MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Bahagiaku


__ADS_3

Kehidupan kami semakin bahagia, setelah kelahiran sikembar, yang menambah ramai keluarga kami. Aku ingin mempunyai Satu anak perempuan lagi, namun Mas edra sempat melarangnya.


Mas edra begitu cemas, dan tak tega, ketika aku masuk kedalam ruang operasi tersebut, dan Ia pun tak bisa menemani karna dokter melarangnya. Terlebih lagi, ketika aku bercerita, bahwa aku seperti melihat Kak Dee, ketika proses Operasi selesai. Ia sempat takut, jika Kakak datang untuk menjemputku.


"Kenyata'anya kan engga, Mas. Kakak cuma menyapa si kembar." jelasku padanya.


"By... Mas tahu, hubungan kalian begitu erat, bahkan Mas sempat merasa tak diperhatikan ketika itu. Sangking erat nya hubungan kalian, bahkan By sempat terobsesi menjadi Kakak, bukan? Makanya, wajar kalau Mas takut, jika Kakak pun akan menjemputmu."


"Ish... Apalah Mas nih. Terlalu khawatir, dan suudzon sama Kakak."


"Bukan begitu sayang.... Ah sudah lah, setidaknya, kita urus dulu yang ada. Mereka sedang butuh perhatian lebih sekarang. Terutama Maliq, yang sebentar lagi masuk sekolah,"


Si kembar sudah berusia Dua tahun sekarang. Dan Maliq, sudah Enam tahun lebih, Brama pun Empat tahun. Mereka ku masukan ke sekolah yang sama, agar tak repot bolak balik, karna aku sendiri yang mengantar dan menjemputnya disekolah.


Si kembar yang semakin aktif, begitu nyaman dirumah bersama Bik inah dan Bik Ratih pengasuh mereka. Sehingga, aku pun lebih leluasa meninggalkan mereka ketika harus kekantor mau pun ke yayasan.


Berbicara tentang yayasan Kakak, sekarang sudah semakin berkembang, dan memiliki beberapa anak cabang di berbagai daerah, dan sudah banyak donatur, yang ikut membantu para saudara kami disana.


Hari ini, aku sedang duduk memeriksa lembaran demi lembaran laporan dikantor, hingga sebuah telepon memanggil..


"Hah, kepala sekolah, Maliq dan Bram?" gumamku, lalu menjawab telpon itu.


"Hallo, Bu anjas. Ada apa, bukanya belum waktunya pulang?" tanyaku padanya.


"Iya, Bu... Begini, tadi Bram dan Maliq terlibat sebuah perkelahian kecil dengan temanya. Jadi, Maliq sekarang terluka, dan Bram, belum berhenti menangis hingga sekarang."


"Apa, Terluka? Terluka bagaimana? Parahkah, sebentar lagi, saya kesana." jawabku, lalu menutup telpon itu.


Aku secepat kilat, berlari menuju mobil, dan meminta Mas bima mengantarku.


"Kesekolah, Mas."


"Iya, Nyonya...."

__ADS_1


Mobil melaju cepat, aku cemas, danhjhhnjjjjkkko9 sedikit ada rasa marah dalam hatiku, bertanya-tanya, kenapa Maliq ku bisa berbuat itu.


Sesampainya disekolah, aku segera menghampiri mereka diruangan Jepala Sekolahnya.


"Ibu...." panggil Bram, sedang Maliq, hanya duduk diam, memegangi pelipisnya yang terluka.


"Bram, sayang, kalian kenapa?" tanya ku padanya.


"Mas Maliq, Mas Maliq berantem." tunjuk Bram yang masih bersekolah di PAUD itu.


"Bu... Tadi, Maliq itu memarahi seorang teman, yang meledek Bram sebagai anak manja. Tapi, yang namanya anak-anak belum bisa mengontrol emosi, jadinya begitu. Mereka berkelahi sebentar." ujar Sang kepala sekolah.


Aku mendekati Maliq, dan duduk disampingnya, menggenggam tanganya, dan mencolek dagu nya agar menatapku.


" Maliq, ada apa?" tanya ku.


"Apa... Maliq salah, jika Maliq membela adik Maliq sendiri. Apa... Maliq harus diam saja, ketika Bram dibully, Bu?" ucapnya, pelan.


"Tidak... Maliq tidak salah, Maliq membela adik Maliq, Ibu bangga. Tapi, caranya salah Nak. Tidak semua selesai dengan cara kekerasan. Justru akan menambah masalah nantinya. Dan itu.... Luka pun Maliq dapat sekarang."


"Anak ini? Sifat Kak Dee, menurun padanya. Aku menyukainya, namun harus membimbingnya, agar tak salah menafsirkan tindakan yang akan Ia ambil dikemudian hari."


"Maliq... Rasa sayang Maliq pada Bram itu sangat besar, sehingga Maliq ingin benar-benar melindunginya. Tapi, melindungi orang itu, tak lantas harus dengan menyakiti diri sendiri. Maliq faham? Terkadang, kita harus mengalah agar semua tak menjadi semakin masalah, bukan karna kalah."


Maliq hanya mengangguk, Pria kecilku ini baru berusia Enam tahun, tapi sudah bisa membela diri sendiri dan adiknya.


"Sekarang? Mana teman Maliq yang tadi?" tanyaku.


"Dia, ada diruang sebelah, bersama Mamanya. Karna belum berhenti menangis sampai sekarang. Mau bertemu denganya?" tanya Bu Anjas.


Aku mengangguk, dan Bu anjas mengantarkan ku pada mereka.


"Ibu ayu... Ini, Ibu nya Maliq ingin bertemu." panggil Bu anjas padanya.

__ADS_1


Ia berdiri, dan menatapku sewot, seolah aku adalah orang paling berdosa didunia ini.


"Oh... Ini, Ibu anak berandalan itu. Pantas saja, Orangnya kampungan, mendidik anak pun tak becus." ucapnya.


Aku hanya tersenyum, tak mau memperpanjang masalah ini.


"Maliq, minta ma'af lah sama teman Maliq." pinta ku.


"Tapi... Maliq ngga salah,"


"Ingat kata-kata Ibu tadi?" balasku.


"Iya..."


Maliq pun menghampiri temanya, dan mengucapkan kata ma'af, dengan berjabat tangan. Dan anak itu pun menerimanya.


"Ya iyalah minta ma'af, yang salah dia. Palingan, nanti kumat lagi. Calon preman pasar kayaknya." hina nya pada anak ku.


"Iya... Kami memang berasal dari kampung, sehingga kelakuan kami pun kelakuan kampung. Tapi, setidaknya, saya ajarkan anak saya untuk tak membully temanya, karna keada'an, atau apapun itu. Dan tadi, bukankah Ia hanya membela adiknya?"


"Maksud anda? Anak saya yang salah? Sembarangan.... Udah jelas-jelas, anak situ yang minta ma'af, berarti anak situ yang salah." bentaknya padaku.


"Maliq... Maliq faham kan, kenapa Ibu meminta Maliq meminta ma'af duluan, meskipun tak salah? Coba lihat temanmu itu, meskipun sudah satu jam lebih, tapi Ia tak kunjung berhenti menangis. Tak seperti Maliq dan Bram, yang meskipun terluka, namun tak menangis. Itu artinya, Maliq lebih kuat dari Dia." ucapku padanya.


"Iya, Bu.... Maliq tahu sekarang." jawabnya, dengan memberi senyum padaku.


Aku tahu, ketika aku berjalan meninggalkanya, Ia mengumpatku dari belakang, namun aku tak menghiraukanya. Biarkan saja, tak perlu kudengarkan. Aku hanya kembali berjalan, menggendong Bram, dan menggandeng Maliq.


Pov Author.


"Dia kira... Dia siapa hah? Sok elegan dihadapanku, dasar kampungan. Cuma modal tas KW, dan make up natural aja, sok gaya didepan saya. Ngga tahu saya siapa? Suami saya adalah Manager di Pratama's group, perusaha'an terbesar dikota ini." gerutu wanita itu.


"Tapi... Sayangnya beliau adalah Istri dan anak dari Bapak Aledra Pratama. Bos dari suami anda." sahut, Bu anjas.

__ADS_1


Wajah wanita itu seketika pucat, dan tubuhnya gemetar. "Ngga mungkin," lirihnya.


__ADS_2