan memberi sebotol minuman padanya."
"Makasih adek Mas yang paling cantik." puji Maliq pada Nana, yang masih bersekolah di PAUD itu.
"Iya, Nana cantik. Nana kan perempuan sendiri. Nana balik deh, bentar lagi masuk. Nana mau belajar biar pinter kayak Mas." jawab Nana.
Siang tiba, Maliq memjemput Nana dan Bram dikelasnya masing-masing. Lalu menggandeng mereka menunggu jemputan Pak Bima. Setelah itu, mereka menjemput sikembar kesekolahnya, yang lumayan jauh dari sekolah Maliq, Nana dan Bram.
"Mana mereka ya, Pak. Biasanya udah nunggu digerbang." tanya Maliq.
"Maliq bisa tengokin?" pinta Pak bima.
"Bisa... Bentar ya?" ucap Maliq, lalu turun dan mencari Si kembar.
Maliq masuk kesekolah itu, lalu mencari kelas mereka yang letaknya dibelakang, jauh dari pos satpam dan ruang guru.
Semakin nendekat ke ruang kelas, Maliq mendengar suara tangisan dari kelas itu, beserta suara gebrakan meja seolah ada perkelahian disana.
Maliw berlari kencang, lalu melihat Bayu dan Adi sedang jongkok dan menangis ketakutan, dan seotang senior mereka yang sepertinya sufah duduk dibangku SMP, sedang berkacak pinggang dihadapan mereka.
"Kalian apain adikku?" teriak Maliq.
"Massss.!" Teriak adi, yang langsung lari menghampiri Maliq, sedangkan Bayu tak bisa menyusul, karena lengan bajunya ditarik anak itu.
"Kamu, Masnya? Anak orang kaya? Bagi duitlah. Kalian ngga kasihan dama anak miskin kayak kami, mau beli jajan sama kuota hp aja ngga bisa." ucap anak itu, dengan mempermainkan telinga Bayu.
Maliq begitu tersulut emosinya, ketika melihat kejadian itu, dan tanpa banyak bicara lagi, langsung menghampiri dan menghajar mereka semua, hingga hidung salah satu dari mereka berdarah. Adi dengan cepat berlari memanggil Pak bima.
"Aku paling tidak suka, ketika adik ku kamu jahati. Karena apa? Aku sendiri tak pernah memukul adik ku sama sekali, menjewernya pun tak pernah. Pergi, atau kalian pingsan?" ucap Maliq, dengan emosi yang tak terkendali.
Mereka semua pergi, hanya Maliq seorang diri, duduk dilantai, dan merenungi perbuatanya.
__ADS_1
"Kalau kayak gini. Ayah pasti marah, Ayah pasti tak perduli lagi dengan tantangan itu. Dan aku akan dibawanya kepesantren. Ya Allah, Maa'f, Maliq salah." gumamnya, dengan air mata menganak sungai.