MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Rubby tukang makan


__ADS_3

"By sudah tidur?" tegurku.


"Ngantuk, Kak. Penyakit banget, kalau abis makan kekenyangan gini, pasti ngantuk." jawab nya.


"Besok ke Danau yuk, Mas kan buat proyek disekitar sana."


"Iya... Besok ke danau, kemana aja By turutin. Tapi, sekarang tidur dulu ya, Kakak kan capek." ucapnya padaku, tanpa membuka mata.


"Iya... Selamat tidur,"


"Hmmmh," balasnya.


Aku ditinggal berdua dengan By dikamar, dan Mas edra tidur diluar bersama Halim dan Bapak.


*


*


*


"Dee, sarapan dulu." ajak Ibu padaku, pagi ini. Seusai aku menemani By jalan pagi keliling kampung.


"Iya, Dee mandi dulu ya, Bu." pamitku padanya, sedangkan By, ternyata sudah mendahului kami dimeja makan.


*


"By... Daritadi Kakak mandi sampai selesai belum juga udah makanya?" tegurku.


"Tadi udah, tapi lihat Ibu ngeluarin tempe goreng jadi kepengen. Lagian ini bukan makan, Kak. Tapi ngemil," jawabnya dengan santai.


Memang, sejak periksa beberapa waktu lalu, Ia seperti diberi obat penambah nafsu makan oleh Dokternya. Karna mereka bilang Bayinya masih terlaku kecil di usia Enam bulan. Sehingga sekarang Ia seperti ini.


"Kak... Emang kenyang makan bubur terus?" tanya nya.


"Kenyang ngga kenyang sih, itung-itung diet lah."


"Diet apa'an udah kurus gitu," celetuknya.


"Kakak... Jelek ya?" tanyaku.


"Engga jelek, tapi kalo pas jalan sama By, kayak angka Sepuluh ngga sih? Tengok lah, By udah bulet sekarang." jawabnya.


"Namanya juga lagi hamil besar. Ayo lah, ke danau. Mas nungguin," ajak ku padanya.


Kami mengendarai motor pelan, dengan Rubby yang menyetir.

__ADS_1


"Hati-hati lho ya. Tadi pakai mobil ngga mau," omelku.


"Deket sini lah, ngapain pakai mobil." balasnya.


Aku hanya diam memboncengnya, dengan terus menatap kedepan. Hingga kami sampai ditempat tujuan.


"Dee, Rubby... Kenapa pakai motor? By pula yang bawa." tanya Mas edra menghampiri kami.


"By ngeyel, mau bawa motor aja katanya." balasku.


"Kan udah By bilang, pakai mobil ribet." sahut Rubby.


"Iya... Tapi ngeri," jawabku lagi.


"Udah lah, jangan debat. Nanti pulangnya diantar aja. Sapa tuh, Ramlan sama Maya disana."


Aku melangkah berat untuk menghampiri mereka. Aku tidak dendam, hanya saja sedikit aneh, sa'at  Dua orang yang saling mengejar orang lain menjadi satu. Maya mengejar Mas edra, dan Ramlan mengejar By. Dan mereka sempat menganggapku sebagai musuh. Tapi aku harus bersikap biasa saja sekarang.


"Hay May, apa kabar?" sapa ku.


"Mba Diana? Maya... Kabarnya baik, alhamdulillah," jawabnya penuh senyum. Sedang Rubby, seolah masih kesal padanya, dan malas untuk ikut menyapa.


"Mas... Kak, itu ad perahu, naiklah." ajak nya.


"By aja naik sama Kakak, Mas mau kerja ah,"


Aku menghela nafas, menuruti kemauan Rubby, dan menggandeng Mas edra untuk naik perahu itu.


Pov Author.


Rubby duduk ditepian danau, menatap suami dan Madunya berdua naik perahu hingga ketengah jauh. Namun masih dalam pandanganya.


"Benar-benar serasi. Mereka saling melindungi dalam diam. Terlihat biasa saja, namun saling mengistimewakan. Tampak tak perduli, tapi perhatian dalam setiap langkah satu sama lain." gumamnya.


Rubby meraih Hp nya, dan diam-diam memotret kebersama'an mereka disana.


"Hmmm, cantik fotonya. Diprint, udah itu dipajang dirumah, bagus ini." ucapnya, dengan memperhatikan beberapa foto.


"By..." sapa Maya menghampiri.


"Mba... Maya, Kenapa mba?" tanya Rubby dengan wajah gugup.


"Kamu tidak cemburu melihat mereka?"


"Ngapain cemburu? Engga sama sekali." jawabnya.

__ADS_1


"By, Mba minta ma'af ya, karna sempat ingin menghancurkan rumah tangga kalian. Kamu tahu alasanya?"


"Iya.. By tahu, Kak Dee yang cerita. Mba maya pun sebenarnya ngga mau 'kan diposisi itu? Malah By yang nikah sama majikan By sendiri jadinya. Kadang hidup ini memang aneh," tawanya.


"Tapi By ikhlas kan? Diana itu orang baik. Sangat baik, bahkan sampai bingung, mau gimana cara membalas kebaikan nya. Cuma do'a saja, agar sakitnya segera sembuh."


"Aaah... Iya, Aamiin. Terimakasih do'anya. Mba sendiri sama Abang gimana? Cocok?"


"Hmm, alhamdulillah. Dari segala segi, kami cocok. Hanya tinggal pendekatan. Semoga, seiring berjalanya waktu, takdir mempersatukan, kalau memang jodoh." ucap Maya, penuh harap.


"Do'a terbaik buat kalian," balas Rubby.


Edra dan Diana terlihat mendekat, kembali kepinggiran danau, dan menuju Rubby.


"Udah, Kak? Cepat sekali?" tanya Rubby.


"Ditengah sana panas banget, capek." jawab Diana.


"Capek ngapain? Orang Mas juga yang ngedayung," sahut Mas edra.


"Capek duduk, Mas. Mas masih lama kerjanya?"


"Masih... Kalian pulang aja, biar Ramlan antar pakai mobil. Nantu motor dibawain yang lain. Kasihan, Bayinya keguncang guncang pakai motor."


"Iya... Yaudah, Abang mana? By rasanya laper."


"Hah? Laper lagi?" ucap Diana, keheranan.


*


Mereka sampai dirumah, lalu duduk dipinggiran teras untuk menikmati pemandangan.


"Kak? Kakak ngga ada apa saudar gitu, yang bisa dan mau transplantasi sumsum?"


"Kalau ada, udah dari dulu Kakak smebuh, By. Sekian banyak saudara dari pihak Ayah dan Ibu, ngga ada yang cocok. Giliran cocok, udah tua, terus, diabetes. Yaudah, nasib Kakak."


"Hmmm, yang lain gitu? Siapa tahu, masih ada mukjizat. Atau kalau mau periksa By, bisa."


"Kakak udah capek. Nyari pendonor juga ngga mudah. Mas edra tuh, udah kemana aja cari info. Sanak saudara, deket, jauh. Semuanya di cek, tapi ngga ada yang pas. Kalau kamu lihat sekarang, Mas edra banyak diam, itu bukan karna tak perduli. Kita ngga tahu, apa yang ada dalam fikiran orang yang diam, By. Padahal, Kakak tahu, sampai sekarang, Ia masih mengusahakan kesembuhan Kakak. Hanya saja, Kakak yang sudah terlalu lelah."


"By fikir, Mas edra emang cuek gitu. Tapi By ngga berani terlalu banyak nanya. Cuma takut aja, takut difikir kalau By terlalu ikut campur urusan pribadi kalian."


"Lah... Urusan Kakak dan Mas itu urusan kamu juga. Itu berlaku, sejak kamu masuk kedalam keluarga kami." jawabnya tegas pada Rubby.


Mereka mengakhiri pembicara'an, lalu menuju kedapur, untuk membantu Bu lilis dan Fitri memasak untuk acara Tujuh bulanan Rubby.

__ADS_1


"Ngga papa kan ya, kalau Tujuh bulanan, tapi belum pas Tujuh bulan." tanya Rubby.


"Ngga papa, ini kan syukuran aja. Ngga terlalu terpacu ke Tujuh bulanya," jawab Ibu Lilis.


__ADS_2