
"Biasanya, Ibu boking satu salon seharian. Kenapa antri?" tanya Mba dina, karyawan langgananku.
"Engga... Kasihan aja sama yang udah ngantri lama. Sama yang udah terlanjur dikerjain. Masa Iya, mereka keluar dalam keada'an compang-camping." jawabku.
"Iya...." jawabnya, dengan tawa.
Aku membaca beberapa majalah, namun mereka tetap saja membicarakanku. Aku mulai kesal, ingin menutup mulut mereka. Tapi, sudah dijawab lebih dulu oleh yang menanganiku.
"Ibu-ibu ini kenapa? Ngurusin nama anak orang. Biar jadul, tapi artinya bagus, penuh makna. Coba kalian, ngasih nama Bule keren gitu. Emang tahu, artinya apa? Makna nya gimana? Setiap orang punya selera yang beda, Bu."
"Ya... Tapi, kan, ngga sejadul itu. Terus, anaknya banyak banget."
"Baru juga Empat, Bu. Mereka pengenya lebih banyak lagi, biar rame. Mereka ngga perlu anak tunggal, karna mereka maunya, satu anak, satu perusaha'an, ngga kayak kalian, yang cuma satu-satunya. Terus, jangan suka bilang repotnya orang.... Ibu Rubby ini, Satu anaknya satu perawat. " balasnya lagi.
Mereka semua diam, mencolek satu sama lain, sedang aku hanya tersenyum puas dengan jawabanya.
"Bu... Adi laper," rengeknya.
"Mau makan apa, sayang? Bayu juga?" tanyaku.
"Makan ayam boleh?" sahut Bayu.
Aku mengangguk, dan memesan via delivery order. Lalu, tak kelang berapa lama, pesanan pun datang.
"Mba dina... Ini tinggal bilas lagi 'kan? Saya tinggal nyuapin mereka, ya?"
"Iya, Bu... Silahkan, nunggu Lima belas menit lagi, agar cat rambutnya kering." jawabnya.
Aku sengaja mengecat rambutku sedikit coklat, agar sama dengan Mas edra, yang beberapa waktu lalu ku ganti warna cat rambutnya. Meskipun diluar aku berhijab, tapi dirumah, aku harus terlihat lebih memikat untuk suami tercintaku.
Aku turun sebentar, dan duduk bersila dilantai, menyuapi kembarku bersama'an.
"Tuh... Orang kaya asli masih bisa ngurus anak sendiri, meskipun banyak. Ngga kayak kelean, satu anak aja dititipin di Play group, biar bisa nyalon." omel dina, pada mereka lagi.
Semua orang yang ada disana tertawa, dan Mereka bertiga, hanya tertunduk malu sekarang. Mungkin, jika tidak sedang perawatan, mereka akan langsung pergi dan tak akan pernah kembali ke salon itu lagi.
Selesai semua perawatanku, aku kembali kemobil, untuk menjemput punggawa ku yang lain. Memeluknya erat, ketika mereka memberitahu ku, hasil ujian mereka masing-masing, dengan nilai yang memuaskan.
Bahagia yang kurasakan sa'at ini, ketika seamua keinginan ku terkabul, dan mereka ada disisiku. Kurang apa lagi? Aku tak usah terlalu mengharap lebih. Hanya berdo'a, jika memang benar diberi, maka aku akan lebih bersyukur. Jikalau tidak pun, aku akan menikmati semua yang telah diberikan padaku sa'at ini.
Lima bulan dari itu semua, aku menjadi semakin sibuk, karna perusaha'an Kak dee, yang ku kelola akan membuka cabang baru diluar kota. Aku terpaksa turun tangan sendiri, karna Mas Thomas dan istrinya sedang mengurus yang lain, yang lebih penting.
__ADS_1
Ini pertama kali nya aku jauh dari anak-anak, harus menahan rindu selama beberapa minggu. Tapi, tak apa, toh ini untuk masa depan mereka.
"Rika... Hari ini, kita pulang 'kan?" tanya ku, pada assisten ku.
"Iya, Bu.... Sore nanti, karna masih ada jadwal sedikit." jawabnya.
Tak apa, sore ataupun malam. Yang penting aku akan pulang, dan bertemu dengan anak-anak dan suamiku. Tak tahan rasanya menahan rindu.
*
Pekerja'an selesai, Rika membantuku membereskan semua pakaian, lalu berangkat pulang.
"Ibu kenapa? Mabok?" tanya rika, yang melihatku pucat dan lemas.
"Hhh? Ngga tahu lah, puyeng, mual. Lemes banget rasanya," rasaku ketika itu.
"Tumben Ibu mabuk... Kecape'an, atau masuk angin kayaknya." ujar Rika padaku.
Aku tak sampai muntah, hanya lemas, namun tak mampu memejamkan mata. Sehingga bertambah lelah rasanya.
*
Kami sampai dirumah malam hari, para punggawa menyerbu untuk mencium dan memeluk ku, namun pelan-pelan ku tolak. Perasa'an ku yang tak karuan, semakin menjadi, ketika bau badan mereka yang bercampur, menusuk hidungku.
"Ayah shalat isya, tadi kami berjama'ah duluan sama Mas." jawab Bram.
"Iya... Pinter semua anak Ibu," pujiku, dengan mengusap kepala mereka.
Aku naik keatas, meskipun terhuyung-huyung. Melangkahkan kakiku dengan begitu pelan, hingga butuh waktu Lima Belas Menit untuk sampai kekamar.
Aku tak mengucapkan salam, karna kufikir, Mas edra sedang khusyu berdo'a, lalu kurebah kan tubuhku ke ranjang dengan kasar.
Bruuugh! Dan lumayan membuat Mas edra terkejut.
"Sayang... Kenapa? Kok masuk ngga salam?" ucapnya seraya mendekatiku.
Semakin dekat, semakin ku cium aroma tubuhnya. Begitu memuakkan, aku membenci bau ini.
"Mas... Jangan deket-deket, Mas bau banget." ucapku padanya.
"Bau apa? Mas baru mandi sama shalat, gimana bisa bau? By tuh, yang bau. Mandi dulu sana,"
__ADS_1
"Engga.... Males mandi, tidur aja." balasku. "Mas, tidur sama anak-anak, jangan disini. Bau Mas ngga enak!"
Pov edra.
"Astaghfirulllah, kesambet apalah istriku ini. Pulang dari luar kota malah begini." gumamku sendiri.
Aku melangkah dengan rasa heran dan bertanya-tanya, apa gerangan yang menimpa Rubby kali ini. Karna tak biasanya Ia membenciku seperti jtu. Biasanya, Ia paling menyukai aroma tubuhku, terutama sesudah shalat.
Aku pergi kekamar Maliq, kamar bekas Diana, yang kami sulap untuknya. Ia sendiri yang meminta kamar itu pada kami, karna menurutnya nyaman disana.
"Ayah, kenapa kesini? Ngga tidur sama Ibu?" tanya nya, yang sedang belajar.
"Engga... Pengen nemenin Maliq belajar aja."
"Udah selesai, kok..."
"Hmmm? Ayah tidur sini, boleh?"
"Boleh lah..." ucapnya dengan bahagia, lalu berbaring disampingku.
"Yah... Tadi, Ibu aneh,"
"Aneh kenapa?"
"Masa mau muntah, ketika kami peluk. Padahal kan, kami rindu."
"Ibu kayaknya mabuk, karna kecape'an kerja, dan perjalanan jauh."
"Ibu ngga pernah mabuk sebelumnya. Padahal, rumah nenek lebih jauh."
"Beda, sayang. Sudah, tidurlah, besok telat bangun malahan."
"Iya," balasnya, lalu memejamkan mata.
Paginya, aku mandi dan bersiap kekantor. Kubangunkan Rubby dengan kecupan ku.
"Mas.... Apa'an sih, males lah. Pago-pagi ganggu," dorongnya padaku.
"Mas cuma nyapa, sama nyium."
"Tapi, By ngga suka... Udah sana berangkat kerja. Sekalian ajak anak-anak, By mau tiduran. Capek banget." omelnya padaku.
__ADS_1
Aku hanya menurut, namun masih bertanya-tanya.
"Apa ada sesuatu denganya? Kenapa seperti menghindariku. Kenapa... Perasa'anku tidak enak?"