MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Diana ku yang semakin lemah


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Ku saat masuk kerumah. Langsung ku hampiri Bapak dan Ibu, lalu memeluk mereka dengan erat.


"Bu... Kangen,"


"Lah... Baru beberapa hari kemaren kan ketemu," ujar Ibu.


"Iya... Tapi kangen," ucap ku.


"By... Bapak senang mendengar kabar kehamilan Mu. Tapi, Diana kenapa?" tanya Bapak.


"Kak Dee... Komplikasi, Pak. Jantungnya mulai melemah, begitu juga nafasnya sering berat. Kak Dee merahasiakan itu semua, agar By dan Mas Edra mau berangkat bulan madu ke jogja. Tapi, saat kami pergi kondisinya justru Drop."


"Ya Allah... Untung saja kamu belum pergi, By."


"Iya... Beberapa menit lagi terbang, By dapat kabar itu. Jadi By masih bisa kerumah sakit cepat."


"Lah... Ini kandungan Mu, kok kamu ngga kerasa kalau hamil, itu bagaimana, Nak?" tanya Ibu.


"By bener-bener ngga tahu, Bu. By bahkan lupa, kapan terakhir By haid. Mungkin karna memang sibuk mengurus Kak Dee."


Semoga saja, tidak apa-apa karna sempat mengikuti kemoterapy saat itu.


Aku sejenak teringat semua kegiatan ku, sebelum aku dijauhkan dari kegiatan kemoterapy Kak Dee. Karna pada dasarnya, reaksi kimia dari obat racikan kemoterapy itu berbahaya, terutama radiasi nya pada wanita hamil.


"Untungnya... Ngga papa juga, meskipun dibawa perjalanan super jauh ya By. Sekarang, karna udah tahu, Kamu jaga baik-baik kandungan Mu ini."


"Iya, Bu. By akan rawat baik-baik," jawab ku.


"Dan juga, By. Kamu harus mengerti kondisi saat ini. Dimana  Diana sedang dalam keadaan tak sehat, jadi kamu harus mengerti dan faham. Jika kamu mungkin tidak bisa seperti wanita hamil pada umumnya. Yang bisa bermanja dengan suami mu," imbuh bapak.


"Iya, Pak... By mengerti itu, dan By akan berusaha mandiri dengan keadaan By. Lagipula, Kehamilan By ini juga sudah begitu dinantikan Kak Dee selama ini,"


"Bagus... Bapak bangga sama kamu. Sekarang, kamu istirahat dulu. Bapak tahu kamu lelah." ucap bapak padaku.


Ibu lantas menggandengku kekamar, dan beristirahat sebentar. "By ngga ada ngidam?"


"Ngidam itu gimana?"


"Pengen sesuatu gitu,"


"Belum ada Bu. Nanti kalau kepengen, By bilang."


Sementara itu.


"Hallo, Nyonya... Nik punya kabar menghebohkan,"


"Apa itu, Nik?"


"Nona muda lagi hamil,"


"Hah... Hamil?" Padahal, tadi bertemu. Kenapa diam saja. "Baiklah, Nik. Terimakasih infonya,"


"Baik... Nyonya,"


"Kamu ngomong sama siapa Nik?" tanya Bik Inah.


"Ngabarin Nyonya, kalau Non Rubby hamil."


"Itu bukan kewajiban Mu... Itu tugas Pak Edra langsung mengabari Mama nya. Jangan terlalu ikut campur Kamu."

__ADS_1


"Kan cuma ngasih tahu, Bik. Lagian Nyonya juga cuma bilang Iya."


"Nik... Kamu jangan macem-macem sama Non Rubby. Bibik pulangin Kamu ke kampung nanti," ancam Bik inah.


"Iya... Ngga berani Aku," balas Bik Nunik, lalu melanjutkan pekerjaannya.


POV Edra.


"Dee... Ngga tidur?"


"Ngga bisa tidur, Mas. Bosen tiduran daritadi. By kemana?"


"By pulang sebentar. Bapak sama Ibu dateng,"


"Ehmmm... Enak ya, punya orang tua lengkap, ngga kayak Aku. Yatim piatu,"


"Dee... Semua orang punya kepedihan hidupnya masing-masing. Kita tidak bisa membandingkan dengan orang lain. Cara mereka menghadapi pedihnya itu pun berbeda. Jadi, syukuri saja dengan yang ada."


"Cieee... Yang udah mau jadi Ayah. Makin dewasa aja kata-katanya," ledek Diana padaku.


"Dee... Serius lho ini,"


"Iya, Mas... Tahu kok. Oh iya... Tadi pagi, Mama datang."


"Hmmm? Kenapa By ngga ngasih tahu,"


"Ngga tahu, mungkin Dia masih kalut."


"Kalut? Kenapa?"


"Biasalah, tau sendiri Mama." jawab Diana, santai.


"Mama mana berani ngebully Aku,"


"Yaudah... Nanti Mas bicara sama Mama,"


"He'em... Mas, Dee kapan boleh pulang?"


"Ya Mas ngga tahu, kenapa sih buru-buru? Istirahat aja dulu. Sembuhin sakitnya."


"Dee ngga akan sembuh lagi, Mas. Makanya, sekarang cuma mau ngabisin waktu aja yang bermanfaat,"


"Mulai Dee..." ucap Ku, seraya sedikit mencubitnya.


"Auuwh... Mas, sakit." ucap Nya dengan memegangi lengan.


"Loh, cuma dicolek kok langsung lebam?" heran Ku.


"Sekarang udah kayak gini, Mas. Udah makin rapuh,"


Aku memeluknya erat, dan mengusap rambutnya.


"Serapuh apapun tubuhmu, hati Mu mempunyai kekuatan lebih untuk Ku dan Rubby. Kamu harus kuat untuk Kami ya Dee,"


"Do'akan saja Mas."


"Yaudah... Istirahat aja dulu, Mas mau ke Dokter."


Diana hanya mengangguk, dan kembali berusaha memejam kan mata nya, meskipun Ia tak tidur.

__ADS_1


Aku berjalan gontai menuju ruangan dokter. Ku bayangkan Diana yang semakin ringkih sekarang. Wajahnya pucat, kelopak matanya semakin cekung, rambutnya pun mulai habis.


"Ya Allah... Jaga istriku, kuat kan dia. Setidaknya, sampai anak Ku dan Rubby lahir. Karna itu keinginan terbesarnya," tangis Ku pecah, selama perjalanan.


Setelah dekat dengan ruangan Dokter,  aku langsung menyeka air mataku.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk." jawab Dokter.


"Dok... Tidak sibuk 'kan?" tanya Ku.


"Kenapa, Dra?"


"Mengenai Diana, kenapa kulitnya gampang memar?"


"Itu baru permulaan, Dra. Nanti nya, akan sering seperti itu. Bahkan dengan sendirinya tanpa ada sentuhan. Dan pendarahan juga, akan lebih sering. Seperti mimisan, gusi berdarah, dan banyak lagi."


"Tidak ada cara menghentikan nya?"


"Tidak, Dra... Obat-obatan pun hanya memperingan saja, bukan mengobati." jawab Dokter.


"Jika... Aku membawanya keluar negri untuk mencari second alternatif, bagaimana?"


"Itu terserah kamu. Tapi, harus dengan persetujuan Diana, karna biar bagaimanapun, Diana lah yang menjalani nya," ujar Dokter.


"Baik lah... Terimakasih waktunya. Aku... Pamit dulu," ujar Ku, dengan menjabat tangan nya.


Aku kembali pada Diana, dengan terus menyusun kata-kata agar Dia mau ku ajak ke singapur untuk berobat. Karna, yang ku tahu jika Diana sebenarnya sudah sangat lelah dengan semua ini.


" Assalamualaikum.... "


" Waalaikum salam, Mas. Sudah selesai?"


"Udah,"


"Bagaimana?"


"De..."


"Iya?"


"Kita ke Singapur yuk,"


"Kenapa?"


"Mas pengen, kita cari alternatif lain buat pengobatan,"


"Mas... Mas tahu kan Aku capek? Aku bener-bener capek saat ini Mas. Andai aku bisa minta, Aku mau pergi sekarang aja. Tapi, Aku masih mikirin Rubby, Aku harus bertahan buat Dia dan Anaknya."


"Dee... Mas tahu kamu capek, tapi Mas juga ngga pengen lihat kamu menderita seperti ini, Dee."


"Mas... Jalani saja sekarang. Dee ngga mau kemana-mana lagi, Dee pengen disini aja. Bermanja-manja sama Mas, sama Rubby. Dee pengen gendong Anak Kalian nanti meskipun sebentar. Dee mohon,"


"Tapi, Dee...." ucapan Ku terputus, saat melihat tatapan permohonan nya padaku. Sorot matanya yang tajam, dan berkaca-kaca, menunjuk kan bahwa Ia benar-benar lelah saat ini.


"Baiklah... Tapi, kita harus tetap menjalani terapi dari Dokter disini Ya," ucap Ku.


"Iya... Dee janji," balasnya, dengan mengacungkan jari kelingking yang sudah terlihat begitu kurus bagi Ku.

__ADS_1


__ADS_2