MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Kampung halaman


__ADS_3

Seseorang yang menegurku ternyata masih saudara Bu lurah dari kampung. Tak ku sangka Ia mengenaliku walau jarang bertemu. Ia terlihat ramah, tapi aku tak tahu, ada apa dibalik keramahan nya itu.


"Mba Wiwit, apa kabar? Masih paham sama Rubby meskipun jarang ketemu," sapa Ku.


"Iya dong... Kamu, mau pulang kampung By?"


"Iya, Mba. Kebetulan Sama Kak Diana,"


"Siapa itu?"


"Majikan By dari kota, Dia mau jalan-jalan sekalian silaturahmi sama keluarga dikampung,"


"Kamu jadi Babu, By?" tanya Mba Wiwit.


"Jadi perawat pribadi, Mba."


"Oh... Bagus lah. Ramlan bagaimana?" tanya Nya padaku.


"By ngga tahu, Mba. Kok Mba nanya ke saya?"


"Lah... Mba denger katanya sejak kamu ngga jadi nikah, kamu sama Ramlan?"


"Kata siapa?"


"Kata Ramlan, bahkan katanya mau nikah?" balas Mba wiwit lagi.


"Siapa yang mau nikah, By?" sahut Kak Dee, dengan berjalan menghampiri kami.


"Maaf, Bu. Saya dapet berita jika Rubby mau nikah sama keponakan saya, Ramlan."


"Tapi, Rubby sudah menikah." balas Kak Dee.


"Hah... Dengan siapa?" Mba wiwit terkejut.


"Mba, maaf sebelumnya. Saya dan Bang Ramlan ngga ada hubungan apa-apa. Dan Kak Diana benar, kalau saya sudah menikah," imbuh Ku.


"Kamu nikah sama siapa, By? Kok ngga undang-undang, ngga ada pesta?"


"Pesta nya dikota, Mba. Cuma Bapak sama Ibu yang datang,"


"Owh.... Suami kamu, Orang kota? Kerja apa? Perawat kayak kamu?"


"Engga, Mba. Suami saya-,"


"Suami Rubby adalah direktur utama di Pratama's grup." sahut Kak Dee lagi.


"Oh... Kamu bukan jadi simpenan kan By? Bagaimana bisa seorang gadis kampung menikah dengan direktur,"


"Maaf, Mba. Kami disini buat makan. Jadi, tolong jangan ganggu mood kami." kata Kak Dee.


"Saya cuma nanya, Bu."


"Itu bukan pertanyaan, itu Bullian. Emang ngga ada pertanyaan lain? Atau mendoakan yang terbaik?" tegur Kak Dee.


"Saya cuma nanya, Bu."


"Itu ngebully, bukan nanya."


Aku hanya terdiam bingung menatap mereka yang sedang adu argumen.


"Stop, Mba Wiwit. Saya sudah menikah, dan saya menikah dengan suami Bu Diana, puas?" bentak Ku, karna kesal.

__ADS_1


"Kan... Ujung-ujungnya jadi pelakor," balas Mba wiwit.


Aku menghela nafas panjang, dan menarik lengan Kak Dee pelan.


"Kak, lanjutin makan aja. Bentar lagi minum obat,"


"Heh... Jadi istri kedua aja sombong." gumam Mba wiwit.


Aku tak ambil pusing dengan semya ocehan nya. Yang saat ini kau fikirkan adalah kesehatan Kak Dee, karna aku takut Ia kelelahan saat perjalanan jauh.


"Ini, Kak obatnya,"


"Makasih, By. Kamu tak sakit hati dengan omongan tadi?"


"Ada yang lebih memyakitkan dari itu, Kak. Mba wiwit belum seberapa, lagian memang kenyataan jika By istri kedua 'kan?"


"Iya... Istri kedua, sekaligus kesayangan kami," balas Nya.


Aku tersenyum, tersipu malu dengan perkataan itu, meskipun sudah sering kali ku dengar.


"Berapa lama lagi kita sampai, By?"


"Sekitar dua jam lagi, Kak. Masih kuat kan?"


"Iya... Kakak begitu bersemangat sekarang. Sampai rasanya, Kakak lupa jika sedang sakit."


"Bagus lah, tapi kalau udah mulai ngga enak badan, Kakak harus bilang ya,"


"Iya, By."


Kami melangkah lagi kembali kemobil, setelah Mas Bima sudah menghabiskan makanan nya, dan istirahat sebentar.


"Bisa, Non. Yang penting sudah ngerokok sama ngopi." jawab Nya.


Kembali Mas Bima memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, agar lebih cepat sampai. Dan untungnya, aku bukan lah orang yang gampang mabuk kendaraan sehingga perjalanan ini aman.


Satu setengah jam berlalu, kami sudah melewati Rumah sakit kecil tempatku dulu bekerja.


"Kak, lihat itu. By dulu kerja disana," tunjuk Ku.


"Rumah sakit nya kecil, tapi sepertinya ramai ya,"


"Ya, lumayan Kak. Karna itu lah tempat kami berobat selain ke bidan atau mantri desa.".


"Rumah sakit besarnya jauh?"


"Jauh, Kak. Ditempat kita mampir makan tadi,"


"Wah... Jauh banget ya,"


Aku memperkenalkan semua isi perkampungan ku, terutama semua yang kami lewati saat itu hingga tak terasa, Kami telah sampai dikampung, dan disambut oleh Ibu dan Bapak.


Mereka begitu bahagia, terlihat jelas dari rona wajah mereka. Aku turun dan langsung memeluk kedua nya.


"Pak, Ibu... Kangen," ucap Ku manja.


"Kami juga kangen sayang, mana Diana?" tanya Ibu.


"Itu, dimobil, sebentar ya Bu."


Aku menghampiri Kak Dee didalam mobil, yang ternyata sedang mimisan.

__ADS_1


"Ya Allah, Kakak mimisan lagi?"


"Iya, By. Tapi ngga papa Kok, yuk ketemu Bapak sama Ibu," ajak Nya, kembali menggandeng tanganku.


Kak Dee, menyalami orang tua ku dengan senyum ramahnya. Mereka saling sapa dengan akrab. Hingga akhirnya, Ibu menggandengnya masuk kerumah.


Melihat mereka bercengkrama dengan akrab, dan tak ada canggung sama sekalai. Aku yang awalnya ingin istirahat, justru bergabung untuk bersenda gurau bersama mereka. Membicarakan perjalanan kami, dan apa saja yang kami temui selama perjalanan.


Semua lelalhku hilang, hanya rindu yang membuatku kembali bermanja dengan Ibu. Sebenarnya ingin mendekap Bapak, tapi aku malu karna aku sudah bersuami sekarang. Aku takut diledek Kak Diana.


"By... Sudah malam, ayo ajak Kakak mu masuk dan istirahat." pinta Ibu padaku.


"Iya, Bu. By juga capek pengen tidur,"


Aku mengecup pipi Ibu, dan menggandeng Kak Diana untuk kekamar.


"By...."


"Iya, Kak?"


"Ini, foto Bagas?" tunjuk Kak Diana pada sebuah foto yang lupa ku simpan.


"Owh... Maaf Kak, By lupa simpan,"


"Ganteng juga kekasih Mu," ledek Kak Dee.


"Iya, Kak. Paling ganteng dimata By, tapi itu dulu," jawab Ku tersipu malu.


"Sekarang... Mas Edra kan yang terganteng?"


Aku menyilak kan rambut ku kebelakang, menahan senyum dan menunduk kan kepala.


"I... Iya, Kak,"


"Ngga usah malu, itu kan suami mu. Wajar aja, dimata Kakak juga Mas Edra yang paling ganteng."


"Hehe... Suami kita, Kak,"


Aku membiarkan Kak Dee merebahkan tubuh nya diranjang, dan Aku melepas satu persatu foto Bang bagas didinding kamarku.


By lepas ya, Bang. Maaf lama karna Ibu ngga berani mewakili By membuka nya. Sekarang By udah nikah. Jadi, By harus menghormati suami By.


"By..."


"Kakak belum tidur?"


"Enak ya, punya Ibu. Bisa dipeluk dan dicium saat mau tidur,"


"Kakak mau dipeluk, mau dicium? Sini, By yang peluk cium," ucap Ku, dengan menghampiri nya.


Aku memberikan kecupan ku untuk nya, namun Ia tangkis dengan tangan.


"By,. Apa-apaan? Geli,"


"Katanya mau peluk cium,"


"Ngga sama kamu juga...."


"Sama aja," ujarku terus memaksa.


Kami terus bersenda gurau, hingga akhirnya terlelap bersama.

__ADS_1


__ADS_2