
Pov Diana.
Tiga minggu dari kenaikan kasus.
Hp ku berdering di pagi hari, sa'at aku sedang menyirami semua tanaman ku yang hampir tak tersentuh selama beberapa minggu ini.
"Hallo, Thom?"
"Dee... Laporan mu sudah naik, kemungkinan, besok akan dilakukan penjemputan pada Mertuamu. Siapkan mental edra," ucap Thomas padaku.
"Iya... Terimakasih, Thom. Aku akan membicarakanya lagi denganya nanti. Karna sekarang, Ia sedang ada rapat dikantornya. Aku tidak mau merusak konsentrasinya." jawabku.
"Baiklah, aku lanjut bekerja."
"Oke, Thom... Salam untuk Rara dan anak kalian," balasku lalu menutup telepon.
Perasa'an apa yang harus ku gambarkan sekarang.
Senang? Tapi aku menyakiti Mas edra, meskipun sebenarnya sendiri Ia sudah mengikhlaskan keputusanku.
Atau aku harus sedih? Tapi hati ku benar-benar lega sekarang. Lega karna sesuatu yang ku pendam selama ini, akhirnya terungkap. Apa yang ku tahan, akhirnya terbongkar, karna Tuhan masih menyayangiku.
Aku tahu posisi Mas edra yang sulit, antara Mama nya, atau istrinya. Karna biar bagaimanapun, Mama mirna yang begitu menyayanginya dari kecil. Yang benar-benar memperjuangkanya selama ini.
"Kak... Kakak belum selesai nyiram taneman?" tegur Rubby padaku.
"Eh... By. Bentar lagi selesai, cuma mau buang beberapa daun yanh mati. Kenapa?"
"Ehmmm, mau ngajak belanja bulanan. Sekalian belanja baju bayi, kata Ibu sudah harus dipersiapkan."
"Kemarin... Bukanya dibelikan Mama mirna?"
"Iya sih, tapi masih ada beberapa yang belum. Apalagi, itu belanja'an anak cowok semua." jawabnya.
"Kenapa? By mau nya anak cewek?"
"Ya engga sih, cuma mau beberapa aja. Jadi kalau misalnya keluarnya cewek, jadi ngga terkesan tomboy banget gitu. Kakak mau nemenin kan?"
"Boleh, bentar ya. Kakak siap-siap dulu." Aku pergi kekamar, bersiap, lalu menggandengnya pergi ke supermarket.
Ditemani Bik inah, kami berkeliling mencari semua persedia'an bulanan, dan keperluan untuk bayi nya.
"Ternyata, keperluan bayi itu banyak banget ya, By. Kakak sampai capek. Dulu, Kakak hanya merasakan sebentar tanpa bisa menyentuhnya."
"Yaudah, istirahat ajalah. Makan yuk, By laper," ajaknya.
"Hah, Laper lagi?" ujar Bik inah, terkejut.
__ADS_1
"Ngga papa lah, Bik. Dia sekarang kan perunya Dua, jadi memang perlu lebih banyak makan. Ayo, By mau makan apa?" ajak ku.
"Makan ayam crispy aja deh. Lihat anak-anak makan disana kayakna enak banget."pintanya.
Aku menggelengkan kepala, lalu ku gandeng tanganya menuju restauran itu, dan memesankan nya, sesuai yang Ia mau.
Ku lihat Ia makan dengan lahap, dan aku hanya bisa menatapnya. Bukan karna tak ingin, tapi aku sudah tak berani makan berat lagi sejak lambungku bermasalah. Sedang asyik melihat mereka makan, telponku berdering.
"By... Bentar ya, Kakak angkat telpon." pamitku yang langsung meninggalkanya.
"Hallo... Siapa ini?"
"Hallo menantuku sayang. Lupa dengan suara Mama?" jawabnya.
"Kenapa nelpon?"
"Kamu mau balas dendam, atau hanya menggertak, sa'at ingin menaikan kasus itu?"
"Diana ngga pernah menggertak, Ma. Semua yang Diana katakan itu serius."
"Jadi? Kapan semuanya diproses?"
"Sudah... Mama tinggal menunggu jemputan mereka. Tunggu saja,"
"Serius? Oh... Mama tak sabar memberi kejutan padamu," jawab mama, yang terdengar meledek.
"Mama takut? Ingin kabur? Tak akan bisa, Ma. Jangan mempersulit keada'an, yang mungkin bisa menambah berat hukuman Mama,"
"Apa maksudnya? Mau apa dia? Pura-pura gila agar lepas dari jerat hukum? Tidak akan bisa. Karna bagaimanapun, itu kejahatan yang Ia lakukan secara sadar. Lagipula, aku tak bisa menjemputnya seperti keinginanya. Mas edra lah yang akan melakukanya. Aku akan mengurus Rubby dengan kandunganya."
Pov Aledra.
Belakangan ini, aku tak bisa berkonsntrasi dengan pekerja'anku. Semua fikiran ku tertuju pada Mama dan hukumnya. Tak ku sangka, akan jadi serumit ini.
Sedang berkonsentrasi dengan lamunanku, Hp ku berbunyi, dan Nunik menelponku.
"Hallo Nik? Ada apa?"
"Nyobes, Tuan... Nyobes aneh hari ini. Dia bersih-bersih terus. Semua lemari, koleksi benda-benda kesayanganya dibersihkan. Baju-baju kesayanganya disusun rapi, kayak mau pergi jalan-jalan. Raut wajahnya begitu bahagia. Waktu Bibik tanya kenapa, malah ngga dijawab, cuma senyum-senyum aja. "
"Kenapa seperti itu?" tanya ku.
"Ya... Kalau Tuan tanya sama saya, saya nanya ke siapa? Saya juga bingung. Biasanya cuma ngelamun."
"Yaudah, biarin aja. Jangan diganggu, kalau kamu dipanggil, baru kasih bantuan. Jangan merusak mood nya sa'at ini."
"Iya, Tuan..." jawabnya dengan menutup telepon.
__ADS_1
Pov Author
Diana dan Rubby kembali dari belanjanya, mereka sama-sama kelelahan, dan istirahat dikamar Diana. Hingga tak sadar edra pulang, dan membangunkan Diana.
"Dee... Bangunlah,"
"Iya... Kenapa?"
"Apa benar, besok aku harus menjemput Mama?"
"Iya... Siapkan mentalmu," jawab Diana.
"Bailah, aku titip Rubby, karna Ia akan periksa kandungan besok."
"Iya... Pastilah, Mas."
"Baiklah, selamat tidur."
Tubuh Edra bergetar hebat, sa'at mendengar kabar itu dari Diana. Jantungnya berdegup kencang, membayangkan, sa'at diringan sendiri lah yang harus menjemput Mama nya, dan membawanya kekantor polisi, meski ditemani oleh beberapa petugas.
Ia tak bisa tidur semalaman, mata nya tetap terjaga. Hingga pagi harinya, Ia terbangun dengan mata yang merah.
"Mas ngga tidur?" tanya Rubby.
"Hmmm... Mas begadang ngerjain proyek semalaman."
Rubby hanya mengangguk, dan memberi Edra secangkir kopi.
"By, ayo berangkat. Keburu siang," ajak Diana.
"Ayo....." jawab Rubby, dengan memakai tas selempangnya.
Pov Edra.
Aku sampai dirumah Mama, dan langsung menemuinya. Ia terlihat ceria seperti biasanya ketika menyambutku datang.
"Sayang, sini sarapan sama Mama," ajaknya dengam begitu ramah.
Aku menurutinya, dan menemaninya seharian ini, hingga samar-samar kudengar mobil polisi datang. Salah seorang masuk kedalam untuk menjemput Mama.
"Biar Mama bersama saya saja. Kami akan kekantor polisi bersama, dengan saya sebagai jaminanya."
"Baiklah... Kami mengiring dari belakang" jawabnya.
Aku menghampiri Mama dikamarnya, terlihat Ia sudah berdandan rapi, dan terlihat begitu elegan seperti biasanya.
"Ma... Mama sudah siap?"
__ADS_1
"Sangat siap, sayang. Ayo, Mama akan menuruti apa mau mu hari ini, Mama mengikuti semua yang kamu arahkan, menyerahkan diri, dan mengukuti semua prosedurnya."
Aku tersenyum, dan menggandenganya masuk kemobil, lalu membawanya, ketempat yang seharusnya, sesuai dengan prosedur yang berlaku.