MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Istana pengekang


__ADS_3

Aku menghampiri Rubby dikamar, stelah makan malam ku bersama Mama. Aku melihatnya tertidur pulas, sepertinya begitu nyaman disini.


"By... Udah tidur?" tanya ku padanya.


"Hmmmh... Mas, ma'af. By ketiduran, baru makan tadi rasanya ngantuk banget."


"By nyaman disini?"


"Sementara ini, biasa aja Mas. Cuma agak aneh aja, karna By ngga boleh ngapa-ngapain. Jadi dikamar, diem, sekali-kali ngobrol sama Mama diruang depan." jawabnya.


"Iya, begitu lah Mama. Ini hp By, udah Mas instal semua aplikasi kesuka'an By."


"Nomor Kakak?"


"Udah semuanya. Salam dari Kakak, katanya kalau By ngga betah pulang aja."


"Kenapa ngga Kakak yang nengok By kesini?"


"Jangan maksa By. Kakakmu bisa sakit kepala nanti. Jangan terlalu memaksa keada'an untuk menjadi seperti yang By mau. Tolong jaga perasa'an Kakak ya sayang,"


"Iya deh.... Tidur yuk Mas, By ngantuk banget," ajak nya padaku.


Pov Rubby.


Aku terbangun diwaktu subuh, mengerjakan shalat subuhku, dan menghampiri Mama didapur yang sedang memasak.


"Ma... By bantu ya...." tawarku.


"Ngga usah... Mama lagi buat makanan kesuka'an edra. Kamu kalau mau bantu-bantu, bersih-bersih aja. Tapi bagian bawah aja, atas jangan."


Aku mundur perlahan, dan menuruti semua mau nya. Ku ambil sapu, dan membersihkan ruangan yang ada dilantai bawah. Meskipun begitu, ruangan itu begitu besar, dan cukup membuat pinggangku pegal.


Diteras rumah, aku duduk sebentar meringankan pinggangku, dan mengusap keringatku.


"Capek? Untung cuma seruangan bawah 'kan. Makanya, mau bersih-bersih jangan pakai baju panjang begitu, ribet kan jadinya." ujarnya dengan memberiku segelas air putih.


"Makasih, Ma. Iya capek banget," jawab ku.


"Apa jadwal edra hari ini?"


"By kurang tahu, Ma. Kenapa?"


"Kenapa bisa ngga tahu semua jadwal suami mu, harus nya kamu tahu. Dia kemana, bersama siapa, apa kegiatan nya. Kamu itu istrinya.... Oh tuhan, Mama lupa, kamu itu hanya istri kedua. Oke, tak apa..."

__ADS_1


"Kenapa harus mempertegas itu lagi sih." batinku.


"Oh iya, By... Mupung kamu disini, nanti malam Mama mau adain Baby shower buat kamu, dan Bayi mu."


"Baby shower itu, apa Ma?"


"Ya ampun, itu aja ngga tahu... Kalau acara kampung mu itu selametan. Biasanya buat Tujuh bulanan, tapi berhubung kamu disini nya sekarang, makanya Mama percepat. Tapi bukan selamatan ya, ini acara orang kaya dan berkelas seperti Mama. Kamu ikutin aja nanti, " balasnya, lalu pergi meninggalkan ku.


Aku kembali kekamar, dan membangunkan Mas edra untuk sarapan, dan bersiap kekantor nya.


"By tunggu diruang makan, ya." ujarku.


Aku berjalan menemui Mama yang sudah menunggu kami dimeja makan.


"Mana edra"


"Lagi mandi, Ma..."


"Kenapa ngga ditungguin, kenapa ngga dilayanin. Itu tugasmu loh,"


"Iya, Ma...." aku berbalik arah, kembali menuju Mas edra.


"Loh.... Kenapa By kembali lagi?" tanya Mas edra, heran.


"Kita harus barengan, ngga boleh sendiri-sendiri. Katanya, By harus layanin Mas dulu," jawabku, dengan menirukan gaya Mama.


Aku menunggu nya berganti pakaian, hingga selesai, dan menggandengnya keluar kamar.


"Udah siap sayang?" sapa Mama, dengan senyum indah nya.


"Udah, Ma. Yok sarapan, edra udah laper banget. Dan ini semua makanan kesuka'an edra, hmmmm....." ujar Mas edra, yang mengagumi isi meja makan tersebut.


Selesai sarapan, Mas edra berangkat kekantor. Dan saat itu pula, ada beberapa orang datang untuk mendekorasi rumah, seperti akan diadakan pesta mewah.


Aku hanya bisa diam terbelalak, melihat itu semua, tak mampu lagi berkata-kata. Antara heran, aneh, dan bahkan, hanya melihatnya saja aku sudah dibuat lelah dengan itu.


"Ma... Katanya selamatan, kok begini?" tanya ku.


"Baby shower By, kamu ini. Selamatan itu hanya perumpama'an. Kamu harus pakai gaun ini, lepas jilbab itu malam ini. Berdandan se'anggun mungkin. Jangan mempermalukan Mama dihadapan para sosialita sahabat Mama." ujarnya, dengan memberi sebuah gaun.


Aku hanya bisa mendengus kesal, namun tak bisa menolaknya.


Aku kembali kekamar, dan menelpon Kak dee.

__ADS_1


"Hallo, By... Kenapa?" tanya Kak dee.


"Kak... Baby shower itu apa?"


"Oh... Acara tujuh bulnan. Kenapa?"


"Mama mau buatin Baby shower buat By, sama temen-temen sosialita nya."


"Hah! Kapan?"


"Malem ini, Kak... Kakak ngga diundang?"


"Diundang pun Kakak malas kesana, By. By jaga diri, hati-hati, jangan sampai kelelahan. Kalau ada apa-apa, By telpon Mas." pintanya padaku, dengan nada penuh khawatir. Lalu, tanpa berpamitan, Ia menutup telpon ku.


"Ha... Halo, Kak... Ini kenapa lagi," heran ku sa'at itu.


Pov Diana.


"Bagaimana bisa, Mama membuat acara seperti itu saat ini. Sengaja tak memberi tahu ku? Mas edra... Dia harus ku mintai penjelasan." gumam ku, dengan hati yang gelisah. Segera pula ku telpon Mas edra, saat itu.


"Kenapa ngga diangkat-angkat sih... Apa ada pertemuan penting? Sampai mengabaikan telpon ku," jengkelku saat itu.


Aku keluar ruangan, dan mencari Nunik didapur.


"Nunik... Nunik... Dimana kamu?" teriak ku.


"Didapur Nyonya," sahutnya, dan berlari menghampiriku. "Ada apa, Nyah?"


"Kamu tidak disuruh kerumah majikan mu?" tanya ku.


"Lah... Majikan saya 'kan, Nyonya..."


"Jangan kamu kira saya ngga tahu, kalau kamu itu orangnya Mama mirna. Sekarang... Katakan, apa kamu tahu rencana pesta dirumah Mama malam ini?" gertak ku.


"Saya.... Ngga tahu Nya... Kalau saya tahu, pasti setidaknya saya disana membantu berberes meskipun sebentar. Karna Nyobes, tidak menginginkan yang lain untuk membersihkan rumah itu." jawab Nunik, dengan gugup.


"Alasan kamu bisa dipercaya? Awas kalau bohong."ancam ku.


Aku sejenak duduk, dan berfikir keras. Ingin rasanya ku batalkan acara tersebut, namun tak mungkin juga. Aku tahu, itu acara untuk Rubby, Rubby pasti bahagia dengan rencana itu.


" Tunggu saja nanti... Firasatku kuat terhadapnya. Jika terasa sesuatu... Maka akan ku jemput Dia kesana. Meskipun berat." gumam ku.


Aku kembali menenangkan diri, dan menghindari stres untuk saat ini. Ku hampiri tanaman ku, dan mulai ku siram, dan ku rawat kembali.

__ADS_1


Sejak menikah, hanya setahun Aku bertahan dirumah besar itu. Dan sejak kejadian itu, aku pergi dengan menggandeng Mas edra. Dan aku memutuskan untuk tak pernah lagi menginjak kan kaki ku kesana. Demi apapun itu.


"Demi Rubby... Haruskah, ku kunjungi Istana itu kembali? Betapa sesak, hanya untuk membayangkan nya, saat aku harus menapakan kaki ku selangkah demi selangkah kesana." gumam ku lagi.


__ADS_2