
Pov Rubby.
"Sendirian? Mama mengurus rumah ini sendirian? Bagaimana Mama bisa membereskan semuanya? Ngga mungkin, pasti ada pembantu, setidaknya pulang pergi, dan tak menginap disini." gumam ku, sa'at berada dikamar.
"By kenapa? Kok melamun?" tanya Mas edra menghampiriku.
"Mama bilang... Mama mengurus rumah ini sendiri, tanpa pembantu? Benar-benar tanpa pembantu?"
"Hmm... Sebenarnya, Nunik sering membantu kemari, tapi hanya Dua minggu sekali. By tak menyadarinya?"
"Engga Mas... By kira, memang Nunik hoby keluar rumah. Jadi By tak terlalu ambil pusing dengan itu.. Mas ngga kerumah Kakak? By ngga papa kalau ditinggal. Takutnya, Kakak khawatir."
"Oh... Iya, Mas pergi dulu sebentar ya. Nanti sekalian belikan By hp." ucapnya, seraya mengecup keningku, lalu pergi.
Selepas kepergian Mas edra, aku membereskan semua pakaianku dilemari, dan merebahkan tubuhku sebentar.
"By... Tidur?" tanya Mama mirna, yang ternyata sudah masuk kekamarku.
"Engga Ma... Kenapa?"
"Kamu... Kenapa makai jilbab sekarang? Makin berantakan Mama lihat. Lepasin deh, itu dilemari kan udah Mama siapin pakaian branded buat kamu. Pakai yang itu, pakaian kamu, jangan dicampur dengan yang Mama kasih." ucapnya.
"Ma... Tapi Mas edra suka By berpenampilan begini. Dan By juga nyaman,"
"By... Kamu dirumah Mama, kamu harus nurut peraturan Mama. Alasan kenapa Mama ngga pakai pembantu adalah, Mama ngga mau kata-kata Mama ditentang oleh orang lain, dan barang kesayangan Mama, disentuh oleh orang lain. Kamu paham?" tanya Mama mirna, dengan nada khasnya.
"Pa... Paham, Ma.... Bentar lagi, By ganti baju. By mandi dulu," balasku.
Mama mirna meninggalkan ku, dan keluar dengan perlahan. Aku segera mandi, dan menghampiri Mama diruang tengah yang sedang membaca buku.
"Ma... Mama lagi apa?" sapa ku, berusaha ramah.
"Membaca... Beginilah keseharian Mama dirumah. Selain membereskan istana kesayangan Mama ini." jawabnya, dengan memandangi seluruh ruangan yang ada dirumah itu.
"Mama hoby baca, sama kayak Kak dee" ujarku.
Mama menatap aneh, lalu menutup buku itu ditangan nya, lalu meletak kan nya kemeja. "Jangan sebut nama dia disini By. Ini rumah Mama, bukan rumah dia."
__ADS_1
"Tapi kan... By cuma nyamain hobby kalian aja," jawabku.
"Mama ngga suka... Jangan paksa mama menyukai hal yang Mama ngga sukai. Menyukai kamu sebagai istri Kedua edra pun, karna kamu sedang mengandung anaknya, kamu paham?" tanya nya, dengan nada yang datar, dan tanpa menatapku sama sekali.
Aku menunduk kan wajah, dan membalas ucapanya." Ma'af, Ma..."
"Kamu... Kenapa sekarang berpakaian seperti itu lagi? Mama bilang, ngga suka," ucap Mama mirna, mengomentari penampilan baru ku.
"Tapi, Mas edra suka 'Ma. Mas edra malah mendukung penuh keputusan By untuk berhijab," jawab ku.
Mama mendengus pasrah, "Baiklah... Kalau edra yang mau, Mama ngga bisa berkata apa-apa lagi."
Aku tetap bertahan duduk disebelahnya, namun kami saling berdiam hingga beberapa sa'at.
"Bayi mu... Laki-laki atau perempuan?" sambung Mama mirna.
"Belum tahu, Ma... Lelaki perempuan, sama saja 'kan?"
"Tidak... Tidak sama. Lelaki akan lebih bisa menguasai perusaha'an dibanding perempuan. Perempuan itu, tidak bisa memegang kendali penuh atas kekuasa'an. Anak kamu nanti, akan jadi pewaris utama PRATAMA's Grup 'By. Jangan main-main dengan itu."
Pembicara'an ini terlalu jauh bagi ku. Aku bingung harus menjawab apa, karna memang aku tak pernah terfikir tentang ini semua.
Malam datang, aku melaksanakan shalat Isya ku sendirian, sembari menunggu Mas edra pulang. Karna, katanya, Ia mampir kerumah Kak dee sebentar, untuk melepas rindu. Ya... Tak apa, itu memang salah satu kewajiban nya. Aku tak berhak melarang.
Pov Aledra.
"Mas... Cepetan balik kerumah Mama," ucap Dee padaku.
"Kamu ngga kangen sama Mas? Baru juga Sejam Mas mampir," jawabku.
"Bukan masalah rindu tidaknya Mas. Ini Rubby sendirian disana,"
"Dee... Tolonglah sedikit berfikir positif pada Mama. Mama tak akan mencelakai By, karna By sedang mengandung Anak ku."
"Dee bukan tak percaya. Tapi, rasa khawatir itu lebih besar dari perasa'an apapun sekarang. Dan mengenai Mama... Ma'af, jika hingga sa'at ini belum bisa untuk bersikap baik padanya. Dee sudah benar-benar kehilangan simpati pada Mama." jawab Diana, dengan nada sedikit meninggi.
"Baiklah... Mas pulang kerumah Mama," jawab ku, dengan kembali mengenakan Jas ku.
__ADS_1
"Udah belikan By hp 'kan?"
"Udah... Udah diprogram, udah diisi aplikasi kesuka'anya. Udah ada nomor hp mu dikontak utama." jawabku.
"Bagus... Salam sama By ya. Kalau ngga betah, bawa dia kemari segera."
"Dia justru punya niat mau mendamaikan kalian Dee..."
"Siapa? Aku dengan Mama? Bilang sama By, menyerah saja."
"Apa salah nya Dia mencoba," jawabku.
"Terserah... Asal jangan membuatnya stres nanti. Kasihan Bayi nya,"
"Sekarang bawel ya, makin seger, makin semangat. Udah sembuh kah? Ngga pernah sakit lagi 'kan?" godaku.
"Ngga tahu... Ini pertanda baik, atau sebaliknya. Yang jelas, disyukuri saja. Jadwal kemo masih Tiga kali lagi 'kan. Jalani saja dulu," jawabnya dengan antusias.
"Dee... Kamu akan semakin terkejut melihat penampilan baru By, Dia sekarang mulai berhijab. Ya, meskipun sebenarnya itu adalah amanat dari Bagas. Tapi itu suatu hal baik, yang harus kita dukung 'kan?"
"Serius Mas? Ya ampun, makin rindu Dee sama dia. Please, jangan lama-lama disana ya," rayu nya padaku.
"Ya... Kalau rindu kesana saja, temui." balasku.
"Mas... Jangan main-main," ancamnya.
Aku hanya tertawa kecil dengan perkata'an Diana padaku, dan segera pergi dari rumah itu. Kembali bersama Rubby yang masih santai dirumah Mama. Ya, semoga saja seperti itu.
Setibanya dirumah Mama. Mama menyambutku diruang tamu, seperti manyambut anaknya yang baru saja pulang dari sekolah. Dibuka kan jasnya, dibawakan kopernya, dan langsung diajak makan malam.
"Rubby mana Ma?" tanya ku.
"Dia dikamar, tadi Mama antar makanan dia kesana. Mama masak sendiri, khusus buat kamu." ujarnya, dengan menatap ku penuh dengan kasih sayang.
"Kenapa ngga diajak makan disini bareng-bareng?"
"Ngga usah... Dia kelihatanya capek banget. Jadi biarin aja, Dia biarin istirahat dikamar." sambung Mama.
__ADS_1
Mama melayani ku dengan teliti, dan penuh perhatian. Tak ada sedikit salah pun. Senyumnya mengembang, seolah Ia benar-benar rindu keberada'an ku disini untuk menemaninya.
"Andai saja, semua baik-baik saja, Ma. Tak seperti ini... Mungkin kita semua akan lebih berbahagia bersama-sama, bedampingan, dan penuh canda tawa." batinku, menatapnya dengan penuh kekaguman.