
Pov Rubby.
"Mas, Mas....."
"Iya sayang, apalagi? Lagi sarapan kok ngajak ngobrol?"
"Hmmm, Ibu kemaren nelpon, mau minta tolong, buat Bang ramlan sama Ibu dan beberapa keluarganya mau nginap disini."
"Hah... Kenapa, ada apa?"
"Abang mau ngelamar Maya," jawabku.
"What!! Jadi lamaranya? Akhirnya," balasku dengan begitu senang.
"Mas senengkan? Jadi... Boleh dong nginep disini, ngga banyak kok, yang disini cuma Abang sama Ibu dan Bapaknya, sedangkan yang lainya kehotel."
"kenapa dihotel? Kerumah Mama mirna aja lah, kasihan Nunik sendirian disana. Ramlan sama Ibunya juga tuh, disana aja."
"Mas ngga mau nerima mereka disini? Kenapa?"
"Ngga papa, kalo mereka jadi satu dalam satu rumah, mereka ngga akan ribet sewaktu perjalanan menuju rumah Maya. Kalau terpisah, mereka bisa jadi, akan saling tunggu."
"Iya, apa? Mas tahu dari mana?"
"Dulu, waktu Thomas ngelamar Rara kan gitu. Sampe hampir telat,"
"Kalo, Mas sama Kakak?" tanya nya.
"Mas, sama Kakak dulu ngga pake lamaran gitu, simple. Karna emang dasarnya, Kakakmu udah diasuh sama Papa. Jadi semuanya mudah, tinggal nikah. Yang susah, cuma Mama aja yang ngga ngerestuin kami."
"Wah.... Ternyata, By memang lebih beruntung dari Kakak. By masjb pernah ngerasain indahnya acara lamaran, meskipun ngga jadi nikah sama Bang bagas, ya?"
"Itulah... Makanya By harus bersyukur dengan apa yang By punya, meskipun sempat begitu sakit. Jangan lantas menjadikan beban, lalu berat di perasa'an."
"Iya... Ma'af. Tapi, ngga papa lah Mas. Sesekali mereka nginap disini, By jadi ada temen."
"Temen sama Mantan Bu lurah itu? By ngga ilfil sama Dia? Ngga takut diomongin lagi?" tanyaku.
"Engga lah... Kata Ibu, Dia udah berubah."
"Oke lah, kalau By mau nya itu. Mas terima mereka disini. Dan yang lainya disana. Mas berangkat dulu ya," ucapnya, sambil mengecup keningku.
Hari ini aku free, hanya dirumah dan bermain bersama Maliq, dan mengurusi tanaman peninggalan Kakak, jika Maliq tidur.
__ADS_1
"Lebih lega kan, By, jika kita menjadi diri sendiri? Kamu akan merasa bebas tanpa tekanan. Hidupmu akan lebih terarah, meskipun banyak tantangan diluar sana. Tapi itu lah, yang harus kamu taklukan, By."
Aku menatapnya seraya tersenyum, menghentikan kegiatanku, lalu memeluknya.
"Terimakasih ya, Bik. Bibik tak pernah lelah menasehati By, yang masih kekanak-kanakan. By ngeselin ya?"
"Engga... By ngga ngeselin, itu wajar By tahu kan. Anak Bibik itu, jika masih hidup mungkin usianya seperti By sekarang. Tapi sayang, meninggal di usia belia. Jangan dikira Bibik cuek, tidak. Bibik pun pernah merasakan frustasi seperti kamu. Dan lagi-lagi, Dianalah yang memberi semangat untuk bangkit, dan membawa Bibik pergi dari rumah itu."
"Hmmm, ternyata Kakak lagi. Kakak memang hebat ya, Bik. Bisa dijadikan contoh, terutama bagi By sa'at ini." jawabku.
Pembicara'an terhenti, ketika Ibu kembali menelpon ku.
"Hallo, Bu? Kenapa?"
"Gimana, Nak? Boleh mereka menginap?"
"Mas edra bilang boleh, Bu. Tapi nanti yang lain nginap dirumah Almarhum Mama, ya. Mas edra kurang suka keramaian."
"Iya sayang. Terimakasih ya,"
"Tapi, Buk... By jengkel lah, kenapa Ibu terus yang izin? Kenapa ngga Bu rina aja gitu, berasa ngga sopan. Ya, meskipun, By lebih muda, tapi kan By yang punya rumah. Ngga enak sama Mas nanti,"
"Iya, nanti Ibu bilang sama Bu rina."
Pov Edra.
Aku memasuki setiap lorong diruangan kantorku, menuju ruanganku. Tak Percaya diri, itu yang ku rasakan kini, "Berasa macam Bule nyasar aku,"
Semua orang menatapku dengan heran, mereka tersenyum, atau tertawa, entahlah. Dan aku pun tak tahu, mereka tertawa bersama ku, atau sedang mentertawakan penampilan baru ku.
"Selamat pagi... Pak... Loh, Bapak kok?"
"Win... Segera keruangan saya," pintaku pada Winda.
Kreeek....!
"Ada apa, Pak, manggil saya?" tanya Winda, memasuki ruanganku.
"Win... Coba perhatikan saya baik-baik. Ada yang aneh? Apa saya lucu? Jujur, ini semua perbuatan Rubby," ucapku padanya.
"Wah... Selera Ibu memang bagus, Pak. Keren," puji nya.
"Win... Saya serius, kamu jangan meledek."
__ADS_1
"Pak... Saya juga serius, mana berani saya bohong sama atasan. Apalagi mentertawakan."
"Oke, oke, Ma'af. Jadi... Menurut kamu, ini bagus? Cocok kah dengan saya?"
"Cocok pak, kayak Oppa korea. Lee dong wook,"
"Hadeeeh, persis seperti yang Ibu bilang. Kenapa semua wanita tahu tentang dia?" gumamku.
"Ya... Karna dia aktor terkenal lah, Pak. Idola para wanita. Tapi serius, Bapak berpenampilan begini, nampak lebih fresh, lebih terlihat muda."
"Jadi, kamu bilang saya Tua?"
"Ah... Salah lagi. Bukan Pak, maksudnya, aura mudanya lebih kelihatan. Jadi, kalau jalan sama Ibu, lebih serasi," ucapnya membela diri.
Setelah mendengar penjelasan Winda, aku semakin Percaya Diri dengan penampilan baru yang disponsori oleh istriku sendiri, Percaya diri dalam hal apapun. Ketika berjalan bersama nya, ketika mengantarnya kekantor, bertemu colega baru. Dan mereka semua memuji penampilan baruku.
Ke'esokan hari nya, seperti yang telah ditencanakan. Ramlan dan keluarga nya datang kemari, dan meminta izin untuk menginap.
"Pak... Saya, bersama keluarga, mau izin menginap disini semalam ya, boleh?" tanya ramlan.
"Boleh, tapi.... Kaluarga yang lain, saya pindahkan kerumah yang satu nya ya? Ma'af, saya ngga terlalu suka keramaian. Apalagi, katanya hanya Sepuluh orang, ternyata ada Dua puluhan lebih." jawabku.
"Iya... Ma'af ngga sesuai rencana."
Pov Author.
Ramlan dengan Edra mengobrol dirumah, membantu mengasuh Maliq. Sedang Rubby, menyerahkan dirinya untuk mengantar sanak saudara Ramlan kerumah bekas Mama, bersama Bu rina disampingnya.
"Ya ampun, By... Kami sengaja datang dari jauh, pengen numpang nginep dirumah mu yang gede itu. Malah diungsikan kerumah lain, pelit banget kamu ya." ujar Bude Tutik, budenya ramlan.
"Iya... Lagian kita orangnya banyak, dirumah segede itu juga muat kok, kita ngga rusuh. Kenapa harus dipindah, gini amat nasib."
Bu rina hanya diam, menunduk kan kepalanya. Entah apa yang difikirkan, atau, masih merasa malu dengan Rubby.
"Rumah yang kita kunjungi ini, juga lebih dari cukup, untuk kalian tempati." jawab Rubby.
"Lebih dari cukup? Jangan-jangan, rumah kecil dan sempit? Emang tega kamu By," cerca Bude tutik lagi.
Rubby hanya diam, menghela nafas, dan tersenyum mendengar ucapan mereka.
"Dah... Sampai," ucap Rubby, ketika mobil berhenti, diikuti mobil dibelakangnya, yang juga berhenti.
Mereka turun dengan aura malas, dan dengan nada menghina. Namun, ketika mereka melihat Rumah besar itu, mata mereka terbelalak, mengagumi kemegahan rumah itu, dan semua bangunan disekitarnya."
__ADS_1
"Nih... Rumah kosong ku." ucap Rubby.