MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Pasien kartu kuning


__ADS_3

Diana hanya bedehem, dan meng'iyakan sa'at edra bilang, jika Ia akan menginap dirumah Mama mirna sa'at itu. Dan kembali tidur, menghadap madu kesayanganya yang sedang terlelap.


"Siapa Kak?" tanya nya.


"Belum tidur?"


"Udah... Tapi kedengeran suara telponya."


"Hmmm... Mas edra, mau nginep dirumah Mamanya, katanya ada pencuri masuk. Tapi ngga papa, mungkin cuma akal-akalan Mama mirna saja. Tidur lagi sana,"


"Hmmmmh..." balasnya. Lalu secepat kilat, Ia tidur kembali.


Paginya, kami seperti biasa sarapan bersama, tanpa ada Mas edra diantara mereka.


"By... Kakak kekantor lagi ya, masih ada urusan."


"Rajin bener ngantor sekarang? Kenapa?"


"Kakak kan bilang ada urusan. Kok sekarang makin banyak tanya?"


"Ngga boleh? Yaudah, By diem."


"By kenapa? Ada yang salah?"


"Kakak sepertinya sudah sembuh. Udah ngga perlu semangat dari By lagi. Yaudah, By diem aja. By semangatin diri By sendiri sekarang."


"By... Jangan menambah bebabn Kakak!"


"By ngga nambah beban. Ah sudah lah, By capek. Kakak kalau mau berangkat, ya berangkat aja. By mau ganti'in Kakak nyiramin taneman. Kasihan, udah berapa lama ini, mereka dianggurin." ucapnya, sambil menghampiri teras belakang.


"Ada apa dengan anak itu?" gumam Diana.


Diana berusaha tak menghiraukanya, karna Ia merasa ada urusan yang lebih penting. Bukan karna Rubby tak penting, tapi semua itu demi masa depan Rubby nantinya.


"By... Kakak berangkat....." pamitku. Tapi tak ada jawaban darinya.


Pov Rubby.


"Kenapa seperti itu, By?" tanya Bik inah, menghampiriku.


"Bibik ingat, sa'at Mama mirna mau nampar By beberapa bulan lalu, dan Kak dee tiba-tiba berdiri dan menangkisnya? Disitu, By dan Mas edra melihat, Kak dee kuat sa'at Ia ingin membela orang yang benar-benar ingin Ia lindungi, dan itu adalah By. By merasa, sa'at By lemah dihadapanya, semangat hidup Kak dee makin terpacu."


"Iya... Bibik ingat. Padahal, Ia dalam keada'an begitu lemah sa'at itu. Tapi karna kamu, Dia berdiri, dan seolah lupa rasa sakit itu."


"Benar, Bik. Sejak sa'at itu, By berfikiran untuk menjadi lemah dihadapan Kakak, agar Kakak menjadi semakin kuat karna By. Tak salah kan?"

__ADS_1


"Menurut Bibik tidak... Karna kenyata'anya, Dia semakin kuat karnamu, dan Bayimu. Bahkan, Ia rela mendatangi rumah Mama mirna demi membawamu pulang. Bibik tahu, betapa menyakitkan itu baginya." jawab Bik inah.


"Bibik lihat sendiri 'kan. Tapi, sekarang Kak Dee terasa melawan dirinya sendiri, entah dengan apa, By merasa. Banyak hal ynag disembunyikan dari By. "


"Itu bukan ranah By. Biarkan Kak dee mengurusnya."


"Tapi Bik.... Biar bagaimanapun, By itu tahu, bahwa Kakak itu... Sebenarnya sedang kesakitan. By melawan, agar Ia kembali mau menurut dengan By. Agar Ia tahu, bahwa By tidak benar-benar lemah, seperti yang difikirkan."


"Sabar, By... Kakak seperti itu, juga demi kamu."


"Demi By, bagaimana?"


"Nanti kamu tahu sendiri..." jawabanya menggantung dihadapanku.


Aku bertanya-tanya, namun berusaha bersikap masa bodoh dengan semuanya. Aku lebih memilih berfikir, bagaimana caranya Kak dee terbuka padaku sekarang.


Pov Diana.


Tok... Tok... Tok...!


Ku ketuk pintu rumah yang ditunggu oleh Pak hadi.


Kreeeek! Pak hadi membukakan pintu untukku.


"Duduk...." ucapnya padaku.


"He'em..." jawabnya begitu singkat.


"Kenapa bertindak gegabah, kenapa tak memberitahukan Dee? Kenapa meneror Mama, dia bisa gila. Dan ketika dia dinyatakan gila, Mama tidak bisa dipenjara." ucapku panjang lebar.


Braaak! Sebuah map, tepat didepanku.


"Apa ini?" tanyaku, seraya membuka map itu.


"Bapak tidak sembarangan dalam bertindak, Dee. Bapak sudah memperhitungkanya. Itu, surat keterangan kesehatan Papa mertuamu. Disana lengkap, beserta riwayat alerginya."


Aku menutup mulutku, tak menyangka dengan apa yang diberikan oleh Pak hadi saat ini, karna memang ini yang sedang ku usahakan untuk mencarinya.


"Pak....." panggilku.


"Kamu tak perlu membuat dirimu sendiri lelah, karna kamu sakit. Cukup, Bapak saja yang bertindak dengan segala resikonya. Kamu cukup diam, dan menerimanya."


"Tapi... Kalau Bapak ketahuan, Bapak bisa dipenjara."


"Kamu lupa, jika Bapak baru saja keluar dari Rumah Sakit Jiwa? Anggap saja, Bapak sedang kumat, Dee. Berbekal kartu kuning yang Bapak pegang. Bapak bisa lolos dari hukum."

__ADS_1


Aku berdecak kagum dengan nya, sesuatu yang bahkan tak terfikir olehku. Namun, langsung Ia lakukan dengan caranya sendiri.


"Pak... Dee, memang membutuhkan semua ini. Dan, Dee sedang bingung bagaimana mencarinya. Terimakasih, dengan adanya ini, semua akan semakin cepat diproses secara hukum." ucapku, dengan penuh haru.


"Pergilah... Jangan terlalu lama disini. Begadang semalaman, membuat Bapak mengantuk sekarang."


Aku meng'iyakanya, dan segera keluar dari ruangan itu, dan dengan semangat, aku menemui Thomas kembali untuk menyerahkan semua bukti itu.


"Dee... Ini sangat luar biasa. Bagaimana kamu mendapatkanya?"


"Pak hadi... Sesuatu yang tak terduga telah Ia lakukan semalam." jawabku.


"Baiklah... Setelah semua terkumpul, kita hanya menunggu panggilan untuk persidangan. Bagimana kalau Mama mirna mengelak, dan mengajukan banding?"


"Tidak... Dia tidak akan bisa melakukanya. Karna aku, tak memberitahu siapapun tentang ini. Bahkan Mas edra,"


"Dee... Bicaralah denganya, demi kabaikan kita juga. Tidak baik merahasiakan kasus seberat ini. Biar bagaimanapun, Ia mamanya."


"Baik... Akan ku fikirkan cara untuk bicara denganya. Aku pulang dulu," pamitku padanya.


Sepanjang jalan, aku memikirkan perkata'an Thomas, yang menurutku ada benarnya. Namun, bagaimana cara mengatakanya nanti. Aku tahu benar, Mas edra begitu menghormati Mamanya, meskipun sekarang tak selemah dulu.


"Hallo... Mas, dimana?"


"Sudah dikantor, Dee. Kenapa?"


"Dee kesana ya?"


"Tumben? Nganter makanan?"


"Makananya, Dee beliin aja. Dee baru dari kantor juga,"


"Oke... Mas tunggu ya," balasnya dengan ramah.


Segera ku perintahkan Mas Bima, untuk memutar, dan menuju kantor Mas edra, dan Ia pun menurutinya.


Kami sampai, mobil diparkirkan dengan baik. Aku melangkah pelan tapi pasti, menuju ruangan Mas edra.


Tok... Tok... Tok...!


"Mas, sibuk?"


"Tidak, Dee. Kenapa?" tanya nya, dengan berdiri menghampiriku.


Dan aku menyambut, dengan memeluknya erat, begitu erat, hingga membuat nafasku sendiri sesak.

__ADS_1


"Mas... Aku rindu. Entah kenapa rindu ini begitu mengganggu batinku. Rindu ini sulit untuk ku ungkapkan, meskipun jarak kita begitu dekat, hanya sejauh tatapan mata yang berpandangan, tanpa ada jarak."


__ADS_2