
Pov Rubby.
Malam semakin larut, kami menyelesaikan perbincangang dan kembali kekamar masing-masing untuk istirahat. Kecuali Ibu, yang ku minta untuk tidur dikamarku, menemani ku.
"By kenapa minta tidur sama Ibu?"
"Kangen Bu, itu aja. Besok mau ikut By nengok Bang ramlan ngga?"
"Hah... Ramlan? Oh iya. Ngomong-ngomong tentang Ramlan. Ibu punya kabar buat kamu, By."
"Kabar apa?"
"Ehmm, Pak Lurah dipecat dari jabatan, karna kasus ramlan sudah diketahui semua orang. Apalagi, sa'at Bang halim ingin menyervis Hpmu, dimemori itu masih tersimpan video Ramlan disana."
"Lah... Terus gimana? Mereka baik-baik aja 'kan Bu? Lagian hp udah ancur gitu mau diservis. "
"Mereka pergi, tapi ngga tahu kemana. Mungkin karna terlanjur malu. Atau... Mereka pergi kekota ini, Ibu juga ngga tahu."
"Besok, By tanya Bang ramlan. Siapa tahu memang Ibunya kemari, dan menjenguknya."
"Baiklah... Besok Ibu ikut By, mau lihat keada'an ramlan. Biar bagaimanapun, kalian sahabat dari kecil, begitu akrab hingga seperti Kakak adik." jawab Ibu.
Kami menuntaskan pembicara'an, dan segera tidur karna hari sudah mulai larut.
***
"By... Bangun sayang, subuh dulu yuk,"
"Hmmmhh, iya Bu bentar." balasku, lalu bangun, dan berwudhu, dan aku shalat berdua dengan Ibu.
"By... Mupung masih gelap, kita marathon yuk, banyak jalan pagi buat sehat kamu dan bayimu."
"Iya, tapi jangan jauh-jauh ya, kata dokter, By ngga boleh kecape'an."
"Iya... Itu justru akan buat kehamilanmu makin kuat nanti. Harus sering-sering marathon, minta temenin edra, kalau ngga Diana."
"Iya, ayok Bu... Udah siap nih," ajak ku.
Aku dan Ibu keluar dari rumah, dan mulai berjalan keliling kompleks. Lumayan jauh, karna tubuhku lumayan berkeringat dan membuat nafasku sedikit tersengal.
"Capek Bu... Balik yuk,"
__ADS_1
"Yaudah, lumayan jauh juga jalanya. Nanti Dee sama edra nyari'in." jawab ibu, lalu merangkulku pulang.
Sesampainya dirumah, ku lihat Kak Dee celingukan dari teras.
"Kakak kenapa?" tegurku.
"Kenapa? Kakak nyari'in kamu, keluar ngga pamit, ngga ngajak-ngajak."
"Kenapa khawatir? By kan sama Ibu. Kirain Kakak lagi shalat, jadi takut ganggu." jawabku.
"Khwatirnya, takut kamu kejauhan. Terus kecape'an, itu aja."
"Tau By tuh, makanya sekarang udah pulang. Tapi malah seger loh Kak abis jalan gini. Tinggal mandi enak banget nih kayaknya."
"Yaudah sono mandi, Kakak tunggu dimeja makan. Yang lain udah laper tuh,"
Aku hanya berdehem, dan meninggalkannya, masuk kekamar lalu mandi.
"Kok belum pada sarapan? Nungguin By, ya?" tanya ku, sa'at mereka masih diam tanpa menyentuh menunya.
"Kita belum berani makan, ini makananya enak semua, nanti kalau tau-tau abis, kami nangis nanti ngga kebagian." ledek Bang halim.
"Iish... Ngeledek aja bisanya," kesalku.
"Mas... By hari ini mau nengok Bang ramlan ya? Sama Ibu 'kok," pamit ku pada Mas edra.
"Hmm... Ngga papa sama Ibu aja?" balasku.
"Mas... Aku juga mau kekantor ya, udah lama ngga kekantor. Mupung badanku agak enakan." sahut Kak Dee.
"Hmm? Kok mau pergi semua? Kamu sama siapa, Dee?"
"Sendiri aja, Mas bima 'kan nganter By. Ngga mungkin lah By yang nyetir sendiri. Mau minta tolong Bapaknya juga ngga mungkin, kan masih sakit,"
"Hmmm... Halim, ada agenda hari ini?" tanya Mas edra, melempar pertanya'an.
"Kenapa, Mas? Mau belanja aja keperluan buka toko," balasnya.
"Mas... Ngga usah ngerepotin Halim. Dia ada urusanya sendiri." tangkas Kak dee.
"Oh... Saya mengerti, pasti diminta nyupirin Rubby dan Ibu 'kan? Bisa, bisa. Lagian ke Lapas kan sebentar, ngga lama banget." jawab Bang Halim.
__ADS_1
"Oke.... Beres semua. Mas bisa melepas kalian pergi dengan hati yang tenang." ujar Mas edra, dengan menarik nafas lega.
"Mas lebay... Aku bisa sendiri juga."
"Ngga lebay Dee... Kamu ngga tahu rasanya jadi Aku. Seorang suami dengan Dua istri, yang satu sedang sakit dan bisa lemah kapan saja, dan yang satu meskipun sehat tapi sedang hamil besar. Aaaah, benar-benar menguras perasa'an."
"Yaudah lah... Ayo pada siap-siap. Kita berangkat ke tujuan masing-masing." ujar Kak dee.
Kami menurutinya, menyelesaikan sarapan, dan bersiap. Diawali dengan keberangkatan Mas edra, disusul Kak Dee. Dan akhirnya Aku bersama Ibu dna Bang halim.
Kami berangkat ke Lapas, dan tak lupa ku belikan sedikit makanan kesuka'anya.
Sampai disana, aku segera masuk dan meminta sipir untuk memanggilkanya, dan duduk diruang tunggu, hingga Ia datang menemuiku.
"By... Kok kesini, bersama Ibu? Ibu kapan datang?" tanya Bang ramlan, dengan menyalami Ibu.
"Kemarin, Lan. Bagaimana kabarmu?" tanya Ibu.
"Kabar Lan baik, Bu. Sehat malah, disini makanya teratur, dan Lan malah bisa menata pikiran disini. Temen-temen seruangan baik semua soalnya."
"Alhamdulillah." jawab Ibu.
"Bang... Kata Ibu, Bapak dan Ibu mu sudah pindah kekota, apakah sudah kemari?" tanyaku padanya.
"Iya... Mereka kemari beberapa hari lalu, dan katanya akan kembali lagi, tapi belum tahu kapan. Ya, Abang tahu jika mereka malu, dan terpujuk sa'at tahu abang disini. Bahkan, Bapak sampai dipecat gara-gara itu." sesal Bang ramlan.
"Ma'afin By, Bang. Ada seseorang yang menguping pembicara'an itu. Dan waktu Hp By diperbaiki pasca dirusak Ibu' mereka melihat video itu dimmorinya. By minta ma'af,"
"Ngga papa, sudah nasib Abang. Mungkin sudah masanya juga untuk mereka pensiun,"
"Abang keluar ya dari sini. Biar By jaminkan. Kasihan Bapak sama Ibu,"
"Iya sih... Tak apa kalau By mau keluarkan. Terimakasih ya," ucapnya.
"Iya... Nanti, By bicarakan sama Mas edra, pasti setuju saja karna By yang minta. By pamit dulu, ya. Abang sehat-sehat disini, bentar lagi 'kan bebas," ujar ku.
Aku mengajak Ibu keluar , dengan rencana kekantor Mas edra setelahnya, untuk mengurus kepulangan Bang halim. Namun, sa'at diluar, tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang, dan menyerempetku hingga jatuh.
"Astaghfirullah...." teriak ku spontan, dan jatuh.
"By... Ya Allah,! Nak. By ngga papa?" teriak Ibu mengahmpiriku dengan cemas.
__ADS_1
Mobil itu melaju saja, tanpa kembali memberi pertanggung jawaban padaku. Suasana makin ramai, mereka semua ingin melihat kondisiku yang terjatuh, dan Bang Halim, lalu membawaku ke Rumah Sakit untuk diperiksa lebih lanjut.