
Makan malam usai. Aku kembali kekamar dan mulai mengemasi pakaianku, karna besok adalah jadwal aku pulang kampung.
Mas edra menghampiriku, dan membantu ku membereskan semua.
"By... Biar Mas bantuin... Auuuwh..!" lirihnya dengan memengangi pergelangan tangan.
"Mas... Sakit?" tanya ku.
"Sakit By... Dia pakai tongkat baseball tadi."
"Kenapa ngga kedokter sekalian? Takutnya kenapa-kenapa," omelku.
Mas edra meraih wajahku yang mulai basah karna air mata. "Hey... Mas ngga papa, kenapa nangis? Mas masih kuat nyetir kok besok."
"By memang pembuat masalah... Semua kena imbasnya. Kak dee diserang, Mas luka. Semua gara-gara By,"
"By... Ngga boleh ngomong gitu. Itu bukan salah By. Ramlan yang terlalu teorbsesi sama By 'kan,"
"Andai saja...."
"Hey... Ngga boleh bawa-bawa masa lalu. Masa lalu hanya boleh diingat untuk dijadikan pelajaran. Itu kata Bapak sama Mas kemarin,"
"Iya Mas... Ma'af. Sekarang Mas istirahat aja, temenin Kak dee juga ngga papa. Tapi tolong panggilin Bik Inah, suruh bantuin By." pintaku.
"Ngga papa? Yaudah, Mas pergi dulu ya sayang," pamitnya, sambil membelai kepalaku.
Tak lama kemudian, Bik inah datang dan membantu ku membereskan semua pakaian.
"By... Mau berapa lama dikampungnya?" tanya Bik inah padaku.
"Ngga lama... Paling Tiga hari, tapi abis itu pulang kerumah Mama mirna." jawabku.
Bi inah terbelalak mendengar perkata'an barusan, dan menegaskan nya lagi padaku.
"By... Kamu serius mau nginep disana?"
"Iya Bik... Mas edra juga minta, sekali-kali By kesana. By 'kan memang belum pernah sama sekali berkunjung Bik,"
"Iya... Kamu hati-hati saja. Kalau ada apa-apa, hubungi saja Kakakmu." begitu pesan Bik inah, yang membuat ku mengerenyitkan dahi.
__ADS_1
Ada apa sebenarnya? Kenapa mereka terlihat begitu enggan berurusan dengan Mama mirna. Entah lah, aku hanya harus mempersiapkan diriku dari sekarang.
"Udah By... Kamu istirahat saja ya. Besok pagi, Bibik bangunkan. Jangan lupa vitamin mu," pesan Bik inah pada ku.
Sepeninggal Bik inah, aku merebahkan diri keatas ranjang, dan berusaha memejam kan mataku, namun sulit. Tiba-tiba, aku terbayang masa kecilku bersama Bang ramlan. Dimana kami dulu memang begitu akrab, bermain selalu bersama, kekebun bersama, makan pun sepiring berdua.
Dulu... Bu lurah tak seperti ini, beliau masih menjadi wanita yang baik dan penyayang, terutama padaku. Sering Ibu dan Bu lurah saling lempar panggilan calon mantu pada satu sama lain. Dan membuat mereka begitu akrab. Tapi, semua berubah saat Suaminya mulai menjabat sebagai lurah. Apalagi jabatan itu sudah dipegang selama puluhan tahun, dan belum ada yang menggantikannya hingga sekarang.
Sejak saat itu, Bu lurah mulai berubah pada semuanya. Pada Ibu, padaku pada semua sahabat anaknya, yang menurutnya adalah orang dengan masa depan suram. Terutama padaku, yang sudah beberapa kali menolak cinta Bang ramlan. Bu lurah semakin gencar menjauhkan ku dari nya, dengan cara menyekolahkan nya diluar kota, menaksanya memasuki jurusan yang tak Ia sukai, hingga sempat Bang ramlan menangis dihadapanku karna sudah tertekan sangat dalam.
Pov Edra.
Ternyata, aku belum mengenal Rubby sepenuhnya. Bagaimana kehidupannya sebelum bersama ku. Yang aku tahu, hanya sa'at Ia kehilangan calon suaminya menjelang pernikahan, dan setelah itu, aku seolah menutup mata karna sibuk dengannya dan Diana.
Aku tahu, Ia gadis yang baik. Tapi juga penuh tanda tanya. Kenapa seorang lelaki bisa sampai mengejarnya seperti itu. Terlalu cinta kah, atau hanya terobsesi? Yang jelas, Kejadian ini lumayan membuat trauma bagi kami.
Aku menuju ke kamar Diana, dan mengajaknya berbicara.
"Dee... Boleh Mas bicara?"
"Hmm... Bicara apa Mas?" tanya Diana.
"Tentang Pria tadi... Dia dari kampung Rubby 'kan? Siapa dia?"
"Iya.... Mas masih ingat itu. Kenapa By nolak dia? Padahal ramlan itu tampan, tinggi, sempurna."
"Kalau By sama ramlan... By ngga akan jadi Madu manisku Mas. Kenapa sih? Cemburu? Eh iya... Cemburu ya, ayooo ngaku,"
"Engga.... Ngapain cemburu? By kan udah jadi istriku, dia milik ku sekarang." jawab ku, santai.
"Mas... Cemburu ngga papa kok, normal itu."
"Engga Dee... Mas ngga ada cemburu. Dee, besok sama Rara kan dirumah?" tanyaku lagi.
"Iya... Thomas juga. Mereka mau stay disini katanya, trauma kalo aku drop lagi kayak kemarin."
"Oke lah... Kamu jaga diri baik-baik ya,"
"Kenapa lagi, khawatir aku disamperin Mama dirumah? Ngga akan. Mama ngga akan berani sama aku sekarang. Dia lagi fokus mencari perhatian By."
__ADS_1
"Iya... Yaudah, tidur yuk... Besok Mas berangkat pagi."
Aku memeluknya dengan erat, karna jujur aku begitu rindu dengan nya. Tapi, hanya sabar yang bisa ku berikan sa'at ini.
Pov Rubby.
"By... Bangun By, sudah pagi. Telat shakat subuh loh..." bujuk Bik inah padaku.
Aku mrnggeliatkan badan, dan segera kekamar mandi mengambil air wudhu, dan melaksanakan shalat subuh yang hampir tertunda.
Segera aku keluar dan mencari Mas edra, yang rupanya sudah santai membaca koran diteras belakang.
"Mas udah bangun tapi ngga bangunin By... Kakak mana?" omelku.
"Kakak mandi," jawab nya, tanpa melirik ku.
Aku segera membalik kan badan, dan mencari Kak Dee dikamarnya.
"Kak... Kakak dimana?"
"Dikamar mandi By..." jawabnya.
Aku segera menghampirinya, yang ternyata, Ia sedang membasuh hidungnya karna mimisan.
"Ya Allah Kak... Kakak masih suka mimisan? Kenapa ngga bilang By"
"Engga... Ngga papa, ngga sakit juga. Nanti kalau Kakak panggil, By malah panik naik turun tangga, bisa bahaya." jawabnya dengab begitu tenang.
"Masih sering seperti ini?" tanya ku.
"Engga... Sesekali aja, udah sana samperin Mas. Ajak sarapan, bentar lagi berangkat."
"Iya... Tapi,"
"Udah sana..." ucapnya dengan nada sedikit membentak.
Aku segera pergi meninggalkan nya yang masih membersihkan sisa darah dihidungnya. Penemuan itu, membuatku maju mundur untuk pulang. Tapi, jika ku batalkan, maka Ia akan semakin marah.
Sekarang, yang bisa ku lakukan hanya lah lebih sering berdo'a agar Ia selalu sehat selama ku tinggalkan nanti.
__ADS_1
Aku menghampiri Mas edra, dan mengajaknya sarapan. Setelah itu, Mas edra mulai memasukkan satu persatu barang bawa'an kami kemobil. Kak Dee keluar dan melepaskan ku dan suami kami pergi bersama. Wajahnya terlihat segar, tak seperti yang ku temui tadi.
Kenapa berbeda Kak... Apa yang Kakak sembunyikan sekarang?