MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Seseorang dari masa lalu


__ADS_3

Pov Author.


"By... Ayo berangkat. Nanti keburu siang," ajak Diana pada Rubby.


"Iya, Kak... By udah siap, ayok berangkat." sahut Rubby, yang sudah berdandan kembali mengenakan hijab nya.


"By cantik... Darimana dapat niat buat hijab?"


"Sebenarnya ini dulu salah satu keinginan Bang bagas, Kak. Tapi saat By tanya sama Mas, ternyata Mas ngedukung penuh."


"Seterusnya ya... Jangan sampai dilepas lagi," pesan Diana.


Mereka lantas menaiki mobil, dan berangkat ke Rumah Sakit langganan Diana untuk menemui Dokter kandungan disana, denga Mas Bima sebagai supir mereka.


"Kak..."


"Hmmm, kenapa?"


"Jangan ngambekin Mas lagi, dosa."


"Kakak ngga ngambek, Kakak kan udah bilang tadi."


"Kak... By tahu persis dari raut wajah Kakak. Kakak ngga bisa bohong sama By,"


"Kakak ngga marah, hanya kecewa dengan sikap Mas edra. Kakak hanya minta dia lebih tegas, itu saja. Kakak tidak mau, By celaka hanya karna menuruti obsesi Mama."


"Iya... By ngerti, kalau Kakak mau ngelindungin By. Makasih ya 'Kak, ngga tahu gimana kalau ngga ada Kakak. By bener-bener capek, dari ujung kepala sampai ujung kaki, semuanya keram. Pengen nangis dipojokan, tapi malu."


"Jangan terlalu banyak berkata terimakasih pada seseorang By... Itu bisa menurunkan harga dirimu. Tunjukan jika meskipun kamu ini orang yang sopan dan baik, tapi kamu masih punya pendirian yang tegas." ujar Diana pada Rubby.


"Nyonya... Sudah sampai," ucap Mas Bima, yang ternyata telah menghentikan mobilnya diparkiran rumah sakit.


"Ayo By... Kita langsung masuk, Kakak udah bikin janji dari semalam." ajak Diana, dengan menggandeng Rubby masuk.


*


*


*


"Permisi Dok... Kami kembali lagi, untuk memeriksakan kandungan lanjutan buat Rubby." ujar Diana.


"Oh... Iya, mari sini. Kita konsul dulu," balas Dokter Dini, dengan mempersilahkan mereka duduk. "Apa keluhan hari ini, By?"

__ADS_1


"Saya cuma sering keram aja Dok," jawab Rubby.


"Sudah Dua Puluh Dua minggu 'kan. Bagaimana pergerakan janinya?"


"Baik, Dok... Bergerak aktif, tapi kadang sedikit nyeri sa'at pergerakan."


"Kita USG dulu, By... Ayo, berbaring disini," ujar Dokter lagi.


Rubby menuruti instruksi Dokter, lalu membuka bagian perutnya. Dokter mulai melumasi perut besar Rubby dengan cream pelumas, dan mulai menempelkan  mesin USG nya, dan mulai memperhatikan monitornya.


"Udah By... Ayo, kembali duduk,"


"Jadi, bagaimana dok?" tanya Diana.


"Tak banyak masalah, hanya saja air ketuban By sedikit. Jadi bisa menjadi hambatan untuk kehamilanya. Saya sarankan, untuk banyak minum air putih, minum air kelapa juga bagus. Terus perbanyak istirahat, takutnya nanti malah yang sedikit itu merembes. Berhubung kandungan belum cukup umur, maka harus dicegah agar tak membahayakan. Nanti jika sudah Tiga Puluh mingguan dan masih seperti ini. Dengan terpaksa harus dilahirkan meskipun prematur. " jelas Dokter pada mereka.


"Tapi... Bisa kah melahirkan secara normal, Dok?" tanya Rubby.


"Berdo'a saja, berusaha menjaga kandungan mu agar semakin baik dan sehat. Ini resep vitamin untuk mu, jangan lupa diminum sampai habis." ujar dokter, dengan memberikan sebuah resep.


"Terimakasih Dok... Kami permisi," balas Diana, lalu menggandeng Rubby untuk keluar dari ruangan itu. "Kita nebus obat dulu ya, By....."


"Iya Kak...."


"By..."


"Hah... Kenapa Kak?"


"Kamu yang kenapa... Kok melamun?"


"By pengenya lahiran normal, By takut operasi." jawab Rubby.


"Hey.... Apa bedanya, sama-sama melahirkan. Takut dibully orang kampung lagi?"


"Engga, Tapi.... By sering nemenin orang dikamar operasi. Ngebayangin kalau By bakal ada disana... By sudah takut duluan Kak."


"Eeeh... Kamu ngga boleh stres, nanti malah bahaya. Kamu harus bahagia, kamu harus rileks."


"Iya, Kak..." jawab Rubby.


"Atas nama Ibu Rubby..." panggil seorang petugas.


Diana berdiri untuk mengambil obat tersebut. Namun "Auuuwh... Sakit," ucapnya dengan memegangi kepala.

__ADS_1


"Kak... Kakak ngga papa? Biar By aja nebus obatnya," ucap Rubby, dan melangkah mengambil obat itu, lalu kembali pada Diana.


"Udah Kak... Kakak gimana? Mau istitahat dulu apa lanjut? Langsung pulang kan?"


"Engga By... Kakak mau mampir kesuatu tempat dulu. Ayo ke mobil, minun Kakak ketinggalan disana."


Rubby pun menggandeng Diana menuju kemobil. Disana, Ia memberikan beberapa vitamin, dan air minum pada Diana. Hingga Diana merasa sudah kembali bertenaga, dan kepalanya tak sakit lagi.


" Mas Bima... Ayo jalan, mampir ke RSJKO." pinta Diana.


" Kenapa kesana Kak.?"


"Nanti By akan tahu..." jawab Diana.


Mas Bima pun mulai menyetir dengan kecepatan sedang, dan menuruti instruksi Diana untuk menuju RSJKO.


Diana mengajak Rubby masuk dengan santai, seperti sudah terbiasa masuk kesana.


"Kakak mau jenguk siapa?" tanya Rubby.


"Seseorang, yang sangat penting. Tempat persembunyian ter'aman bagi nya adalah disini. Tempat yang ngga akan diketahui siapapun. Bahkan, Kakak saja baru menemukan nya beberapa bulan ini. Berkat bantuan Thomas, dan teman-temanya."


Diana mengajak Rubby memasuki sebuah ruangan khusus pasien Pria, dan menemui Perawat jaga disana.


"Permisi... Ini jam besuk 'kan? Saya mau menemui Pak Rahadi." tanya Diana pada perawat Pria tersebut.


"Sebentar... Saya lihat dulu Beliau sedang apa. Anda bisa menunggu disana," balas Sang perawat, mempersilahkan Diana masuk keruang tunggu.


Lima belas menit mereka menunggu, derap langkah kaki perlahan mulai menghampiri mereka dan masuk kedalam ruangan itu. Wajah Diana terlihat mulai menegang, matanya mulai memerah, seperti ingin menjatuhkan bulir-bulir kristal ke pipinya.


"Waktu kunjungan Tiga Puluh menit. Pak Hadi, jangan buat ulah." ujar Sang perawat yang mengantarnya ke ruang tunggu itu.


"Pak Hadi..." sapa Diana, dengan menahan air matanya.


"Kenapa kemari? Siapa yang menyuruhmu datang?" tanya Pak Hadi, pada Diana.


Nada bicaranya datar, tatapanya kosong, namun Ia faham betul jika Diana lah yang ada dihadapanya.


"Dee datang sendiri, karna ingin menjenguk Bapak. Tak boleh kah?"


"Kenapa kemari Dee? Bapak sudah dengan susah payah bersembunyi disini, diantara para orang gila itu, demi menghindari wanita itu Dee. Bapak sudah tersiksa disini, Bapak hanya ingin tenang."


"Pak... Dee ngga berniat jahat, Dee hanya ingin mengungkap semuanya, agar Dia mendapat ganjaran dari apa yang telah Ia perbuat. Tolong Dee, sekali saja...."

__ADS_1


Diana hingga bersimpuh, dengan berurai air mata. Sedangkan Rubby, hanya bisa menatapnya, tanpa mampu berbuat apa-apa.


__ADS_2