
Mas Edra membimbingku untuk tidur dikamar, dilanjutkan Kak Dee yang datang membawa makanan dan menyuapi ku.
"By... Mas keruang kerja dulu, ya. Masih banyak kerjaan soalnya,"
"Iya Mas, makasih ya," jawab Ku.
Sedikit demi sedikit makanan masuk ke mulutku, dibubuhi sedikit omelan dari Kak Dee.
"Sakit ngga kaki nya?"
"Sakiiit, perut By keram rasanya," jawab Ku.
"Kakak udah bilang, Mama ngga usah diturut. Begini kan jadinya,"
"Iya Maaf... By kira dengan nurut gini. Kan, perlakuan Mama mirna bakalan berubah baik terus sayang sama By,"
"Mama mirna sayang... Sayang sama cucu nya, bukan sama kamu. Dimatanya kamu itu tetep.... Ya, seperti yang dia sering bilang lah."
"Iya Kak... By aja hampir jatoh tadi, untung ada yang nopang dari belakang."
"Untung ngga jadi... Besok-besok, kalau diajak tolak aja deh. Biar Kakak ngomong,"
"He'em.... Eh, Kak... Kakak nyuruh orang buat ngawasin By 'kah?" tanya Ku.
"Engga... Kenapa?"
"Tadi pagi Kakak bilang, bakalan tahu apa yang terjadi?"
"Ooh itu... Kebetulan, salon. Sama butik langganan Mama itu punya sahabat Kakak. Jadi banyak tempat cari info kalau ada sesuatu yang ganjal."
"Terus... Yang tadi ngikutin siapa?"
"Ngikutin gimana?"
"Tadi pagi, ada yang ngikutin mulai dari gerbang depan sampai ke mall. Cowok tinggi, pakaian serba hitam. By kira, itu orang suruhan Kakak."
"Mana ada... Siapa ya, orang Mama mirna juga ngga akan mungkin. Buat apa?"
"Ngga tahu..." jawab Ku dengan menaik kan bahu.
"Yaudahlah... Kebetulan aja kali. Ini makan nya udah? Apa nambah lagi?" tanya Kak Dee, dengan menunjukan piring yang sudah kosong.
"Udah ah... Pengen roti kayak biasa dibuatin,"
"Ishh... Bikin sendiri sih,"
__ADS_1
"Engga... Kakak yang bikinin. Kaki By keram, perut By keram. Please," rengek Ku manja.
Kak Dee menyentil kepalaku, namun berjalan menuruti keinginan ku.
Pov Diana.
Sepertinya Rubby benar-benar menyukai roti buatan ku. Padahal cara membuatnya sangat sederhana, dan Ia sendiripun bisa dengan mudah mengerjakan nya sendiri. Semoga saja, Usia ku ini masih bisa tetap membuatkan makanan kesuka'anya hingga saatnya nanti.
"Nyonya buat apa?" tegur Bik Inah.
"Eh, Bibik... Ini buatin roti buat By,"
"Padahal barusan makan toh?"
"Iya... Tapi kayaknya, kalau sehari aja ngga saya buatin roti isi, dia ngga akan kenyang dan ngga bisa tidur," ledek Ku, disambung tawa kami bersama.
"Memang aneh anak itu. Tapi, saya perhatikan sekarang Nyonya sepertinya lebih baik dan lebih sehat dari biasanya. Sudah ngga sakit lagi?"
Aku terdiam sejenak, dan menghela nafasku. "Sakitnya udah ngga kerasa lagi, Bik. Rasanya, hari-hari saya sekarang semangat kalau mikir By yang lagi hamil dan mau lahiran. Ngga sabar rasanya, mau nimang Baby."
"Oooh, Iya Nya... Memang, Rubby sepertinya membawa pengaruh positif dirumah ini. Semoga, kalau By udah lahiran, saat itu juga Nyonya sembuh Ya," ujar Bik Inah.
Semoga saja saya udah ngga sakit lagi, sehingga ngga akan menjadi beban mereka. Dan lagi, saat itu sepertinya sudah begitu tenang untuk meninggalkan By dan Mas Edra bersama.
"Udah Bik... Saya antar ini ke By dulu, ya." pamit ku.
Memang, belakangan ini aku seperti sehat tanpa penyakit meskipun sebenarnya, semua semakin lemah. Begitu pandai aku menyembunyikan semua rasa sakit ini. Jantung ini, nafas yang mulai pendek, darahku yang semakin sering mengalir. Belum lagi, beberapa lebam disekujur tubuhku karna karna pembuluh darah yang mulai pecah.
"Semoga saja... Setidaknya, sampai anak By lahir."
Tiba dikamar Rubby, ku berikan roti itu padanya dan Ia pun segera melahap habis.
"By... Suka banget?" tanya ku.
"Iya... Padahal By kurang suka roti sih, mungkin Bayi nya yang suka ya 'kak?"
"Iya mungkin... Kakak ngga tahu, Kakak belum pernah hamil. Tapi, kemungkinan begitu. By ngga ngidam?"
"Ngidam itu apa?"
"Kepengen sesuatu, yang pengen banget gitu." jelas ku.
"Ngga ada kayaknya... Mungkin bayi nya faham, kalau ngga boleh ngerepotin Ayah sama Bunda nya."
"Hmmm bagus lah... Oh iya... Besok Kakak mau kemo, kamu dirumah baik-baik. Kalau ada Mama ngajak kamu pergi lagi, tolak aja."
__ADS_1
"Iya... Udah ah, By kenyang."
"Yaudah.... Kakak tidur juga." balas ku, lalu pergi dari kamarnya.
Aku yang sudah berpindah kamar dibawah, lalu turun menuju kamar ku. Tapi, sekilas ku lihat ruang kerja Mas edra yang masih terbuka sedikit, hingga aku menghampiri nya.
"Mas... Belum istirahat?" tegurku, dengan memijat pundaknya.
"Belum Dee, kenapa?" tanya Mas edra mengelus tangan ku.
"Dee kangen aja. Udah lama ngga berdua'an gini,"
"Hmmm... Tumben, ada apa?" tanya Mas edra lagi.
"Ngga papa..." jawab Ku santai.
Mas edra membalik kursinya, dan menghadapkan tubuh nya kearahku.
"Dee... Ada yang buat kamu galau? Katakan sama Mas. Mas tahu, jika Mas sudah sangat jarang memperhatikan mu."
"Perhatian mu cukup Mas. Apalagi ditambah dengan kasih sayang Mas sama Rubby, itu lebih dari cukup. Dee cuma pengen berdua aja seperti ini."
"Mas antar ke kamar, ya. Malam ini Mas sama kmau. By udah tidur?"
"Udah... Barusan keluar dari sana."
"Yaudah... Ayo ke kamar, Mas juga rindu sama kamu," ujar Mas edra dengan menggandeng tangan ku.
Kami berdua sama-sama rindu, kami berdua sama-sama ingin melampiaskan kerinduan itu. Tapi, keterbatasan ku sekarang sudah tak mampu lagi untuk melayani Suami ku selayak nya istri pada umum nya. Untung saja, Mas edra sangat paham semua sehingga tak banyak menuntut dari ku.
Mas edra hanya bertahan tidur dengan memeluk erat tubuhku semalaman. Hangat rasanya, namun juga sesak, tapi ku tahan.
"Hanya seperti ini saja, aku bisa membahagiakan mu. Selebihnya, ku serahkan pada Rubby." gumam Ku seraya menatap wajah lelahnya lalu kembali menutup mataku.
*
"Dee... Bangun sayang, udah pagi. Jadwalnya kemo 'kan,"
Aku perlahan membuka mataku, ku regangkan otot tubuhku sebentar. Segera ku langkahkan kaki kekamar mandi dan segera bersiap.
Saat aku sedang memakai handuk, tiba-tiba Mas edra datang dan memeluk ku dari belakang. Tangis nya pecah, saat melihat semakin banyak memar dan ruam di tubuhku.
"Dee... Kenapa seperti ini, Dee. Kenapa tidak ada perubahan? Hatiku begitu sakit melihat mu seperti ini." ucap Nya dengan terisak. "Apapun akan ku lakukan demi kamu. Tapi, kenapa seolah tubuhmu menolaknya. Apa yang salah?"
Aku menggenggam lengan nya, kuhela nafas panjangku. Dan mulai berbicara. "Mas... Tak ada lagi yang bisa dilakukan. Semua sudah kita usahakan. Seperti yang kamu bilang, jika manusia hanya bisa mengatur rencana. Tapi, Allah lah yang menentukan semuanya. Hentikan tangismu, Diana mu hanya ingin melihat mu tersenyum sekarang."
__ADS_1
Aku membalik kan tubuhku, dan mengusap air matanya.