MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Tetap bersyukur, meski lelah.


__ADS_3

"Mas... Udah ah, jangan nangis lagi. Udah mau jadi ayah ngga boleh cengeng," bujuk Ku padanya.


Mas edra hanya mengangguk, lalu kembali menyeka air mata dan memghentikan tangisnya.


Aku segera mengganti baju ku, dan menuju meja riasku.


"Dee... Biar Mas sisirin rambutnya."


"Mas... Lupa kalau Dee udah botak? Botak cantik," ucap Ku, dengan meletak kan kedua jari disudut pipi.


"Ya Allah... Maaf Dee,"


"Engga papa... Udah yuk, nanti By kelaperan lagi nungguin kita," balasku dengan memakain rambut palsu andalan ku.


Aku dan Mas edra segera menghampiri Rubby yang ternyata sudah lama menunggu dimeja makan.


"By udah daritadi?" tanya Ku.


"Iya... Abis subuh ngga bisa tidur lagi, jadi By bantuin Bik Inah nyiapin sarapan."


"Perutnya udah ngga keram?" sahut Mas edra.


"Engga Mas... Udah baikan kok. Udah yuk sarapan, By yang masak loh."


"Oke... Sepertinya enak," jawab Mas edra, saat memperhatikan semua menu yang tersedia.


Kami sarapan bersama dengan lahap. Ya, karna masakan Rubby memang enak. Hingga aku pun lupa jika aku harus kemo hari ini. Jangan makan terlalu banyak, karna pasti nanti aku akan muntah lagi.


"Ya... Khilaf sarapan nya kebanyakan." gumam Ku.


"Kenapa Kak? Makanan By ngga enak?"


"Engga... Enak kok, nyatanya Kakak sampai khilaf sarapan segini banyak. Takutnya nanti pas kemo.... Ya, tau sendiri lah," balas Ku.


"Yaudah... Berhenti dulu makan nya. Udah jam berapa ini, berangkat yuk," ajak Mas edra.


Aku segera beranjak dari kursi. Dan mengambil tas ku dikamar. Mas edra menggandeng ku keluar rumah setelah berpamitan dengan Rubby.

__ADS_1


Perjalanan terasa singkat, mungkin karna sudah terlalu terbiasa aku menjalaninya. Sebenarnya sudah begitu lelah oleh semua tindakan, tapi demi mereka, kembali lagi aku harus tetap kuat.


"Ayo Dee, kita masuk. Dokter sudah menunggu," ajak Mas edra.


Aku kembali melangkahkan kaki ku dengan malas. Sesekali aku mendneguskan nafas, saat mencium aroma rumah sakit yang begitu familiar di hidungku.


"Dee... Semangat dong," bujuk Mas edra, dengan membelai rambutku.


"Iya... Dee semangat kok,"


Kami langsung menuju ruangan Dokter, dan melakukan satu persatu agenda yang sering dilakukan. Hingga, waktunya untuk menyuntikan jarum itu kelengan ku.


Sakit... Ya itu yang ku rasakan selama lebih dari Dua tahun ini. Kemoterapi hanya memperlambat penyebaran, bukan mematikan. Dan saat itu juga, beberapa saraf dalam tubuhku ikut melemah karna efek obatnya.


Aku kembali mual dan muntah seperti biasa. Tapi kali ini begitu perih sampai ke ulu hati.


"Mas... Sakit," ujar ku dengan memegangi perut.


"Muntahin aja ngga papa, nanti Mas beresin." jawab Nya.


Aku hanya mengangguk dan kembali pasrah dengan semua keadaan, yang memang tak bisa ku tolak.


"Dee... Sepertinya kamu menunjukan respon positif terhadap kemo mu," ujar Dokter.


"Benarkah? Padahal sebenarnya sudah malas di kemo. Saya pengen pasrah aja," jawab Ku, dengan kondisi yang masih lemas.


"Ngga boleh gitu... Kalau kamu ngomong gitu, percuma selama ini Mas sama By nurutin semua keinginan kamu, dan nyemangatin kamu," sahut Mas edra, dengan nada kesal.


"Ma'af," balasku.


"Dee... Bersyukurlah. Se'lelah apapun kamu, sebosan apapun kamu. Kamu masih bisa melakukan pengobatan dengan normal, dan tepat waktu. Tidak seperti beberapa orang yang tergabung dalam Yayasan Kanker. Mereka sedang mencari donatur sekarang." ujar Dokter.


"Banyak kah mereka? Apa saja penyakitnya?"


"Mereka sekitar Lima Belas orang disana dengan kanker yang berbeda-beda. Mau kesana? Ini, alamatnya. Siapa tahu, dengan melihat kondisi mereka semua, kamu akam lebih bersyukur, dan lebih bersemangat." jelas Dokter pada ku.


Semua kegiatan selesai. Waktunya untuk ku pulang setelah kami berpamitan.

__ADS_1


Mas edra menyupir mobilnya pelan, karna melihatku masih lemas dan pucat.


"Dee... Masih lemas?" tanya Mas edra.


"Masih Mas. Apa karna tadi sarapan kebanyakan ya, jadinya muntah sampai perih."


"Mungkin lah... Besok-besok, kalau mau kemo sarapan nya dikit aja, ya. Nanti kalau udah pulang, minta By masakin lagi," ujarnya, yang kembali mengelus kepalaku yang berambut palsu itu.


Pov Rubby.


Aku senang, saat Kak Dee begitu lahap menikmati masakan ku. Aku sebenarnya penggila pedas, tapi karna ingat Kak Dee, dan kehamilan ku, jadi semua ku kontrol. Tapi, tak apa asal semua sehat.


Selepas Kak Dee pergi, aku menuju teras belakang untuk menyiram semua tanaman kesayangan nya, dan membersihkan dahan yang daun nya mulai mengering. Ku susun kembali dengan rapi setelahnya, dan istirahat sejenak jika sudah mulai lelah.


"Non By... Ini susu nya," ujar Bik nunik, yang membawa ku camilan dan segelas susu.


"Makasih ya, Bik."


"Iya... Itu tanaman kesayangan Nyonya 'kan?"


"Iya... Kebetulan, By juga yang beli'in, jadi sama-sama jaga lah." jawab Ku.


"Selama ini... Saya paling ngga percaya sama yang namanya poligami, tapi semua akur. Ngga saling labrak aja, udah bersyukur banget kayaknya. Tapi, yang dihadapan saya ini, begitu aneh. Tinggal serumah, manis-manisan. Emang ngga cemburu apa?"


"Cemburu gimana?" tanya Ku.


"Ya... Cemburu aja, kalau lagi giliran. Apalagi, kondisi Non kan lagi btuh dimanja, diperhati'in. Bibik rasa, kalau emang Non mau aja, bisa tuh Bapak ngasih kasih sayang lebih ke Non."


"Bik... Kasih sayang mereka ke By itu rasanya udah meluber kemana-mana. Jadi insyaalah, By ngga akan kekurangan kasih sayang. Masalah hati, insyaallah karna memang By tahu posisi By, jadi By ngga ada cemburu sama Kakak." jawab Ku.


"Hmmmh... Yaudah, seberapa kuat aja deh, sama prinsip yang begitu," ucapnya lalu pergi meninggalkan Ku.


Aku menggelengkan kepala karna heran dengan kata-katanya.


Sambil menunggu susu ku dingin, aku terus melanjutkan kegiatan ku tadi. Sekilas aku melihat kearah bawah, yaitu gerbang utama rumah ini. Terlihat sosok pria yang kemarin sempat mrngikutiku saat berbelanja dengan Mama.


"Kok... Dia lagi, siapa sih? Orang suruhan Kakak bukan. Tapi kok, disini terus?"

__ADS_1


Aku diam-diam memperhatikan gerak geriknya. Tak ada yang mencurigakan, hanya seperti orang yang sedang menunggu seseorang keluar dari rumah kami.


Aku mencoba tak ambil pusing lagi dengan nya setelah itu. Dan kembali mengerjakan pekerjaan ku, hingga tiba waktunya Kak dee dan Mas edra pulang dari Rumah sakit, dan senang saat melihat tanaman nya, bersih dan terawat.


__ADS_2