
"Berdiri lah Bu, ngga baik seperti ini. Malu dilihat orang."
"Ibu tahu kamu dirumah sendirian, Iya kan? Mereka semua pergi, itu kata satpam. Makanya Ibu seperti ini. Ibu memohon,"
"Bu... By akan membebaskan Abang, By janji, tapi menunggu Kak dee dulu, karna yang melapor dia, dan yang diserang Abang pun dia. By ngga bisa bertindak sendirian."
"Oke... Ibu akan menunggu dee disini, Ibu pun akan memohon padanya."
"Bu... Mendapatkan sesuatu dengan mengorbankan harga diri, itu ngga akan membuat hati Ibu puas."
"Ibu puas, asal Ramlan bebas. Ibu akan menunggu nya disini," ujar Bu rina, yang langsung nyelonong duduk disofa.
Aku menghela nafas pasrah, dan membuatkanya teh dibelakang, karna biar bagaimanapun Ia adalah tamu dirumah ini.
"Ini, Bu tehnya." tawarku.
"Kok kamu yang buatin teh? Kamu ngga punya pembantu? Atau jagan-jangan, kamu disini istri kedua sekaligus pembantunya?" ujarnya, yang penuh rasa penasaran.
"Siapa yang kamu bilang pembantu?" sahut Kak Dee, yang tiba-tiba datang.
"Di... Diana, udah pulang?" ucap Bu rina, gugup.
"Ya... Ini saya, kenapa anda kemari? Dari mana tahu rumah ini?" tanya Kak Dee, lalu duduk disofa sebelahnya.
"Kak... Biar By buatin teh," tawarku.
"Ngga usah, kamu nyonya rumah disini. Biar Bik inah yang buat, kamu duduk." instruksinya padaku.
Aku menurut, dan duduk disebelahnya.
"Ramlan yang memberitahuku, makanya aku kemari. Mau memohon padamu, agar mencabut hukuman Ramlan. Jujur, setelah video itu tersebar, Suamiku dipecat, dan gara2 dipecat secara tak hormat, dan memikirkan Ramlan, Ia sekarang sakit-sakitan. Uang tabungan kami habis untuknya berobat. Hanya Ramlan ku satu-satunya harapan, agar bisa bekerja, dan mencari nafkah untuk kami, Dee."
"Bukankah, kamu bilang Rubby pembawa sial? Kenapa sekarang malah memohon padanya? Tidak takut terkena sial?"
"Hmm... Itu semua, karna aku kesal padanya yang telah menolak Ramlan ku, padahal Ia sendiri tahu, jika Ramlan sudah begitu mencintainya sejak dulu."
__ADS_1
"Rina... Maka dari itu, jangan terlalu membenci orang lain, karna jika kamu butuh kamu akan seolah menelan ludah mu sendiri."
"Iya... Aku sadar, makanya aku meminta ma'af hingga memohon. Bisa kan, menerima permohonanku?"
"Bagaimana, By?" tanya Kak Dee padaku.
"Kak... Sebenarnya, dari kemarin By pengen minta izin sama Kakak, untuk membebaskan Abang, tapi belum sempat." jawabku.
"Baiklah... Rubby sendiri yang meminta. Besok, akan ku haturkan. Pengacaraku kesana, untuk mencabut laporanya." jawab Kak Dee.
"Baik, Baik.... Terimakasih," ucap Bu Rina dengan perasa'an senang.
Bu lurah lalu pamit, dan keluar dari rumah. Entah apa yang Ia rencanakan kedepanya, tapi aku pun lega, karna setidaknya berkurang Satu beban ku.
"By... Kakak istirahat ya, perut Kakak mules," ujar Kak Dee, setengah berlari meninggalkan ku. Aku pun begitu, kembali kekamar, karna beberapa jam berdiri mengurus tanaman, lumayan membuat pinggangku pegal.
Pov Aledra.
Aku sedang berkecimpung dengan dunia dokumenku hari ini. Membuat pena ku menari dilembaran-lembaran kertas yang ada dihadapan ku. Semuanya biasa bagiku, tapi yang istimewa sa'at ini adalah, sebuah file berisi proposal pengerja'an proyek ku dikampung Rubby, bersama para keluarganya.
Disela kesibukan ku, Hpku berdering, dan ku lihat Bik nunik memanggilku secara pribadi.
"Hallo Nik, kenapa?"
"Tuan... Ma'af, Nyobes sekarang aneh."
"Aneh? Aneh gimana maksudnya?"
"Nyobes aneh.... Kadang kalau lagi mau diem, dieem aja ngga mau diganggu, ngga mau diajak makan dan lainya. Terus, menyendiri dikamar kalau lagi kumat. Udah itu, beberapa jam kemudian, tau-tau balik lagi kayak biasanya, kayak ngga terjadi apa-apa. Bahkan, saya kayak ngga ada disini. Apa-apa dikerjain sendiri,"
"Kamu... Ngga bohong kan, Nik?"
"Ya ampun Tuan, kenapa saya bohong. Ini aja saya takut sebenernya, bawa ke dokter deh biar diperiksa."
"Iya, nik. Nanti saya mampir kesana. Terimakasih infonya,"
__ADS_1
Aku menutup teleponku, lalu mengusap wajahku dengan kasar.
"Apalagi Mama ini, jangan-jangan cuma sandiwara. Yasudah lah, biarkan saja dulu. Aku ingin fokus dengan pekerja'anku sekarang."
Pov Diana.
"Astaghfirullah... Perutku sembelit, mana masih suka berdarah BAB nya. Minum obat apa lagi aku ini?" gumamku, seraya menahan perutku ditempat tidur.
Ingin memanggil Rubby, tapi pasti Ia tahu penyebab sakitku, karna Ia sendiri seorang perawat, tak ingin memberi tahunya, namun aku membutuhkanya. Begitu pergolatan batinku sa'at ini.
Tapi aku melupakan sesuatu, bahwa By itu begitu peka terhadap rasaku, hingga, tanpa ku panggil Ia pun datang kekamar.
"Kak... Kakak lagi apa?" tanya nya padaku.
Aku langsung menjaga sikap, seolah tak terjadi apapun, meskipun sebenarnya begitu nyeri yang ku rasakan. "Ngga papa, ada apa? Bukanya istirahat?"
"Hmm... Ngga bisa tidur. Kakak kenapa? Nahan sakit ya? Sakit apa?" khawatirnya.
"Ish... Emang ngga bisa nyimpen rahasia dari kamu, By. Ini, Kakak diare, tapi ngga terlalu parah, cuma sembelitnya ngga nahan." jawabku.
"Kan... Pasti ada yang ngga beres. Yaudah, tunggu sini aja, By buatin Oralit, sama teh anget." ucapnya lalu pergi dari ku.
Aku kembali meringis, menahan sakit karna senbelit ini, tapi seperti bukan sembelit biasa, karna sakitnya sungguh luar biasa bagiku.
"Kak... Ini minum, abis itu istirahat. Kakak besok kemo 'kan?"
"He'emh..." jawabku, dengan meminum air darinya.
"Istirahat banyak-banyak, jaga makan, jaga pola pikir. By tuh udah ngga bisa nemenin lagi, By ngga bisa ngontrol Kakak lagi kayak dulu, jadi Kakak harus bisa jaga diri sendiri. Sekarang... Malah By yang sepertinya sering ngerepotin orang." ucapnya, dengan raut wajah mendung.
"Apa sih, By... Kenapa ngomong gitu? Udah ah, Kakak males dengernya. Kalau By mau ngeluh, sana ke Bibik aja. Katanya Kakak disuruh istirahat, malah dijadi'in tempat ngeluh." kesalku.
"Kak... By cuma ngomong, ngga ngeluh, Kakak kok gitu? Udah lah, sana istirahat, By ke Bik inah aja. Nyebelin," ucapnya, lalu pergi lagi dariku.
"Ma'af By... Kakak udah ngga bisa nahan sakit, makanya Kakak cepet-cepetan nyuruh kamu pergi dari kamar Kakak. Takut kamu cemas, kasihan Bayimu."
__ADS_1
Aku kembali meringkuk ditempat tidurku, menahan sakit yang teramat sangat, hingga aku lelah, dan tertidur. Mungkin, karna By memasukan sedikit obat dalam minumanku.