
Rangkaian demi rangkaian acara berlangsung dengan meriah.
Bang Halim beserta istrinya pun, datang dengan wajah bahagia mereka. Terlebih lagi, saat mereka melihatku ikut menyambut mereka didepan.
Para tamu undangan satu persatu pulang, dan menyalami Bang halim. Begitu juga dengan ku, dan mas edra.
"Abang... Selamat menempuh hidup baru ya. Ma'af, By ngga bisa ikut datang waktu akad," peluk ku padanya.
"Iya sayang, Abang ngerti. Kan By juga harus jaga kesehatan By dan calon anak By, sekarang By bisa datang bersama edra pun, Abang senang sekali." jawab Bang halim.
"Kak Fitri... Selamat, udah jadi istrinya Abangku. Semoga, kalian berdua bisa rukun selalu, saling pengertian, dan memahami satu sama lain." peluk Ku, pada istri Bang halim.
"Iya By... Makasih juga, By udah sempetin dateng keacara kami, meskipun dalam keada'an By sedang repot. Diana mana?" tanya Kak fitri.
"Kak dee dirumah, By sengaja ngga ajak, tahu sendiri 'kan kondisinya. Bang halim pasti udah cerita semuanya," balasku.
"Iya... Do'a terbaik ya, buat beliau." jawabnya lagi.
Hari sudah berganti malam, acara selesai. Aku kembali kekamar, dan mengganti pakaian ku, dan dikejutkan dengan Mas edra yang memelukku dari belakang.
"By... Jangan dilepas lagi ya hijabnya, Mas suka..." bujuknya padaku.
"Tapi ngga papa, kalau hijab itu adalah salah satu amanat Bang bagas?"
"Apapun alasanya... Itu baik, kerjakan amanat itu, demi kebaikan bersama."
"Iya Mas... Tapi sekarang seadanya dulu, Jilbab By juga belum banyak. Cuma ada ini, jilbab segi empat jaman By sekolah dulu."
"It's okay, ngga papa. Besok kita belanja. Kakak pasti senang melihat ini semua. Dan semoga saja, Kakak meniru jejakmu."
"Aamiin," balasku.
Kami kembali pada perkumpulan malam itu. Karna keluarga besar memang sedang berkumpul diluar.
"Bang halim... Ini ada titipan dari Kak dee, buat abang sama Kak fitri," ucapku dengan memberikan sebuah amplop, dan sebuah kotak kado.
"Apa ini By... Bagi kami, kedatangan kalian saja sudah cukup membahagiakan, ngga usah kasih amplop, ataupun bingkisan seperti ini." ucap kak fitri, dengan membuka kadonya. "Ya Allah... Ini bukan nya berlian?" kagetnya.
"Iya... Itu dari Kak dee, bagus kan?" ucapku.
"Ya Allah, By... Ini mahal sekali. Kakak ngga pantas menerima nya," jawab Kak fitri.
"Kemarin aja, waktu By nikah sama Mas edra, Kak dee ngasi berlian lebih bagus dari itu. Ngga papa terima aja, nanti kalau ada keperluan mendesak, kan bisa dijual."
"Tapi By... Ini mahal sekali," ucapnya dengan berderai air mata.
"By... Cukup Kak fitri saja yang mendapat kado itu, Amplop ini Abang kembalikan. Sudah begitu banyak Diana memberi sesuatu pada Abang. Apalagi, mobil yang abang pakai usaha, juga hadiah dari nya." ujar Bang halim, dengan menyodorkan amplop yang kuberi tadi.
__ADS_1
"Jangan... Ngga sopan begitu, itu dari Diana. Terima saja, ini dari Ku." sahut Mas edra.
"Mas... Tak usah... Sudah terlalu banyak," balas Bang halim.
"Kita ini keluarga Lim... Ngga usah sungkan," jawab Mas edra.
Saling haru kami akhiri, dan kami mulai bersenda gurau kembali untuk mencairkan suasana.
"Udah malam By... By tidur dulu sana, Mas masih mau ngobrol sama mereka." ujar Mas edra.
"Yaudah... By tidur dulu, ya. Mas jangan kemaleman, Besok kita pulang."
"Iya...."
Aku kembali kekamar, merebahkan tubuhku, dan memejam kan mataku.
"Kenapa terasa ringan pundak ku, terasa begitu damai. Nafasku begitu lega. Terasa tak ada beban lagi,"
Pov edra.
"Lim... Bagaimana usahamu, berkembangkan?" tanya ku pada halim
"Alhamdulillah.. Karna memang disini masih langka dengan travel, hanya ada Dua armada travel disini. Kadang, bahkan kewalahan."
"Diana 'kan kemarin ngasi mobil Satu lagi. Pakai saja, cari supir satu lagi."
"Ya ngga papa... Pakai saja, Rubby gampang, dirumah banyak mobil. Lagian, Rubby kalau disini lebih nyaman memakai motornya,"
"Iya sih... Ya, terimakasih jika sudah diizinkan. Kami akan berusaha sebaik mungkin, untuk mengembangkan usaha ini." jawab Halim dengan begitu antusias.
Malam semakin larut, mereka semua satu persatu undur diri dan mengistirahatkan diri mereka masing-masing. Begitu juga aku, menghampiri Rubby, dan tidur disebelahnya.
"By... Udah tidur?"
"Kenapa Mas?"
"Ngga papa,"
"Mas rindu Kak dee?"
"Engga... Justru, Mas rindu dengan mu sekarang."
"Hah...! Kok aneh?"
"Entah... Mungkin saja, ini yang sering orang bilang, jika Cinta itu memang aneh."
Rubby segera membalik badan nya menghadapku, dan menegaskan ucapanku kembali.
__ADS_1
"Mas... Bilang apa barusan? Mas Cinta sama siapa?"
"Cinta sama siapa ya...? Ehmmmm," ledek ku dengan mengelus dagu.
"Maaass..."
"Ya Mas lagi ngobrol sama siapa coba... Masa disini Mas sama By, tapi Mas ngomongin Kak dee."
"Mas yakin itu Cinta?"
"Ya... Yakin, kenapa?"
"Bukan sekedar rasa simpati, dan tanggung jawab karna By dan anak kita?"
"Awalnya... Tapi belakangan, Mas cemburu. Cemburu sa'at By masih saja mengingat Bagas, cemburu sa'at By ternyata punya pengagum rahasia. Ternyata cemburu itu ngga enak,"
"Iya... Ngga enak, By ngerasain itu."
"By cemburu? Cemburu sama siapa?" tanya ku.
"Sama Mas, sama Kak dee."
"Kok bisa..."
"Bisa lah... Naluri seorang wanita, Mas. Tapi, By berusaha tak ambil pusing, toh Kak Dee juga ngga pernah bersikap seperti itu ke By, By sadar diri. Sadar dengan posisi By, Kak dee 'kan yang buat By seperti ini. Jadi, By harus bersyukur, bukan cemburu."
"Mas tahu By... Mas paham. Ma'af, Mas belum bisa membagi perhatian secara adil,"
"Mas adil... Seadil-adilnya malah. Hanya By saja, yang memang masih sensitif sekarang. By yang harusnya minta ma'af."
Malam ini, benar-benar malam ku berdua bersama Rubby. Malam ini, kami benar-benar bisa mencurahkan perasa'an dan keinginan masing-masing untuk kami bersama.
Aku tidur, dan memeluknya dengan hangat. Mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Dan membelai rambutnya hingga kembali pulas hingga pagi.
Pov Author.
"By... Bangun sayang," bujuk edra.
"Iya, Mas... Jam berapa? Kesiangan belum shalat subuhnya?"
"Belum, masih banyak waktu kok... Mas ke masjid dulu ya, pengen berjama'ah dimasjid." pamit edra, yang sudah berpakaian rapi.
"Iya... Hati-hati ya." jawab Rubby, dengan mencium tangan suaminya.
Di Masjid, Edra bertemu dengan Pak lurah yang menatapnya tajam seperti orang yang begitu marah. Edra menghampiri nya, dan menjabat tangan nya, namun tak di indah kan nya.
"Kamu... Jangan cari masalah dengan saya. Jika kamu berani mencari masalah, urusan semua keluargamu disini. Akan saya persulit nanti," ancam nya, dengan nada gusar.
__ADS_1