
"Ma... Maaf pak, maksudnya bagaimana?" tanya salah seorang dari mereka.
Suasana menjadi hening, wajah tegang terpampang jelas dari mereka berdua.
"Maksudnya? Kalian tanya maksud saya?. Sekarang saya kembali tanya, apa maksud kalian membicarakan istri saya?"
"Ma'af pak, kami tidak menjelekan istri bapak, hanya saja kami heran dengan tingkah beliau yang manja, dan bisa dengan santai memerintah bapak. Sedangkan Bu diana saja tidak berani seperti itu,"
"Lalu... Apakah tidak boleh seorang istri yang sedang hamil, meminta sesuatu pada suaminya? Apakah tidak boleh, jika Ia bermanja pada suaminya."
"Maaf Pak... Kami tidak tahu, jika Ibu sedang hamil,"
"Ya... Tidak tahu, tapi tidak sungkan untuk bicara... Hebat. Mulai besok, tak perlu masuk untuk bekerja." jawab Ku singkat.
"Pak... Tolong jangan pecat kami, kami mengaku salah. Kami janji, tak akan mengulangi lagi," rengek mereka bersama'an.
Aku tak bergeming dengan semua rengekan mereka, hingga akhirnya mereka menyerah, dan keluar dari ruangan ku.
"Maaf... Aku harus memberi peringatan pada semua karyawan ku, melalui kalian. Ini adalah sebuah pelajaran penting, agar kalian sadar jika bgaimanapun kondisinya, Rubby adalah istri ku, yang tak pantas kalian gunjingkan." ujar Ku dalam hati.
Aku melanjutkan pekerjaan ku yang sempat tertunda, dan harus segera menyelesaikan nya karna setelah proyek baru ini selesai. Aku akan memfokuskan diri pada Diana dan Rubby. "Kita akan menyambut Bayi kita bersama-sama. Kita akan bahagia bersama. Aku janji,"
Pov Rubby.
"Mba... Bonsai yang ini berapa'an harganya?" tanya Ku pada seorang penjual tanaman dipinggir jalan.
"Yang itu Lima ratus ribuan, Bu." jawab nya.
"Lumayan mahal bagi ku. Tapi, tak apalah, Kak dee saja sanggup membelikan ku sebuah mobil mewah. Masa hanya tanaman begini saja, aku berfikir keras."
"Mau yang ini ya, 2 pot. Sama yang model tales itu tiga." pinta Ku.
Sang penjual segera merapikan nya, dan membawanya kedalam mobil, dibantu Mas Bima.
"Berapa semuanya?"
"Dua juta, Bu."
Kemudian aku membayar semuanya, dan segera pulang karna jadwal untuk Kak Dee sudah dekat.
"Langsung pulang, Non?" tanya Mas Bima.
"Iya, Mas... Udah waktunya injeksi," jawab dengan melihat jadwal dilayar hp.
.
.
__ADS_1
.
"Mas Bima... Itu taneman nya tolong taruh di teras belakang, ya. Nanti biar saya yang susun," pesan Ku, saat keluar dari mobil.
Aku segera masuk, mencuci tangan dan menghampiri Kak Dee yang sedang bersantai diruang Tv.
"Kakak turun sama siapa?"
"Tadi dibantu Bik Nunik. Kamu kok lama?"
"Tadi By mampir ke depot tanaman hias, buat beli beberapa bonsai. Cantik-cantik Kak, pasti Kakak suka."
"Buat Kakak 'kah?" tanya Kak Dee, dengan antusias.
"Ya iya dong... Buat aktifitas Kakak selama dirumah, Kakak kan gampang bosan,"
"Makasih, sayang... Eh iya, katanya mau cabut infus? Kakak udah ngga betah nih,"
"Iya bentar. By ambil obat terkahirnya, udah itu baru kita lepas." bujuk ku. Kak Dee hanya mengangguk kan kepalanya, dan degan tenang menunggu ku kembali menghampirinya.
"Siap lepas infus?" tanya Ku pada Kak Dee, seusai menyuntikan beberapa obat untuk nya.
"Jangan ditanya lagi... Ayo segera lepaskan,"
Aku perlahan membuka beberapa plaster, hingga akhirnya menarik jarum infus yang tertancap di vena nya. Lalu, dengan cepat ku tutup kembali dengan kapas dan plester kecil, agar darah tak kembali mengalir dari bekas suntikan.
"Kuat ngga 'ya, soalnya masih agak lemes."
"Ayo lah... By pegangin," bujuk Ku padanya.
Perlahan Ia mencoba berdiri, hingga akhirnya berhadapan dengan ku. Ia lalu melangkahkan kaki nya untuk menyusul ku yang ada didepan nya.
Brukk!
"Hadeeeh... Kaki nya gemetar, nanti lagi deh. Istirahat dulu," ucap Kak Dee.
"Jangan pasrah... Bentar, By ambilin sesuatu." ucap Ku dengan melangkahkan kaki kebelakang dan mengambil sebuah tongkat kaki. "Kakak. Mau pakai ini?"
"By... Itu punya almarhum Papa Mas edra loh,"
"Ngga papa 'kan, By lihat nganggur dibelakang, jadi By ambil. Coba deh," bujuk Ku lagi.
Kak Dee hanya pasrah dengan ulah ku ynag seolah tak sabar ingin kembali berjalan bersama dengan nya.
Kak Dee mencoba memakai tongkat tersebut, dan melangkah kan kaki nya selangkah demi selangkah dihadapan ku.
"By..." panggilnya, kesal.
__ADS_1
"Apa? Ayo sini, biar makin lancar jalan nya."
"By... Kakak udah kayak nenek-nenek kalau begini. Mana rambut disongkok, pakai tongkat Kaki. Padahal umur Kakak belum Empat puluh tahun, tapi kenapa seperti Nenek Tujuh puluh tahunan sekarang," keluh nya pada ku.
"Kakak... Kok mulai ngeluh lagi, By ngga seneng loh. Nanti By sedih gimana?" rengek Ku manja pada nya.
"Kenapa kamu yang sedih? Kakak yang sakit, Kakak yang lemah."
"Kakak itu sebagai jantung By dan Mas edra saat ini. By ngga tahu nanti, jika Kakak lemah begini, siapa yang mau pasang badan buat By lagi. Mas edra sibuk, Mama mirna ngga mungkin lah. Nanti By stres, terus Baby nya stres juga gimana hayo...."
"Heleh... Kamu itu mulai. Mulai bisa ngancam Kakak pake kehamilanmu gitu? Mulai berani?"
"Hehehe... Kan biar Kakak semangat," ledek Ku.
Setelah saling melempar ledekan. Aku dan Kak Dee mulai mengisi waktu dikebun baru kami. Kebun kesayangan Kak Dee, karna memang kami membuat khusus untuk nya.
"Non... Non Rubby.... Hp nya bunyi daritadi," panggil Bik Inah, dengan menghampiriku membawa hp yang tergeletak dimeja.
"Telpon dari siapa Bik?" tanya Ku.
"Ngga tahu, Non. Ngga ada namanya,"
"Makasih ya, Bik." jawab Ku seraya menerima hp tersebut, dan Bik Inah berlalu pergi meninggalkan kami.
"Hallo... Siapa ini?" sapa Ku.
"Ha... Hallo... Hallo By, ini abang By. Bang Ramlan. By apa kabar, abang rindu,"
"Astaghfirullah... Abang dari mana tahu nomor hp By?"
"Demi kamu, By. Abang akan cari tahu semuanya. Bahkan, abang akan segera tahu dimana By tinggal,"
"Abang jangan nekat! By sudah menikah, abang jangan ganggu By lagi.!" bentak ku yang sudah terlanjur tersulut emosi.
"Abang ngga akan menyerah hanya karna kamu sudah menikah. Hanya kematian yang bisa bikin abang pergi dari kamu By."
Aku terperanjat, mataku membulat dan air mata mulai menganak sungai. Kaki ku gemetar, dadaku mendadak nyeri. Ku jatuhkan Hp ku seketika, dan Bang Ramlan ternyata sudah menutup telpon nya.
Berkali-kali ku tarik nafas dalam agar mengurangi kemcemasan ku, namun tak bisa.
"By... By kenapa? Siapa yang nelpon barusan?" tanya Kak Dee yang mulai khawatir.
Aku tak menjawab, hanya diam lalu memegangi perutku yang mendadak sakit.
"Kak... Perut By tiba-tiba sakit, Kak. Kenapa ini?"
Akhirnya, Kak Dee yang awalnya sulit berjalan. Tiba-tiba berlari pelan memanggil orang yang ada dirumah ini.
__ADS_1