MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Tangis Maliq


__ADS_3

Pov Author.


"Nek, Ibu gimana?" tanya Maliq pada Bu lilis.


"Ibu... Sudah dioperasi, adik Maliq yang sekarang, perempuan. Maliq pengen adik perempuan, kan?"


"Katanya, ibu butuh donor darah. Apakah, Maliq bisa memberikan darah Maliq, Nek?"


"Belum sayang, Maliq belum cukup umur. Ibu sudah banyak dapat bantuan, dari Bapak Halim, dari Om ramlan, dan banyak yang lain. Maliq cukup dirumah saja, bantu ibu menjaga adik. Nenek mau ke Rumah Sakit, gantian sama ayah buat jagain ibu, ya?"


"Iya... Maliq akan bantu jaga adik, supaya tenang, dan tak menangis mencari ibu." jawab Maliq, dengan penuh semagat. Lalu Ia keluar, dan menghampiri Bram, yang sedang asyik bermain bersama robotnya. Sedang sikembar, sedang asyik bersama kartun mereka.


"Ibu mana, Mas?"


"Ibu, pergi sebentar. Besok pulang."


"Ibu kemarin jatoh, berdarah banyak banget. Sakit ngga?"


"Ya sakit lah, makanya dirawat sekarang. Baram jangan nakal, ya. Mas pusing kalau Bram nakal, nanti Mas tinggal nyusul ibu."


"Ish, ngancem..." ledek Bram pada Maliq.


"Dek... Ini kok, kaki robotnya ada? Ketemu dimana?" tanya Maliq dengan heran.


"Ketemu, malem kemarin, ditangga. Tempat ibu jatuh."


"Hah? Tempat ibu jatuh?"


"Iya, Massss. Bram bangun, nyari ibu malem-malem, terus duduk ditangga, tanya ibu sama nenek inah, dan Mba ratih. Terus, Bram nemu kaki robotnya disana. Yaudah, Bram ambil aja." jawab Bram, dengan polosnya.


Malik membolak-balik kaki robot tersebut, dan menemukan bercak darah disana."Ini... Darah ibu?"


Maliq menahan emosinya, melepaskan kaki itu dari robotnya dan membawa kewastafel dapur untuk mencucinya.


"Maliq, kenapa? Kok cuci kaki robot?" tegur Bik inah.


Maliq tak menjawab, tapi langsung bergerak memeluknya, dan tangisnya pecah.

__ADS_1


"Gara-gara kaki robot Bram, ibu jatuh. Gara-gara itu, ibu dirawat, dioperasi, dan kehabisan banyak darah. Gara-gara kaki robot Bram yang suka lepas, ibu tidur lama sekali."


Bik inah membalas pelukanya, dan menepuh bahu Maliq, untuk menenangkan hatinya.


"Hey, anak bujang. Itu semua tak disengaja, Maliq mau menyalahkan siapa? Itu sudah jalannya ibu, bukan salah kaki robot, atau bahkan salah Bram. Maliq tahu itu,"


Maliq tak membalas, hanya meneruskan tangisnya beralaskan daster Bik inah. Bik inah meriah bahu Maliq, dan mendirikanya tegap tepat didepan matanya. Maliq berusaha menoleh dan menghindari tatapan tersebut. Namun, wajahnya diraih kembali, dan menghadap Bik inah dengan tatapam tajamnya.


"Dengar Nenek! Maliq, ngga boleh nangis, nanti ibu kepikiran. Maliq tahu kan, kalau ibu begitu peka dengan perasa'an anak-anaknya?"


Maliq mengangguk, meskipun masih menahan tangisnya.


"Maliq tahu, ibu sekarang sakit, dan jika ibu merasakan jika anaknya disini sedih, pasti ibu akan lebih sakit. Hapus air mata Maliq sekaran, lupakan apa yang telah Maliq temukan. Itu semua kecelaka'an, dan bukan salah siapapun. Mengerti?"


"Mengerti, Nek. Ma'afin Maliq, karna telah berprasangka buruk."


"Iya, tak apa. Hapus air matanya, malu dilihat adiknya nanti. Dikira, Masnya cengeng." bujuk Bik inah, dengan mencolek hidung Maliq.


"Mas kenapa?" tanya Bram, yang tiba-tiba datang.


"Kirain nangis, cengeng."


"Enak aja. Bram tuh, yang cengeng. Udah, ayok lajut mainnya." ajak Maliq, menarik tangan Bram.


Pov Edra.


"Sudah Tiga hari, By tidur disini, Sayang. By ngga capek? Anak-anak udah nanyain Ibunya dirumah, terutama si kembar. Buka matanya sayang, Dedek bayi nangis, minta peluk ibunya. Bukanya, By benar-benar pengen punya anak perempuan, kenapa setelah lahir, malah ditinggal tidur. Kasihan, Dedek belum punya nama." rayuku pada Rubby, yang masih saja terpejam dan tak bergerak sama sekali.


Diruangan yang hening itu, tak ada suara lain. Hanya suara monitor, dan suaraku saja disana. Aku terus merayunya, mengiba, dan bahkan sempat memarahinya, untuk merangsang kesadaranya. Namun, tak kunjung berhasil.


Aku rindu tawanya, cerianya, cerewetnya, marahnya, bahkan aku rindu cubitanya yang keras, hingga menyentil ke ginjalku itu.


Ada apa denganya? Kenapa seolah tak ada semangat untuk bangun. Apa yang salah sekarang.


"Dra... Istirahatlah, biar Ibu yang gantian menunggu nya disini."


"Iya, edra izin kekantor sebentar. Ada beerapa file yang harus edra tanda tangani langsung. Jika ada apa-apa, segera telpon ya, Bu."

__ADS_1


"Iya... Pasti akan segera Ibu kabari." jawab Ibu.


Dengan berat hati, ku tinggalkan Rubby yang masih terbaring disana. Hanya sebentar saja, itu janjiku.


Ku pacu Terios kesayanganku. Kendara'an yang menjadi saksi, semua perjuanganku, dari awal bersama Diana, hingga sekarang bersama Rubby dan Lima anak kami.


"Selamat siang, Pak. Ma'af mengganggu, karna ini benar-benar harus dengan tanda tangan Bapak." ucap Gusti padaku.


"Iya... Tidak apa-apa, terimakasih, kalian telah menjadi wakil saya beberapa hari ini. Dan kamu gusti, saya berhutang nyawa denganmu."


"Ah, itu biasa, Pak. Saya memang terbiasa mendonorkan darah, dan kebetulan darah ibu dan saya cocok."


"Iya... Sekali lagi terimakasih," ucapku padanya.


Beberapa file, sudah ku kerjakan. Aku beristirahat sebentar disofa kantor, memejamkan mataku sejenak, seraya menunggu kabar dari ibu mertuaku. Semoga ada kabar baik setelah ini.


Pov Author


Bu lilis dengan telaten, membersihkan wajah putri kesayanganya, menyisir rambutnya, dan mengusap keringatnya.


"Bangun, Sayang... Kenapa lama sekali tidurnya? Apakah, By belum bertemu Kakak? Jika sudah, kembali lah Nak. Jangan ikut, Kakak sudah tenang disana, anak-anak menunggumu." rayu Bu lilis, dengan mengusap tangam Rubby.


Sesuatu terjadi ketika Bu lilis selesai berbicara. Suara monitor mengeras, dan gerakanya semakin cepat. Rubby menghela nafas panjang beberapa kali.


Bu lilis memencet tombol darurat untuk memanggil dokternya, dan tak lama kemudian dokter idan beberapa perawat pun datang, dan langsung memeriksa kondisi Rubby, dari jantung, nafas, dan tekanan darahnya.


Bu lilis menyingkir agar tak mengganggu semua prosesnya, lalu meriah Hp untuk menelpon dan memberitahu edra tentang keada'an Rubby.


"Hallo, Dra?"


"Iya, Bu... Ada apa?"


"Rubby, Nak. Rubby kritis lagi, sekarang dokter sedang memeriksanya. Rubby sempat menghela nafas panjang beberapa kali. Dan sekarang, belum tahu bagaimana."


Edra begitu panik, langsung mematikan telpon tanpa berkata apa-apa lagi, lalu melaju kencang ke Rumah Sakit.


"Astaghfirullah, kenapa lagi, By? Kenapa lagi, sayang?"

__ADS_1


__ADS_2