
Pagi menjelang, kuregangkan tubuhku dan segera bangun membuka jendela. Mentari pagi mulai bersinar cerah. Ku hirup udara yang segar khas perkampungan ini. Segar, dan melegakan. ku bangun kan Kak Dee untuk segera mandi dan sarapan
"Kamu sendiri udah mandi belum?" tanya Kak Dee padaku. Aku hanya tersenyum, sambil meracik obat untuknya hari ini.
"By udah mandi subuh tadi, abis shalat. Terus ketiduran lagi, padahal pengen ngajak marathon,"
"Terus, rencana hari in mau kemana?"
"Kalo By mau ke makam Bang bagas, Kakak ikut?"
"Yaudah sih, ikut aja sekalian. Lagian, mau kemana juga Kakak kalo ngga sama kamu,"
"Baiklah... Ini, minum obatnya dulu, abis ini kita sarapan."
Selepas itu, Aku mengajak Kak Dee menemui Ibu dan Bapak serta Bang halim yang sedang sarapan.
"Selamat pagi," sapa Ku pada mereka semua.
"Pagi sayang, yuk sarapan. Ini, udah Ibu persiapkan sayuran yang kamu pesan buat Diana."
"Walah... Ibu repot-repot, padahal saya bisa makan apa adanya disini." sanjung Kak Dee.
"Engga kok, Dee. Semua kan demi kesehatan kamu selama berada disini," jawab Ibu dengam senyum ramahnya.
"Iya, Bu. Terimakasih,"
Kami hening sejenak, menikmati sarapan yang sudah disediakan. Tak ada suara lain dalam sekejap, hanya suara sendok yang beradu dengan piring dimeja.
"Dee... Apa rencanamu selama disini?" tanya Bapak, membuka percakapan.
"Tidak ada rencana apa-apa, Pak. Hanya ingin jalan-jalan, dan menikmati udara segar disini. Semoga dengan istirahat sejenak, bisa mengurangi rasa sakit yang saya derita," balas Kak Dee.
"Ya... Semoga saja, apa yang kamu ingin kan itu terwujud ya, Dee. Kami disini semua mendoakan kamu,"
"Iya, Pak. Terimakasih banyak. Oh Iya... Bagaimana usaha baru mu Halim?"
"Baik, Kak. Alhamdulillah semua lancar, karna memang disini belum ada saingan untuk travel," jawab Bang halim.
"Wah... Rame dong ya, apa sudah perlu tambahan armada baru? Biar saya berikan satu mobil lagi buat kamu?" tanya Kak Dee dengan santai.
Semua mata terbelalak mendengar perkataan Kak Dee, yang dengan mudah nya menawarkan sebuah mobil baru tanpa berfikir panjang.
"Hah... E-engga usah, Kak. Kakak sudah membantu saya sampai disini. Sekarang biarkan saya berusaha sendiri untuk mengembangkan nya." jawab Bang halim, dengan tersipu malu.
__ADS_1
"Oke... Lebih bagus jika begitu. Saya suka semagat kamu, Halim. Kalau ada apa-apa, lekas hubungi kami, ya."
Aku tertegun salut melihat ketulusan Kak Dee pada keluarga baru nya ini. Aku juga benar-benar beruntung, karna memiliki madu dan suami yang begitu menyayangi dan menjaga ku dengan baik.
"Bu, Pak. Hari ini, By mau ke makam ya, Kak Dee juga ikut." izin ku.
"Perginya mau naik apa, By?" tanya Bapak.
"Naik motor aja, ngga papa kan, Kak?" tanya Ku pada Kak Dee.
"Iya, ngga papa. Biarin Mas Bima istirahat, capek dia nyupir seharian kemarin."
"Ia, Kak. Ngga jauh juga dari sini."
Kami mengaakhir percakapan, lalu bersiap pergi. Bang halim sudah mengeluarkan motorku sekaligus memanaskan mesin nya.
"Makasih ya , Bang. Kami pergi dulu." Pamitku.
"Iya... Hati-hati," ucap Nya pada Ku.
AKu menyetir motorku pelan, seraya menikmati pemandangan kampungku yang masih asri dengan persawahan dan perkebunan sayur mayur.
"By...."
"Disini segar, ya. Enak suasana nya serba hijau, sejuk mata memandang. Saya pengen buat seperti ini."
"By juga pengen, Kak. Gimana kalau kita buat diteras belakang? Buat kita santai,"
"WAh... Ide bagus itu. Pulang dari sini, kita kerjain ya,"
Dasar orang kaya, sekali bilang langsug di'iyain. Jangan-jangan, kalau aku minta helikopter juga diturutin kali ya.
"Iya, Kak. By akan turun tangan sendiri buat media tanamnya." balas Ku.
Kami sampai dipemakaman. Aku memarkir motorku dengan baik, dan masuk ke area untuk mencari makam Bang bagas.
"Wah... Rungkut sekali, ngga ada yang bersihin sejak By pergi," gumam Ku.
"Bagas, tak punya keluarga."
"Tidak, Kak. Hanya beberapa rekan kerja. By dan keluarga By, adalah keluarga terdekatnya saat itu."
"Oh... Iya, kita bersihkan yuk," ajak kak Dee.
__ADS_1
Aku memanjatkan do'a tulusku untuknya, begitu juga Kak Dee. Meskipun, mereka tak pernah kenal satu sama lain. Bulir-bulir air mata ku mulai menetes, dan segera ku seka saat Kak Dee melihatnya.
"Menangis, By?"
"Iya, Kak, maaf."
"Tak apa, Kakak mengerti. Tak harus pura-pura kuat saat kita berada dalam titik lemah. Menangislah," ujar Kak Dee.
Tapi entah, aku seperti sudah tak mampu menangis lagi. Atau kah, karna aku sudah ikhlas melepasnya, dan menerima Mas Edra, sebagai suami ku.
Aku menggandeng tangan Kak Dee, dan mengajak nya kesebuah tempat yang tak jauh dari pemakaman itu.
"By... Danau nya indah sekali," ucap Kak Dee, terpesona.
"Ini... Salah satu tempat pavorit By, dan Bang bagas dulu."
"Iya? Wah, masih bersih sekali. Andai saja bisa, akan Kakak bagun sebuah vila disini,"
"Sayangnya tidak bisa, Kak. Karna tidak diperbolehkan ada pembangunan disekitar sini demi menjaga keasrian kampung,"
"Ya... Kakak mengerti betul, By."
Aku mengajak nya duduk dipinggir danau, dan menikmati udara disekitar sana.
"Rubby... Kamu pulang? Benar apa yang dikatakan orang-orang. Kamu benar-benar pulang," ucap Bu indah mengagetkan Ku.
"Wah, Bu indah. Iya, By pulang kemarin. Apa lagi yang dikatakan mereka?" tanya Ku.
"Ya... Gosip itu cepat sekali menyebar. Apa benar, kalau kamu disana menjadi pelakor, By?" tanya Bu indah, lembut.
"Seperti itu kah mereka bicara?"
"Kamu seperti tidak faham saja, By. Apalagi, jika yang menyebarkan gosip tersebut adalah Bu lurah."
Aku memengelus dada, dan beristighfar atas semua yang ku alami. Entah bagaimana perasaan Ibu dan Bapak jika mendengar ini. Karna aku sendiri memang sudah memperkirakan sebelumnya.
Mereka berbicara hanya menurut katanya yang lain. Tanpa mau tahu yang sebenarnya, dan tak perduli dengan perasaan orang yang mereka bicarakan.
" Bu... Maaf, saya boleh bicara? " sahut Kak Dee.
" Iya, Ibu siapa?" tanya Bu indah.
"Saya... Istri pertama dari suami Rubby.
__ADS_1
" Hah... Jadi benar, By. Kamu adalah istri kedua? " ujar Bu indah terkejut.