MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Ganti style Mas edra


__ADS_3

Pov Edra.


Begini rasanya bermain bersama anak, meskipun lelah, tapi bahagia.


"Dee, andaikan kamu bertahan sebentar lagi, pasti akan lebib bahagia melihat Maliq kita tumbuh semakin menggemaskan," gumamku.


Aku melirik jam, tak terasa sudah Dua jam kedua wanita itu pergi ke salon, namun tak kunjung kembali. Aku melihat Maliq mulai lelah, dan menggendongnya keluar daru Wahana bermain.


Ku ajak berkeliling untuk mencari sang Ibu, disalon langgananya, dan ternyata benar, mereka masih disana.


"Ternyata masih disini, pantes lama. Ngapain aja?" tegurku.


"Ibu ikut antrian Pak, jadinya lama." adu Winda.


"Ih... Mba Win tukang ngadu..... Iya nih, Mas, kalo By datang tiba-tiba terus boking seluruh salon, kan kasihan sama yang udah ngantri. Jadinya, By ikut antrian. Ma'af ya, lama. Tapi bentar lagi selesai kok." jawab Rubby padaku.


Aku duduk dikursi, dan menunggunya selesai, dengan Maliq dalam gendonganku. Hingga kami bosan, dan tidur bersama.


"Mas... Bangun Mas, udah selesai ayo pulang."


"Hmmm... Winda mana?"


"Udah pamit pulang duluan. Ini anak sama ayah kompak bener tidur bareng," ledeknya, seraya mengambil Maliq dari gendonganku.


Aku berdiri, merilekskan tubuhku sebentar, lalu menggandengnya kembali ke mobil.


"Sayang..." panggilku ketika fokus menyetir.


"Iya, Mas?"


"Menurut By.... Apa Mas ini sudah tua?" tanya ku, dengan sesekali menatap wajahku dicermin depan mobil.


"Iya sih, hehe... Kenapa? Tua-tua kan, By tetap Cinta," godanya.


"Mas mau dong, ubah gaya rambut, style keren, cat rambut dikit deh."


"Ih... Tumben, kenapa?"


"Ya... Biar gantengan dikit. Sesuai lah, sama By." godaku, dengan mengedipkan mata.


"Ish... Ganjen.... Yaudah, nanti By sendiri yang vermak."


"Emang bisa?"


"Ya bisalah... Mas mah tinggal potong rambut, potong kumis sama jenggot, dan....."


"Dan apa?"


"Ada deh... Ntar aja, kejutan." jawab ya padaku.

__ADS_1


Aku hanya menatapnya dengan tatapan curiga, sejujurnya, takut jika Ia akan mengerjaiku nanti.


Sesampainya dirumah, Ia langsung menidurkan Maliq, dan menitipkanya pada Bik inah. Ia lalu mengajak ky kekaamar, dan memintaku melepas jas dan kemeja.


"Mau ngapain? Ini masih sore," tanya ku.


"Lah... Ngapain emang? Katanya mau potong rambut. Ngga mungkin potong rambut pakai jas gitu. Ya Allah, Mas..." omelnya.


"Oh... Iya, lupa...."


Rubby mulai melancarkan aksinya, menyukur kumisku, jenggotku yang baru tumbuh sedikit, tak lepas juga rambutku yang mulai panjang. Aku hanya pasrah, denga segala kegiatanya sa'at ini.


"Sayang... Jangan aneh-aneh ya, nanti Mas makin aneh loh, bukanya makin ganteng."


"Iya, Mas... Percaya deh, dulu itu, By sering jadi tukang cukur Bang halim, sama Bang ramlan. Tukang cukur pasien juga pernah."


"Hah? Cukur apa'an?" kagetku.


"Ya.... Cukur, cukur deh pokoknya. Kalau orang mau operasi gitu."


"Hah?"


"Ngga usah kaget, By kan perawat."


"Oh... Iya, iya... By selama jadi perawat. Apa aja yang udah dilihat?"


"Banyak lah... Dari yang biasa sampai yang parah. Bahkan, Bang bagas pun meninggal sa'at By lagi usaha ngejahit lukanya yang parah." jawabnya.


"Bukan sedih lagi, sakit banget rasanya. Udah berusaha, tapi ngga bisa juga. Luka itu menganga terlalu lebar, Mas."


Aku memijat kepalaku, merinding rasa seluruh tubuh membayangkan semua itu.


"Sayang... Stop, jangan diteruskan. Mas ngga kuat dengernya."


"Hmmm... Itu lah, Mas, kayaknya meskipun jadi perawat itu penuh resiko dan banyak yang dihadapi. Tapi, By lebih siap dengan itu. Dibandingkan ngurusin pwrusaha'an gede, karna memang bukan bidang By."


"Iya, Mas ngerti... Tapi harua belajar terus ya, By kan janji, jaga amanat Kakak."


"Iya, Mas... Eh, udah nih... Uluuuh, gantengnya suamiku," pujinya padaku. Sementara aku, harap-harap cemas, menuju kaca dan melihat penampilan baruku.


"Ya Allah... Kenapa begini sayang?" kaget ku, yang melihat penampilan baruku. Kumis dan jenggotku plontos, rambutku memang semakin rapi, namun dicat dengan warna Blonde oleh Rubby. Rambutku yang mulai gondrong, Ia potong setengah plontos dibagian pinggir, namun tetap agak panjang dibagian tengah.


"Sayang... Ini gaya apa? Ini gaya kemuda'an buat Mas,"


"Tapi bagus Mas, cakep. Lebih fresh gitu, serius."


"Mas ngga PD Begini... By harus dapat hukuman," ancamku.


"Eits, hukuman apa? Mau nabok?"

__ADS_1


"Engga... Lebih dari nabok," jawabku.


Aku menghadap kearahnya, menatapnya tajam. Ku keluarkan kedua tangan ku, dengan jari membentuk gunting, dan mencapit-capitkan nya kearah Rubby.


"Sriiiing, sriiiiing... Ini, pelajaranya. Ketawa sampe lemes karna digelitikin." ujarku, lalu mengejarnnya.


Ia berlari keliling kamar demi menghindariku, karna Ia sebenarnya tak tahan dengan geli, namun Ia tertawa lepas dengan semua tingkah bodoh itu.


"Tawamu, tawa lepas yang mengembang sesuai dengan keada'an jiwamu. Bahagia melihatnya, akan ku buat kau selalu tertawa seperti ini, meskipun aku harus selalu bertingkah bodoh dan seperti anak kecil."


Tiba waktunya Makan malam, kami semua berkumpul dimeja makan. Bik inah dan Pak hadi, terkejut bukan main melihat penampilanku yang baru.


"Dra... Kamu?"


"Kenapa Pak? Aneh ya?" tanya ku pada Pak hadi.


"Sedikit aneh sih, tapi keren, makin fresh... Kelihatan makin muda," balasnya.


Aku cukup tersanjung, lumayan ucapanya bisa menurunkan sedikit krisis harga diri ku sa'at ini. Bersyukur juga, Bik inah dan yanh lainya tak membully penampilan baruku ini.


*


*


*


" Sayang, hari ini kekantor?"


"Iya, Mas, kenapa?"


"Maliq dibawa?"


"Hmmm... Kasihan sih, kalau harus dibawa terus. Tapi, ngga ada yang bisa jagain. Kalau begini, rasanya pengen minta Mba Winda Mas hibahkan ke aku," godanya, dengan membenarkan jasku.


"By, pakai lipstik apa? Kok mengkilat, tapi ngga menor, Mas suka lihatnya."


"Ini bukan lipstik, tapi Lip balm. Bagus buat menutrisi kulit bibir supaya ngga kering."


"Banyak sekali perlengkapan wanita." heranku.


"Mas... Coba pakai juga, kan Mas kerjanya diluar terus sekarang. Biar ngga terlalu kena efek matahari. Sini, By pakein." ujarnya dengan mengambil lip balm nya untuk ku.


Cup..... Aku mencium bibirnya.


"Eh... Kenapa malah nyium?"


"Mas males pake begituan, apalagi kebanyakan. Dapet transferan dari bibir By aja dikit, lumayan lah." jawabku.


Ia menarik kerah jasku, dan mengarahkan persis kedepan matanya. Menatapku dengan tajam, "Kenapa harus dikit, kalau bisa banyak,"

__ADS_1


Tatapan Itu cukup membuatku gugup, terlebih lagi, aku merasa, semakin menggoda sekarang.


__ADS_2