MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
RUMIT


__ADS_3

Aku terus berkeliling mengitari Rumah Sakit demi mencari nya, namun tak kunjung ku temukan, hingga seorang perawat datang menegurku.


"Permisi Mba... Cari Kakaknya ya, saya lihat beliau lari ke taman tadi." Ucap nya dengan menunjuk kan arah taman.


"Oh iya Sus, terimakasih." Jawabku lalu kembali lari mencari Bu Diana.


Akhirnya aku menemukan nya. Dia sedang merenung disebuah kursi, dengan memandangi sebuah foto di gawainya.


"Bu...." Sapa ku.


"By... Kenapa ini semua terjadi pada saya By?" Tanya nya padaku.


"Allah tahu Ibu kuat, maka nya Allah mmemberikan cobaan ini Buat Ibu."


"Tapi, yang menanggung nya bukan cuma saya, By. Suami saya juga, kasihan Dia. Saya tahu Dia lelah terus begini. Saya ingin Dia menceraikan saya By... Saya ngga mau jadi penghalang kebahagiaan Dia." Ucapnya Berurai air mata.


"Bu... Saya yakin. Sekuat apapun Ibu berusaha untuk berpisah dari Bapak, Bapak ngga akan mau Bu. Bahkan, jika Ibu memutuskan untuk mengakhiri hidup Ibu sekarang, kemungkinan Bapak pun akan segera menyusul."


"Tidak By... Dia tidak sebodoh itu." Balasnya.


"Menurut Ibu, kurang bodohkah Bapak selama ini? Seperti apa yang mertua Ibu bilang, Jika Pak Edra begitu Bodoh karna mempertahan kan Orang seperti Ibu. Tapi, seperti itu lah keadaan nya."


"Kamu terlalu jujur By, berani kamu bilang suami saya Bodoh?"


"Kadang memang kita butuh sebuah kejujuran yang pedih untuk memperkuat diri kita Bu." Balas ku.


"Lalu bagaimana?" Tanya nya padaku.


"Jangan tanya saya Bu, saya hanya bisa menurut dan merawat Ibu. Semua keputusan, Ibu lah yang harus menjawabnya." Ucapku padanya.


Bu diana segera menyeka air matanya, dan mengajak ku pulang.


Aku menyetir dengan pelan dan kembali mengajak nya bicara.


"Oh iya... Tadi perawat bilang kalau Ibu lebih pantas jadi Kakak saya. Lucu ya." Imbuhku dengan sedikit tertawa.


"Terus, kamu mau panggil saya Kakak, atau Mba?"


"Ya... Kalau boleh sih, tapi By takut dimarah Bapak nanti."


"Ngga akan... Pasti Bapak setuju. Dia juga ngga punya adik perempuan."


"Bapak anak tunggal?"


"Iya By, anak tunggal dari Ibu kandungnya Bu Retno. Dan yang datang kemarin itu adalah Ibu sambung nya Bu Mirna."


"Rumit ya, Bu."


"Iya By... Bu Mirna sebenarnya sayang dengan Mas edra, namun sayang nya itu terlalu berlebihan. Bahkan terkesan terobsesi agar Mas edra mau menuruti semua apa yang Ia mau."


"Hah... Seperti itu kah?"

__ADS_1


"Iya By... Dulu beliau sangat menentang kami menikah karna saya anak yatim piatu. Dan sekarang, saya malah sakit dan ngga sembuh-sembuh. Itu menjadi celah Nya agar bisa memaksa Mas edra bercerai dari saya."


"Yang sabar ya Bu... Ternyata kisah hidup Ibu lebih rumit dari saya. Saya ditinggal Bang Bagas aja, rasanya dunia langsung berhenti." Ucapku.


"Wajar By. Setiap orang punya masalah masing-masing."


"Iya Kak... Kakak yang sabar ya. Hehe."


"Kamu ini By. Bisa saja menggoda saya." Ujar Bu diana yang mulai tersenyum.


Kami saling lempar candaan hingga akhirnya sampai dirumah.


Kak diana turun pelan dari mobil, tangan nya memegangi kepala.


"Kak, kenapa?"


"Pusing By..."


Aku segera memapahnya masuk kerumah.


"Assalamu alaikum." Ucap kami bersamaan.


"Kumsalam... Ini dia, akhirnya pulang juga. Kamu ngga tahu saya nunggu daritadi? Atau kamu memang sengaja mengabaikan saya?" Ucap Bu Mirna dengan nada datarnya.


"Ma... Bahkan Dee ngga tahu mama disini, bagaimana bisa Dee mengabaikan mama?"


"Lantas kamu darimana saja?"


"Kamu panggil dia Kakak? Hebat ya Kamu." Ucap Bu Mirna.


"Ma... Udah, Dee lagi ngga mau ribut. Mama kenapa kesini?"


"Mama mau tahu, bagaimana perkembangan penyakitmu. Udah mendingan, atau makin parah?" Tanya Bu Mirna lagi.


Kami berdua kompak untuk diam, hingga Bu Mirna sedikit mengeluarkan nada tinggi nya.


"KENAPA DIAM?" Bentak nya.


Seketika Kak Diana langsung pingsan dan terjatuh disampingku.


"Kak... Kakak kenapa? Ya Allah. Paaaak... Pak ujang tolongin Ibu pingsan!" Teriak ku.


Seisi rumah langsung keluar untuk membantu ku membawa nya ke kamar.


Aku segera menelpon Pak Edra agar segera pulang.


"Hallo... Pak, tolong pulang Pak. Ibu pingsan." Ucapku.


"Pingsan kenapa? Bukan nya barusan berobat?"


"Itu... Mama nya Bapak datang. Cerita nya panjang Pak. Tolong pulang kasihan Ibu." Mohon ku pada nya.

__ADS_1


Selesai menelpon, segera ku pijati tangan Kak diana dengan minyak telon agar segera sadar.


"Kak... Sadar kak." Ucap ku panik.


"Makin parah kan penyakitnya? Sudah saya bilang, dia ngga akan sembuh. Ngapain dipertahanin sampeĀ  bucin."


Aku hanya diam, dan tak berani melawan mendengar kata-katanya yang terus saja mencaci Kak diana.


Aki hanya pasrah dan menunggu Pak Edra pulang.


"Dee... Sayang, kamu dimana?" Ucap Pak edra dari ruang tamu.


"Dikamar Pak!" Sahutku.


Pak edra langsung berlari menuju kamar nya menghampiri kami.


"Ma... Kenapa kemari?" Tanya nya dengan mencium tangan Mama nya.


"Mama cuma mau ngecek Istri kamu gimana keadaan nya. Ternyata, penyakitnya tambaj parah." Ucap Bu mirna enteng.


"Ibu gimana By?"


"Stadium tiga Pak." Jawabku singkat.


"Astaghfirullah." Ucap Pak edra dengan mengusap wajahnya.


"Kan makin parah... Ayo lah sayang, turuti Mama kali ini. Menikahlah dengan Maya, Mama tahu betul silsilah keluarga mereka. Mereka keluarga subur, ngga penyakitan, apalagi mandul."


"Stop Ma... Jangan kata kan lagi Diana Mandul. Kami tidak mau punya anak karna kondisi nya yang tidak memungkin kan Ma."


"Dra... Keluarga kita butuh keturuanan. Terutama kamu, Mama ngga mau kalau kamu jadi keturunan terakhir dalam keluarga kita." Bujuk Bu mirna.


"Ma... Edra minta dengan sangat, Mama pulang dulu ya sekarang. Nanti jika keadaan sudah tenag. Edra akan kesana membicarakan semua ini."


"Oke... Mama pulang dulu ya sayang. Mama tunggu kabar baik dari kamu. Ingat... Keluarga besar kita bergantung sama kamu." Ucap Bu mirna lalu pergi.


Pak Edra menghampiri Kak diana. Aku langsung menyingkir membiarkan mereka berdua, namun tangan ku ditahan oleh Kak diana.


"By... Jangan pergi." Ucapnya.


"Dee, sayang... Kamu ngga papa?" Tanya Pak edra.


"Mas... Mama benar. Keluarga besar kita bergantung padamu untuk melanjutkan keturunan. Aku ikhlas kamu menikah lagi."


"Dee... Jangan main-main, aku ngga suka. Aku ngga akan menikahi Maya, aku ngga suka sama dia." Ucap Pak edra.


"Bukan Maya Mas. Tapi Rubby... Menikahlah dengan Rubby."


"APA?!!" Ucap ku dan Pak edra bersamaan.


Entah darimana Kak diana mempunyai ide seperti itu. Bahkan Ia tak membicarakan nya dulu padaku.

__ADS_1


__ADS_2