MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Tugas ganda


__ADS_3

"By... Sabar, ya."


"Kenapa?"


"Ya... Sabar saja dulu, dalam menghadapi semua keinginan Kakak Mu itu,"


"Iya, Mas. Mau bagaimana lagi, memang harus seperti ini sekarang. By hanya bisa pasrah," balas Ku, dengan sesekali memijat dahi.


"Yaudah... Kamu istirahat, ya. Udah malam,"


"Mas, By mau nemenin Kak Dee. Takutnya, malam ini Dia menggigil,"


"Seperti itu? Baiklah, Mas tidur dikamarmu," ucap Mas Edra.


Kami pun berpisah saat itu. Aku menuju kamar Kak Dee, dan tidur disampingnya.


"By...."


"Iya Kak, kenapa?"


"Kenapa disini?"


"By takut, Kakak menggigil dan kejang."


"Iya, By. Dingin sekali sekujur tubuh Kakak sekarang," ucap Nya, yang semakin meringkuk.


Aku segera membenarkan posisi tidurnya, dan memeluknya dalam dekapan ku. Aku menepuk-nepuk bahu nya, agar Dia tenang dan rileks. Akhirnya, Kak Dee tertidur dengan hangat malam ini.


Adzan subuh berkumandang. Aku segera bangun dari tidurku, dan melaksanakan shalat ky dikamar Kak Dee. Kulantun kan Do'a terbaik ku untuk nya, untuk kesehatan nya yang terpenting.


Selesai semuanya, segera ku hampiri Mas Edra dikamar, untuk mempersiapkan semua pakaian kerja nya.


"Mas... Bangun, Mas. "


"Hmmmh... Iya, By. Sudah pagi ya?"


"Iya Mas, cepetan mandi, ya. By mau nyiapin obat buat Kak Dee dulu,"


"He'em," jawab Nya, dengan menggeliatkan tubuh nya diranjang.


Aku segera kembali ke Kak Dee, yang masih tertidur.


"Kak... Bangun, yuk. udah pagi," bujuk Ku padanya.


"Iya, By." jawab Nya, yang dengan perlahan bangun.


"Masih lemes?"


"Iya, pusing juga"

__ADS_1


"Yaudah. By bantu, ya."


Segera ku papah tubuh lemahnya itu, menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ku bantu Ia duduk dikursi, agar lebih mudah untuk proses memandikan nya nanti. Ku ambil sikat gigi miliknya dan ku bantu Ia menyikati gigi. Setelah itu, kubuka baju nya perlahan, dan ke lap tubuhnya dengan kain yang lembut. Meskipun aku tak merasakan, tapi aku tahu bagaimana sensitifnya kulit Kak Dee sekarang, yang bisa memerah hanya karna sedikit gesekan saja.


"By... Dingin," Ucap Nya, dengan menggigil.


"Iya Kak, udah selesai kok."


Aku kembali memapah nya, untuk berpindah tempat ke kamarnya lagi. SSetelah mengganti pakaian nya, ku sisir rambutnya dengan lembut. Namun, terlihat jelas saat rambutnya semakin banyak mengalami kerontokan dikarnakan efek kemo nya. AKu menggenggam erat rambut itu ditangan ku. Terasa bulir-bulir air mata yang mulai akan jatuh, namun berusaha ku tahan.


"Rontok lagi, By?" tanya Kak Dee, mengetahui yang sebenarnya.


"Iya, Kak dikit." jawab Ku.


"Sedikit, tapi setiap hari" ucap Nya, dengan nada datar.


"Pakai wig nya ya, Kak." ucap Ku, dengan memakaikan salah satu wig nya. Kak Dee pun hanya mengangguk.


"Dah... Cantik. Yuk, kita kebawah. Mas Edra sudah menunggu ngajak sarapan,"


"Iya... Ayok,"


Kali ini, Kak Dee berdiri dan berjalan sendiri. Aku tahu tubuh nya lunglai, tapi Ia berusaha kuat, terutama didepan suami kami.


Sesampai nya diruang makan, ku bimbing Kak Dee untuk duduk bersebelahan dengan Mas Edra. Sedangkan aku, duduk tepat didepan nya.


"Mas... Sini, By ambilin nasi nya," ucap Ku. Begitu juga dengan Kak Dee.


Kami melanjutkan sarapan dengan bercengkrama, dan saling bercerita satu sama lain. Hingga Kak Dee bebicara tentang sebuah keinginan.


"Mas..."


"Iya, Dee?"


"Dee, pengen liburan."


"Hah? Kemana? Bukan nya kamu masih sakit?"


"By... Pulang kampung, yuk. Kakak ikut," pinta Kak Dee, padaku.


"Kak... Kampung By jauh, takutnya Kakak kelelahan." jawab Ku.


"By, ayolah. Kakak hanya ingin menikmati udara segar diperkampungan. Siapa tahu, bisa menambah energi positif dalam diri Kakak," mohon Nya, padaku.


"Tapi Kak...." ucapan Ku terpotong, saat Mas Edra menggenggam tangan Ku, dan mengedipkan mata nya.


"Dee... Kamu begitu menginginkan nya?" tanya Mas Edra, meyakinkan.


"Iya, Mas. Boleh?"

__ADS_1


"Boleh... Tapi disana, kamu harus nurut sama By, oke?. Dan... Satu lagi, lakukan pemeriksaan terlebih dulu, agar perbekalan obat mu memadai,"


Aku terdiam terpaku, mendengar pernyataan itu. Bukan karna tak ingin mengajak Kak Dee, tapi aku takut jika Ia akan mengetahui semua permasalahanku disana. Bahkan, aku takut jika Ia disangkut pautkan dengan kehidupan ku.


Sarapan selesai. Ku antar Mas Edra menuju mobilnya digarasi. Segera ku berikan tas, dan mencium tangan nya.


"By... Kenapa?"


"Mas, kenapa menuruti Kak Dee?"


"Kenapa? Ngga boleh?"


"Bukan sih. Tapi, By hanya takut jika. Kak Dee, akan terganggu dengan perkataan orang kampung terhadap By nanti."


"Tentang kamu yang pembawa sial?"


Aku hanya mengangguk.


"By... Diana itu akan selalu bisa melindungi mu, meskipun tubuhnya sendiri lemah. Kalian itu saling membutuhkan satu sama lain. Jadi,. Dukung saja Ia, demi kesehatan nya ya,"


"Yaudah,"


"Oh iya... Nanti malam, Mas ada pertemuan dengan para kolega. Mas minta kamu yang temani, sekaligus perkenalan. Mau ya?"


"Tapi... Yaudah deh, nanti minya didandanin Kak Dee aja,"


"Oke, sampai jumpa nanti malam, ya." ucap nya, seraya mencium keningku.


Mas Edra lalu masuk, dan memacu mobilnya menuju kekantor. Sedangakan Aku, kembali mengurus Kak Dee, dengan obatnya.


Hari berganti dan malam pun tiba. Sesuai rencana, Aku dan Mas Edra akan menghadiri pertemuan malam. Ini.


Ia sudah menunggu ku diruang tamu, sedangkan aku masih sibuk dengan pakaianku.


Setelah semuanya selesai. Aku pamit pada Kak Dee, dan segera mengahampiri Mas Edra.


Dengan drees panjang dengan warna hitam dan aksen gemerlapan. Dengan rambut tergerai dan kalung berlian yang diberikan oleh Kak Dee. Menambah kesan mewah pada dandanan ku malam itu.


Aku melangkahkan kaki menuruni anak tangga dengan perlahan. Mas Edra yang melihatku, seakan terpana dan tak berkedip sedikitpun.


"By... Kamu cantik sekali malam ini," goda nya padaku.


"Kalo bukan Kak Dee yang sempet dandanin, ya ngga akan seperti ini, Mas," jawab Ku.


"Dee... Dimana sekarang?"


"Kak Dee, langsung tidur. Abis minum obat tadi. Titip salam aja, sama semua temen disana katanya."


"Baiklah, yuk berangkat," ajak Mas Edra, dengan menggandeng tanganku.

__ADS_1


Aku merasa begitu bahagia saat ini, karna meskipun aku menjadi yang kedua. Tapi, mereka begitu baik terhadapku, hingga mau mengakui ku pada yang lain. Tapi, aku tak tahu dengan apa yang akan kuhadapi nanti nya, dipesta itu.


__ADS_2