MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Perdebatan menuntut keadilan


__ADS_3

"Dee.... Kenapa?" tanya Mas edra padaku.


"Tidak apa-apa? Tak bolehkah?"


"Kamu aneh,"


Aku melepaskan pelukanku, dan duduk disofa dengan raut wajah kesal.


"Hhh... Giliran pengen romantis dikit, ngga boleh, malah dibilang aneh." ucapku.


"Ya aneh aja. Biasanya kalau mau dimanja, kamu yang ngga mau. Rubby selalu jadi alasan. Sekarang apa? Mupung ngga ada Rubby?"


"Engga juga. Mas... Aku rindu anak kita."


"Dee... Kamu belum mengikhlaskanya, ini sudah Lima tahun berlalu. Ikhlaskan lah, Dee."


"Untuk kematianya sudah, tapi untuk caranya... Aku belum mengikhlaskanya. Terlebih lagi, saat itu, Ia pergi bersama dengan Kakeknya. Tepat didepan mataku, tak ada yang perduli dengan tangisku yang begitu menyayat hati."


"Dee... Jangan mulai lagi," tegurnya padaku.


"Bagaimana jika kali ini aku benar? Bagaimana jika semua buktinya sudah ditanganku?" tanyaku, dengan nada santai.


"Dee, jangan ngelantur? Kalaupun ada bukti nya, bagaimana dengan visum? Sa'at itu kamu pernah bilang jika Papa diracuni. Dan untuk membuktikanya, itu perlu visum. Kamu tega membongkar makam Papa dan anak kita? Mereka sudah tenang disana, dan tidur bersama."


"Mereka pun pergi, mungkin masih dengan perasa'an yang mengganjal. Begitu juga dengan ku, jika semuanya tidak tuntas."


"Dee... Mas marah kalau kamu terus membahas ini."


"Dan aku juga bisa marah, jika Mas menghalangiku. Mas, aku hanya ingin ketenangan. Aku diam selama ini, bukan berarti hatiku sudah tenang dan damai."


"Kamu menyimpan dendam. Maka dari itu hatimu sakit."


"Ini bukan dendam, Mas. Ini hanya caraku untuk menuntut keadilan, dan kebenaran dari semua yang terjadi. Aku hanya ingin, Mama mirna diam, tanpa bisa mengusik hidupku lagi."


Ku sandarkan kepalaku di dadanya yang bidang itu. Terasa begitu nyaman, meski aku tahu, nafasnya menahan amarah."Mas marah padaku? Mas, bukti semua sudah ada. Tinggal diproses. Aku yang benar, aku tak terobsesi dengan kematian mereka."


Ia menarik nafas dalam, mengangkat kepalaku dan menghadapkan wajahku tepat dihadapanya.

__ADS_1


"Bukti seperti apa?" tanya nya, dengan begitu tegang.


Dengan senyum, ku raih hp ku dan memberi foto beberapa bukti yang sudah ku kumpulkan.


Mas edra menatap foto semua barang bukti  itu dengan tajam, lalu mengerenyitkan dahi. Rahangnya tegang, dan tangan nya menggenggam hp ku dengan penuh amarah.


"Mama...!"


"Diana ngga bohong 'kan Mas? Diana hanya belum punya kesempatan untuk membuktikan semuanya?" lirihku, dengan kembali memeluknya.


"Darimana kamu dapatkan semua ini?"


"Mas inga Pak hadi? Ternyata memang dia yang lari, dan menghindari kejaran Mama mirna. Ia lari dengan membawa buktinya. Diana tidak gila, Mas. Diana tidak juga terobsesi dengan kandunganya yang gugur. Diana tidak menyalahkan semua orang karna kesalahan Diana sendiri, Diana tak depresi. Itu kan, yang dituduhkan Mama padaku? Dan yang lebih menyakitkan... Mas nyaris saja mempercayainya." ujarku, dengan berbisik ke telinganya.


Air matanya tumpah, Ia melepaskan pelukanku, dan malah bersimpuh dihadapanku.


" Ma'afkan Mas, Dee. Mas adalah lelaki bodoh, yang bahkan sulit melihat kebenaran. Memilah mana yang benar, dan mana yang salah."


"Sudah, Mas... Semua nya sudah terjadi. Mau menangis darahpun, Papa dan anak kita tak akan kembali hidup. Dan sekarang, aku melakukan semua ini, untuk melindungi yang lain. Agar tak kembali tersakiti, dan merasakan hal yang sama padaku." jawabku, dengan membangunkan nya.


"Rubby?"


"Kenapa sampai seperti ini kamu melidunginya?"


"Dia istrimu, dan itu anakmu. Aku lah yang sudah membawanya  kedalam. Situasi ini. Aku tak ingin Ia tersakiti seperti ku."


"Kenapa Pak hadi ikut dalam kasus ini? Jangan menyeret orang lain, yang tak ada kaitanya dengan kasus ini, Dee..."


"Tidak... Dia lah saksi kunci ku. Nanti, kalau sempat ke Rusun ya, Mas. Dia ku sembunyikan disana. Akan banyak cerita yang akan kamu ketahui nanti. Aku pamit, kasihan By dirumah."


Ia tak menjawabku, hanya kembali fokus dengan lamunanya. Aku tahu yang Ia lamunkan sa'at itu. Sa'at Ia berfikir, bagaimana cara untuk bertanya pada Mama mirna, tanpa emosi yang berlebihan.


Pov Edra.


"Berapa banyak yang Mama sembunyikan dari Edra, Ma?" gumamku.


Aku segera mengambil Jas ku, dan keluar, dengan tujuan mendatangi Mama untuk mempertanyakan semuanya. Aku berjalan cepat menelusuri semua lorong kantorku, dengan menahan emosi yang sepertinya akan meledak sa'at itu.

__ADS_1


"Pak... Bapak mau kemana begitu tergesa-gesa?" tanya Winda padaku.


"Keluar sebentar. Kamu handle semua pekerja'an saya." jawabku.


Aku langsung menuju mobilku, dan mulai menyetir, lalu memghubungi Diana kembali.


"Hallo, Mas? Kenapa?"


"Kirim foto semua bukti tadi ke nomorku. Aku akan kerumah Mama sekarang."


"Iya," jawabnya singkat.


Aku menutup telepon itu, dan beberapa menit gambar terkirim. Emosi ku kembali tersulut, namun ku tahan, hingga sampai dirumah Mama.


"Mana mama, Nik?"


"Nyobes... Lagi dikamarnya, kayaknya lagi kumat. Saya ngga berani ganggu Tuan." balas Nunik padaku.


Aku yang awalnya marah, lalu menarik nafasku dan mencoba melihatnya kedalam kamar.


Kreeek! Ku buka pintu kamarnya, dan benar, Ia sedang mengurung diri diruangan yang gelap itu, tidur tanpa bantal, dan berselimut tebal. Ia memejamkan mata, tanpa bergerak sama sekali, bahkan dengan panggilan dariku.


"Berapa lama biasanya begini?" tanya ku lagi.


"Biasanya, Satu jam. Tapi kadang bisa lebih lama. Dan sa'at Ia sadar, akan seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa, seperti laporan saya kemarin."


"Iya... Saya mengerti, saya pamit. Nanti kalau Mama nanyain saya, bilang aja saya lembur."


"Iya, Tuan." jawabnya.


Aku kembali keluar, dan menuju suatu tempat, seperti alamat yang diberikan Diana.


Tiga Puluh menit perjalanan, Aku sampai ditempat itu. Mobil ku parkir di parkiran bawah, dan aku segera menuju kelantai atas. Beberapa orang yang sudah mengenalku, tak segan menyapaku, dan mengajaku berbincang. Namu. Ku tolak, karna aku sedang terburu-buru.


Tok... Tok... Tok! Aku mengetuk pintunya dengan perlahan. Karna jujur, Aku tegang.


Kreek! Suara pintu terbuka, dan seorang Pria keluar, menampakan dirinya dihadapanku.

__ADS_1


"Dee... Sudah ku bilang, Aku ingin tidur. Kenapa masih saja kemari? Bukanya semua bukti sudah lengkap? Jangan terlalu sering kemari. Beri aku ketenangan," gerutunya, dengan mata yang masih tertutup.


"Pak hadi?" ucapku lirih, dengan membulatkan mata, seolah tak percaya dengan apa yang ada dihadapanku.


__ADS_2