
Setelah kejadian Bram beberapa hari lalu, aku sekarang lebih hati-hati ketika menitipkan Isyana padanya.
"Ibu mandi lagi? Nana biar Bram yang tunggu." pinta nya padaku.
"Boleh... Tapi, pipis dulu, kalau mau e'ek dulu juga ngga papa. Ibu ngga mau ngompol lagi."
"Iya, Bram udah pipis. Tarok stroler aja, biar Bram dorong-dorong." pintanya lagi.
"Ngga boleh sayang, nanti adeknya kedorong jauh, Mas ngga bisa ngejar. Adek 'kan tidur. Tungguin aja kayak biasanya, ya?" rayuku padanya.
"Iya," jawabnya, lalu berbaring disebelah sang adik.
Aku mandi dikamar, dalam posisi pintu terbuka, agar dapat mengawasinya dengan aman. Toh, tak ada orang lain dirumah sekarang.
"Mas Bram kenapa ngga suka ikut ayah?" tanyaku.
"Kan, mau tungguin adek."
"Kan kalau ikut ayah bisa makan-makan, biasanya Mas suka."
"Ngga mau, mau tungguin adek aja. Mas Maliq aja sama Bayu sama Adi, kalau Bram sama Nana." balasnya, dengan mencubiti pipi dan hidung Nana.
Seharian ini kami bermain bertiga, sesekali Mba ratih menghampiri untuk membantu Bram mengganti pakaian, atau membuatkan susu Nana dikala menangis.
Pov edra.
Sudah beberapa bulan belakangan, aku selalu mengajak mereka untuk menghadiri pertemuan. Bukan hanya untuk mengajak bermain, dan mencari suasana baru, tapi juga untuk memberitahu mereka, jika seperti ini pekerja'an ayahnya.
Mereka yang cepat beredaptasi dengan lingkungan baru, membuatku tak terlalu kerepotan, karna Gusti pun mampu mengontrol mereka semua. Keakraban mereka sudah terjalin, dan sudah seperti Paman dan keponakanya sendiri.
"Yah, belum pulang?" tanya Bayu padaku.
"Sebentar lagi, kenapa?"
"Bayu ngantuk, Yah."
"Oke, ayah pamit dulu, ya." ucapku padanya.
Aku segera menemui pemilik acara, dan berpamitan pulang, lalu menggendong Bayu, sedang maliq menggandeng Adi kemobil.
"Gusti, wakilin saya. Saya mau pulang."
"Siap, Pak." jawabnya, dengan membukakan pintu untukku.
"Bayu sama Mas aja dibelakang, biar bisa tidur dipaha, Mas." tawar Maliq.
Bayu pun memgikutinya, dan Adi duduk didepan bersamaku.
Bayu terlelap dipangkuan Maliq, dengan tangan Maliq yang menepuk-nepuk bahunya, hingga sampai dirumah.
"Assalamualaikum," ucapku, yang masuk dengan menggendong Bayu.
"Wa'alaikum salam. Kenapa Bayu digendong?" tanya Rubby padaku.
"Ngantuk katanya," jawabku.
__ADS_1
"Tapi badanya anget, yah." sahut Maliq.
Rubby memegang keninganya, dsn ternyata benar, tubuh Bayu hangat. Segera Ia membawa Bayu kekamar, lalu memberinya paracetamol, dan mengompresnya.
Sibuk dengan Bayu beberapa sa'at, hingga akhirnya tugas dialihkan ke Mba ratih, Rubby kembali pada Nana yang ternyata sedang diasuh Maliq sambil belajar, dan aku mengajari Adi dan Bram, dengan beberapa pekerja'an rumahnya.
"Mas... Ngga repot belajar sambil jaga adek?" tanya Rubby.
"Engga, Bu. Adek diem kok. Kalau sama Ayah, malah repot." ucapnya pada Rubby.
"Terimakasih, ya." ucap Rubby, dengan mengecup keningnya.
Aku menatapnya dengan pemuh rasa syukur, karena telah diberikan keluarga yang lengkap, ramai dan saling menyayangi, terutama Rubby, yang meskipun mempunyai Lima orang anak, tapi Ia berusaha bersikap adil terhadap semua anaknya.
Setelah Nana lahir, Rubby ku arahkan untuk tetap fokus pada anak-anak dirumah, sedangkan perusaha'an, yayasan, dan semuanya atas naka Rubby, ku serahkan pertanggung jawabanya kepada Gusti, dan Winda. Karna mereka lah orang kepercaya'anku sekarang. Meskipun aku harus mencari beberapa Sekretaris baru untuk ku dikantor utama.
"Sayang, besok kita foto keluarga, ya?" ajak ku padanya.
"Oh, iya. Nana belum kita ajak foto, ya? Oke deh, besok pagi-pagi kita siapin anak-anak terus ke studio foto." jawabnya dengan antusias.
Pov Author.
Pukul Enam pagi, setelah shalat subuh, mereka semua mandi, dan berdandan rapi. Menurut rencana, mereka akan pergi bersama untuk berfoto keluarga.
"Sayang, ayo dong. Udah siang nih," bujuk Rubby pada Bayu."
"Bayu males ikut,"
"Tapi ngga lengkap nanti,"
"Males, Bu." jawab Bayu, yang habya berguling di sofa, sedang yang lain sibuk berbenah diri.
"Mas Maliq sudah?" sahut Maliq, yang menghampiri si bungsu di strolernya.
"Titip Nana ya, Mas." ucap Rubby, yang masih sibuk merayu Bayu.
"Bram, ayo makan nya cepet. Jangan dimainin." tegur Mas edra pada Bram yang masih lama dengan sarapanya.
"Astaghfirullah. Nenek inah, tolongin Bram dong," pinta Rubby pada Bik inah.
Akhirnya Bik inah turun tangan, menyuapi Bram, Bayu bersama sang ibu, Adi bersama sang Suster, dan edra sedang mempersiapkan diri dikamar.
Ramai, dan sangat menyibukkan hari-hari mereka, tapi mereka bahagia.
"Niat awal jam Tujuh berangkat, ini udah jam Sepuluh, kita baru naik mobil," gerutu Rubby.
"Lebih baik telat, daripada tidak sama sekali." tegur edra.
"Iya..." jawab Rubby, yang masih kesal."
Akhirnya mereka berangkat ke studio foto, dan terjadi lagi sebuah keramaian yang luar biasa, dan keriwehan selama proses berfoto keluarga mereka.
"Ini... Tadi nyoba Lima Puluh foto, yang jadi cuma Lima Belas." ucap Sang fotografer.
"Jadilah daripada engga," balas Rubby yang kelelahan. Terlebih lagi, melihat semua anak-anaknya berlarian distudio, yang membuat suasana semakin ramai.
__ADS_1
Berteriak bersahutan, seolah sedang berada disebuah wahana bermain yang menyenangkan.
Rubby sesekali menatap kesal, namun syukur lah yang terucap dari bibirnya. Tak ada keluhan, lelahpun menjadi Lillah, sebuah keikhlasan dalam mengurus keluarga, bersama kelima anaknya."
Keesokan paginya, Rubby memajang hasil foto keluarga terbaiknya tepat disebelah foto Diana.
"Cantik...." ucapnya dengan senyum mengembang.
"Ibu.... Itu siapa?" tanya Bram, dengan kedua kembar dibelakangnya.
"Itu Bunda, sayang."
"Bunda? Bram ngga tahu, Bram punya nya Ibu."
"Iya, besok kalau udah besar, Mas Bram akan ngerti." jawab Rubby.
"Adek nana mana?" tanya Adi.
"Adek nana tidur, dikamar. Jangan diganggu, ya?"
"Iya, Bu." jawab Adi dan Bayu, kompak.
Rubby merebahkan dirinya sejenak disofa, dan merilekskan tubunya karna lelah. Tiba-tiba terdengar suara Bram dan Bayu sedang bertengkar, sedangkan Adi menangis. Rubby langsung berlari kencang menghampiri mereka.
"Mas, kenapa pada berantem?" tegurnya.
"Bayu mau cium-cium adek Nana, kan ngga boleh. Mana mau ditarik tadi," jawab Bram dengan kesal.
"Terus, Adi kenapa nangis?"
"Adinya kaget, gara-gara Bram marahin Bayu."
"Mas Bram nakal," balas Bayu.
Rubby meraih Adi, dan menggendongnya agar sedikit tenang.
"Adi mau cium adek, Nak?"
"Iya, mau." jawabnya.
Rubby lalu menurunkannya kembali, dan meraih Nana dalam gendonganya
"Coba pada baris, cium adeknya gantian."
Ketiga anai itu menuruti perintah Sang ibu, berbaris memanjang kebelakang, bergantian mengecup Nana yang masih terlelap.
"Satu permasalah selesai, sa'atnya tidur sebentar, biarkan mereka bermain bersama Mba'nya." gumam Rubby, ketika anak-anaknya sudah keluar.
Rubby tertidur sejenak, hingga sesuatu membangunkannya.
"Astaghfirullah, Nana mana?" kagetnya, lalu berlari keluar mencari Nana.
Bertanya pada Bik inah san Mba ratihpun tak mengetahuinya. Hingga Ia mendengar suara dikamar Maliq.
Dengan jantung berdebar, Rubby membuka pintu, dan ternyata Nana sedang disana, mengoceh dan Mas Maliq dengan setia meladeninya tanpa lelah.
__ADS_1
"Maliq, kenapa bawa adek ngga bilang ibu?"
"Tadi Ibu tidur, Nana bangung mainan sendiri. Maliq kasihan, jadi Maliq ambil. Nana 'kan belum usil, jadi enak gendongnya." jawab Maliq.