MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Hanya lemah fisik, bukan mental


__ADS_3

"Aduuuh... Menantu mama yang satu ini memang hebat, nikah Enam bulan langsung bisa hamil. Ngga sia-sia Edra nikahin Kamu," ujar Mama dengan Bangga nya pada Rubby.


"Iya Ma, Alhamdulillah... By juga kaget, karna mgga ngerasa ada tanda-tanda sedikitpun. Taunya waktu nungguin Kak Dee koma kemarin," jawab Rubby dengan polosnya.


"Mama bangga, sama Kamu. Jaga baik-baik ya, nanti kalau ada apa-apa, ngomong aja ke Mama." balas Mama lagi, dengan sesekali melirik Ku.


"Oh iya... Mama mau ngeteh? Biar By ambilin dulu ya, Ma."


"Iya sayang... Jangan terlalu manis, ya. Mama ngga suka,"


Rubby lalu pergi meninggalkan kami berdua, dengan aku yang masih diam tanpa menyapa Mama kembali.


"Heeeehhh... Memang ya, daun muda itu lebih menggoda. Lebih cantik, lebih fresh, lebih subur. Dan pastinya lebih sehat dan bisa diandalkan," sindirnya pada Ku.


Aku menyandarkan bahu ku ke kursi, menarik nafasku dalam, dan kembali menikmati teh ku selagi masih hangat.


"Rencana apa lagi kali ini, Ma?" tanya Ku, sambi menyeruput teh ku dengan nikmat.


"Apa? Ngga papa. Cuma mau muji Rubby aja," jawab Nya santai.


"Apa Mama berfikir, akan memanfaatkan Rubby untuk membuat Dee sakit hati? Jangan halu, Ma."


"Kenapa halu? Benarkan, Kamu sebenarnya iri dan sakit hati dengan kehamilan Rubby, karna kamu tidak bisa seperti dia. Karna apa?... Karna kamu adalah produk gagal Dee." balas Mama tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Apa beda nya Dee dengan Mama? Sama-sama gagal, hanya karna tak mempunyai keturunan 'kan? Mama tentunya masih sadar, jika Mas Edra itu hanya anak sambung. Ya... Meskipun Mama rawat dari balita." ucap Ku.


Sorot matanya terlihat nanar, seakan ingin menamparku dengan tangan mulusnya yang begitu terawat. Namun, Ia menarik nafas dan kembali menunjukan sisi elegantnya dihadapanku.


"Lancang kamu Dee... Kenapa bicara seperti itu? Edra sudah mama anggap seperti anak Mama sendiri. Bahkan mama begitu menyayangi nya." ujar Nya kesal.


"Iya... Mamam begitu menyayangi, hingga terkesan terobsesi terhadap semua yang ada di diri Mas Edra 'kan?. Apa yang mama bilang demi dia itu sebenarnya adalah demi obsesi mama sendiri. Betul?"


Mama terlihat mengepalkan tangan nya, sesekali mendongakan kepalanya keatas dan menarik nafas demi menjaga keangunan nya.


"Aaaah... Teh ini begitu manis, sehingga Dee ngga lupa, jika manisnya bisa membuat rasa sakit yang begitu berbahaya nanti nya," ucap Ku, setelah menghabiskan seluruh teh dalam cangkir itu.


"By... Tolong Kakak. Kakak mau kekamar nih,"


Panggil Ku pada Rubby.


"Hhh... Hanya untuk berjalan kembali kekamar saja, kamu sudah tidak mampu 'Dee," balas Mama dengan tatapan sinisnya.

__ADS_1


"Ya... Setidaknya, kakuasaanku masih mampu untuk membungkam mulut Mama untuk beberapa saat," jawab Ku singkat.


Rubby datang dengan membawa secangkir teh, dan memberikan nya pada Mama Mirna. Lalu, dengan sigap menggandengku kembali kekamar.


"Yang terlihat memang tubuh mu semakin ringkih 'Dee. Tapi, kenapa perlawanan mu semakin kuat sekarang terhadap ku. Apa karna Rubby? Kenapa kalian selalu menggunakan Wanita itu sebagai jalan kekuatan kalian. Sebenarnya, apa pesona nya sehingga kalian begitu kuat pasang badan untuk selir itu." gumam Mama Mirna sendirian.


.


.


.


"By... Ngomong-ngomong, capek juga naik turun ya. Apa Kakak pindah kamar dibawah aja, Ya 'By?" tanya ku. Saat melihat Rubby sedikit kelelahan setelah membawa ku kekamar wajahnya berkeringat, dan nafasnya sedikit terengah.


"Kamar dibawah? Kenapa?"


"Ya... Kakak lihat kamu kecape' an bolak balik bawa kakak. Kandunganmu masih kecil sekarang, nanti kalau udah gede kan makin repot." balas ku, sambil sesekali menarik nafas.


"Iya... Nanti bilang sama Mas, ya."


"By... Masih inget kata-kata Kakak tentang Mama Mirna?"


"Iya Kak... Kakak ngga usah khawatir, By masih ingat dengan pesan Kakak dulu,"


"Iya... By pergi dulu, ya."


"He'em...."


Pov Rubby.


Ini semua membingungkan bagiku. Sebenarnya aku kurang mengerti, namun aku harus tetap waspada seperti yabg dikatakan Kak Dee selama ini tentang Mama mirna.


"Setidaknya... Meskipun Mama mirna membenciku, Ia tak akan mungkin menyelakai cucu nya sendiri." gumam Ku.


Aku mencoba menghampiri Mama mirna kembali, namun Ia sudah tak ada diteras belakang.


"Bik nunik... Mama tadi kemana?" tanya Ku pada Bik Nunik yang sedang membereskan meja.


"Udah pergi, tadi pada ngapain sih sampe Nyonya marah gitu?" tanya Bik nunik, ketus.


"Ngga tahu, By kan daritadi di dapur. Mama ngobrol sama Kak Dee," jawab Ku.

__ADS_1


"Besok-besok, kalau mereka lagi berdua. Jangan ditinggalin By, bisa bahaya."


"Iya...? Kenapa?"


"Pokoknya bahaya, jangan lagi-lagi ya. Daripada ada sesuatu nanti," pesan Bik nunik pada Ku.


Aku hanya diam dan mengangguk mendengar ucapan nya. Lalu undur diri kembali kekamarku. Ku lihat jam. Dinding yang ternyata sudah menunjukan pukul Sebelas siang.


"Kok tiba-tiba kangen Mas ya, kalo misalnya ke kantor dimarahin ngga, ya?" gumam Ku. Segera ku raih Hp dan sempat berfikir untuk menelpon nya. Namun, urung. Aku justru pergi menghampiri Kak Dee dikamarnya.


"Kak..." panggil ku manja.


"Hmmm, kenapa lagi?"


"Boleh kangen sama Mas ngga?" tanya Ku, yang membuat Kak Dee geli.


"Kamu aneh... Ya boleh lah, kan kamu istri nya. Mau kangen, mau rindu, mau manja boleh. Emang kenapa sih? Kalau kangen telpon aja lah."


"Ngga pengen nelpon, pengen nya ketemu," jawab Ku.


"Yauda... Kalau By mau kekantor ya ngga papa, sekalian antar bekal makan siang. Kan udah lama ngga pernah anter bekal,"


"Oke... By siap-siap dulu ah.... Sebelum sore, By bakal pulang karna jadwal Kakak injeksi. Udah itu, kita lepas infus ya,"


"Iya... Hati-hati ya, jangan lupa nanti dikantor semua karyawan di sapa. Tunjukin, kalau kamu itu ramah sama mereka."


"Iya..." balas Ku dengan sedikit berlari kembali kekamar.


Aku segera mengganti pakaian, dan sedikit berdandan agar terlihat lebih menarik.


"Daripada, nanti ada yang bilang aku kampungan lagi," gumam Ku, seraya memoles wajahku dengan make up.


Dengan antusias tinggi, aku segera melangkahkan kaki keluar dari rumah, menuju mobil dan berangkat ke kantor diantar Mas Bima.


Sesampai nya dikantor, seperti pesan Kak Dee, Aku menyapa semua karyawan dan mereka pun membalasku dengan manis. Tak tahu, dibelakangnya seperti apa.


Tok... Tok... Tok...


"Mas..." panggil Ku dari luar ruangan Mas Edra.


"Masuk," jawab Nya dari dalam.

__ADS_1


Aku membuka pintu, ku lihat Ia sedang berbicara dengan salah seorang karyawan, namun tetap berdiri untuk menyambut dan merentangkan tangan nya untuk memeluk ku.


Aku segera menghampirinya, dan membalas pelukan hangatnya. Tangan dan pandangan nya memberi isyarat, agar karyawan nya tersebut keluar dari ruangan itu, dan memberi kami waktu bersama. Lalu, Ia pun menunduk kan kepalanya dan keluar ruangan.


__ADS_2