MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Menata hidup kembali


__ADS_3

Pov Rubby.


Hari ini, ku lihat Kak Dee begitu terpukul. Bukan karna meninggalnya Mama mirna. Tapi, ketika perjuangannya terhenti ditengah jalan. Ya, perjuangan mencari keadilan, yang bahkan sudah Ia kubur selama bertahun-tahun, bersama semua rasa sakitnya. Kini, harus kembali terkubur, bersama perginya Mama mirna untuk selamanya.


Ia datang dengan digendong Mas edra, dalam kondisi basah kuyup, dan pakaianya yang kotor.


"Astaghfirullah, Kak? Kakak kenapa?" ucapku menghampirinya.


"Kakak pingsan karna kehujanan, By. Tolong Mas gantikan pakaianya ya," pinta Mas edra padaku.


"Iya, Mas taruh aja dulu dikamar, By mau minta Bik inah bikinin teh anget." ucapku, lalu pergi ke dapur.


"Bik, bikinin teh anget buat, Kak dee. Anter ke kamar nya, ya."


Bik inah mengangguk, dan segera menyiapkan yang kupinta. Dan aku, segera menemui Kak dee dikamarnya.


"Mas... Sini, biar By aja yang ganti'in bajunya. Ini kenapa?" tanya ku lagi.


"Ternyata, Kakakmu pergi kemakam, By. Dia nangis meraung-raung disana. Yang jelas, bukan karna sedih, tapi kecewa dengan semuanya."


"Yaudah... Mas keluar aja dulu, ganri baju juga, atau mandi sekalian. Nanti masuk angin."


"Iya..." jawabnya.


Mas edra pergi, Bik inah masuk memberikan teh, dan membantuku menggantikan baju nya.


"Bibik tahu, perasa'an Diana sekarang. Pasti marah, kecewa, sakit sekali rasanya. Ia sudah menahan semuanya sejauh ini. Tapi sa'at semua nya akan terungkap, dan sa'at Ia akan tersenyum. Justru senyuman itu kembali menjadi kekecwa'an yang mendalam. Kasihan dia, "


"Iya, Bik. By tahu, sekarang dan seterusnya, tolong jangan bahas ini lagi, ya. By mohon, kasihan Kakak."


"Iya...." jawab Bik inah, singkat.


Selesai mengganti pakaianya, aku mengelap wajahnya yang kembali pucat itu, sambil perlahan membangunkan nya.


"Kak... Bangun,"


Ia membuka mata, lalu memeluk ku dengan begitu erat. Tangisnya pecah, tanpa bicara apapun.


"Kak... Ngga papa nangis, luapin aja perasa'an Kakak sekarang. Jangan ditahan. Menjadi kuat sa'at sebenarnya kita lemah itu sakit. Sakit karna harus menahan perasa'an kita sendiri." ucapku, seraya menepuk bahunya perlahan.


"By.... Kenapa seperti ini? Lagi-lagi takdir seolah mempermainkan kehidupan Kakak dengan begitu pedih," ucapnya.


"Karna takdir tahu, jika Kakak adalah orang yang kuat. Bahkan lebih kuat dari By yang sehat. Benar 'kan?"


"Kakak capek, By... Lelah sekali rasanya seperti ini. Sa'at Kakak ingin sekali saja bernafas lega, kenapa seperti ini yang diberi."

__ADS_1


"Kak... Allah lebih tahu dengan apa yang kita butuhkan, dari apa yang kita minta padanya. Bersyukur, dengan apa yang Kakak dapat sekarang. Jangan lagi fokus dengan Mama mirna yang udah ngga ada." bujuk ku padanya.


Kak Dee hanya diam mendengarkan ku, tanpa menjawab lagi. Ku tahu, hatinya masih begitu sakit.


Aku meninggalkanya dikamar, namun tetap ku pantau dari luar. Jujur, aku takut terjadi apa-apa dengan nya, setelah semua kejadian ini.


Setelahnya, aku menghampiri Mas edra, yang tak kalah galau seperti Kak dee.


"Mas...."


"Iya sayang, ada apa?"


"Mas sedih?" tanyaku.


"Bagaimana Mas ngga sedih, Mama yang sudah merawat Mas selama ini, meninggal karna bunuh diri. Sakit, tapi Mas harus ikhlas."


"Mengenai Kakak. Bisakah By minta sesuatu?"


"Apa itu?" tanya nya.


"Jangan pernah membahas tentang Mama lagi pada Kakak, ya, By mohon. Kalau Mas mau cerita, mau curhat semua yang berhubungan tentang Mama, bisa ke By aja. By siap jadi pendengar yang baik. By janji,"


"Kamu kenapa? Aneh,"


"Lalu, Psikis mu sendiri bagaimana? Sudah tenangkah?"


"Mas... Kita lagi ngomongin Kakak,"


"Iya, Mas tahu... Kamu itu, yang ada difikiranmu cuma Kakakmu saja." jawabnya, tersenyum padaku.


"Iya... Karna, Kakak pun demi By, rela melakukan ini semua. Meskipun hasilnya berbeda." jawabku.


Mas edra menyentil kepalaku dengan gemas, lalu memeluk ku erat.


"Tetap seperti ini, By. Tetaplah menjadi penengah untuk kami. Karna, sa'at seperti inilah, kami butuh penengah seperti kamu dirumah ini."


"Iya, Mas. By akan berusaha," ucapku padanya.


Dua minggu berlalu setelah kejadian itu. Kak Dee dan Mas edra sudah kembali seperti biasanya. Tapi, Kak Dee seperti masih menahab sesuatu dalam dirinya.


Aku yang penasaran, berusaha mempertanyakan itu padanya, namun Ia jawab seperti biasa. Ia. Baik-baik saja.


"By... Hari ini ngga ada kegiatan 'kan?" tanya Kak dee padaku.


"Engga, Kak. Kenapa?"

__ADS_1


"Temenin chek up yuk. Kakak rasanya ngga enak badan nih," pintanya..


"Iya.. Nanti By temenin," jawabku.


Sarapan selesai, Mas edra pamit kekantornya. Aku dan Kak Dee pun bersiap untuk menyambangi dokter spesialis Kak Dee, sesuai rencana.


Kami tiba dirumah sakit, dan langsung datang keruangan dokter Kak dee, melakukan pemeriksa'an seperti biasanya.


"Dee, Bisakah ke Lab untuk cek darah? Sedikit saja untuk sample," pinta Dokter.


Kak Dee meng'iyakanya, dan beranjak dari tempat duduknya


"By temenin,"


"Ngga usah, Kakak aja. Lab deket kok. Nanti malah kecape'an kamu." jawabnya, lalu meninggalkanku.


Setelah Kak Dee pergi, Dokter melirik kearah ku, dan mulai membicarakan sesuatu.


"By... Kamu tahu sesuatu?" tanya nya.


"Tidak tahu persis, tapi... Apakah semua nya seperti yang saya fikirkan? Jika Kak Dee?"


"Kamu benar, By. Sel kanker itu kian lama kian ganas menggerogoti tubuhnya. Bahkan, sebelum ini, Ia mengatakan jika BAB nya sering berdarah. Saya sudah menyaran kan untuk melakukan Endoskopi. Tapi Ia menolak, karna masih banyak urusan katanya."


"Kakak ngga pernah bilang, sama By."


"Ya... Kamu tahu lah Dia bagaimana. Saya khawatir, jika kankernya menjalar ke lambung. Makanya saya sarankan itu. Bujuk lah, agar bisa ditindak, dan bisa dicegah agar tak semakin parah." bujuk nya padaku.


"Iya... Itu tugas By, By akan berusaha untuk membujuknya nanti. Dan secepatnya, Kakak akan melakukan Endoskopi. By janji," jawabku dengan penub antusias.


Tok... Tok.. Tok!


"Dok.. Ini hasil Lab nya," kak Dee menyodorkan. Beberapa lembar kertas.


"Hmmm hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Hanya saja, saran saya tolong, difikirkan baik-baik ya." ucapnya.


Kami menerima resep obat kembali, dan setelah itu. Kami pulang, tapi mampir kesebuah makam.


"Ke makam siapa Kak?" tanya ku.


"Makam Bapak sama Ibu. By mau ikut? Kalau capek ya ngga papa, disini aja. Kakak ngga lama," ucapnya.


Aku mengangguk, lalu Ia pergi meninggalkan ku.


Aku melihatnya berlutut, dan menangis, tapi aku tak bisa menolongnya. Karna ku fikir, Ia butuh ruang untuk nya sendiri sa'at ini.

__ADS_1


__ADS_2