MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Maliq pergi


__ADS_3

Sebulan berlalu pasca kejadian itu. Maliq sudah memenuhi janji untuk mendapatkan nilai terbaiknya, namun semua hangus karena kekhilafanya ketika tak mempu menahan emosi.


Rubby, Edra dan Nana sudah dipersiapkan untuk mengantar Maliq ke pesantren, yang letaknya lumayan jauh dari kota mereka. Kurang lebih, Dua jam perjalanan, dengan Edra yang menyetirnya sendiri.


Rubby duduk didepan, sedang Nana tak ingin lepas dalam pangkuan Maliq, seolah tahu jika Masnya itu akan pergi dalam waktu yang lama, dan akan jarang sekali pulang untuk menjenguknya. Sedang Maliq, hanya diam membisu, tak berani menentang dan bebicara apapun. Hanya sesekalu tersenyum mendengar celotehan Nana yang menggemaskan.


"Mas mau sekolah? Kenapa jauh, kan sekolahnya ditempat Nana bisa." ucap Nana.


"Ayah nyuruh pergi, dek. Mas disuruh belajar, biar makin baik." jawab Maliq, dengan suara bergetar.


"Mas udah pinter. Nanti yang jagain Nana siapa? Yang belain Mas Bram siapa? Nana ngga mau Mas pergi." rengeknya.


Maliq meraih kepala Nana, dan menempelkan di dadanya, mengusap rambut Nana agar lebih tenang.


"Mas ngga lama, nanti kan bisa telepon, atau video Call." jawab Maliq, dan Nana hanya mengangguk mendengarnya.


Tangis Rubby pecah, namun Ia berusaha menahanya didepan semua. Baru kali ini, Ia harua jauh dari salah satu anak kesayanganya.


"Tenanglah... Maliq kita bawa ke pesantren, bukan kepenjara, buat apa ditangisi. Dia akan lebih baik disana nanti." ujar Edra.


Rubby tak menjawab, hanya mengusap air matanya yang sudah menganak sungai.


Berjam-jam dalam keheningan, akhirnya mereka sampai dipondok pesantren yang dituju. Maliq turun dengan tetap memggendong Nana didepanya. Rubby mengajak mereka masuk untuk melakukan daftar ulang, sedangkan Edra menurunkan semua barang dan koper Maliq dan membawanya masuk.


Daftar ulang dilakukan, Maliq duduk diruang tunggu bersama anak baru yang lain. Ada yang menangis, ada yang biasa saja, dan ada yang berusaha sabar, seperti yang dilakukan Maliq. Mereka saling berkenalan satu sama lain, dan menanyakan alasan masing-masing masuk kesana, begitu juga Maliq dengan alasanya.


"Sabar... Kamu ngga sengaja, tapi Ayah dan Ibumu mau yang terbaik buat kamu. Disini banyak teman, nanti aku minta supaya kita sekamar. Mau?" tanya seorang anak disana.

__ADS_1


"Iya... Terimakasih. Ini adek ku malah ngga mau lepas. Bikin sedihnya nambah." ujar Maliq.


"Cantik adeknya... Ngga apa-apa, gendong aja, nanti lama ngga ketemu." balasnya lagi.


Mereka semakin akrab, hingga tiba waktunya mengantar Maliq kekamarnya.


Melihat kondisi kamar yang begitu sederhana dengan banyak anak, Rubby merasa perih. Tapi seperti kata suaminya jika itu demi kebaikan Maliq, jadi tak perlu ditangisi.


"Ibu, Bapak... Anak-anak sudah boleh ditinggal. Dan sesuai perjanjian, agar Anak tak menjadi manja, tiga bulan pertama kami tak mengizinkan jengukan orang tua. Saya harap, kalian semua faham ini." ucap Kepala pesantren.


Satu persatu orang tua santri mulai mengundurkan diri dan bersiap meninggalkan anak-anaknya. Tangis histeris mewarnai itu semua, bahkan ada yang meraung-raung tak ingin tinggal. Maliq berusaha tenang, menciumi kening Nana dan mengusap rambutnya.


"Nana dirumah, besok Mas pulang. Jangan lupa makan, kalau main jangan ngotot. Nanti kalau Nana sakit, Mas ngga bisa jenguk. Sekarang Nana pulang sama Ayah dan Ibu. Main sama Mas yang lain." pesan Maliq pada Nana yang semakin membuat pilu.


Edra menghampirinya, berjongkok dihadapan Maliq, dengan senyumnya.


"Siap ngga siap. Maliq udah dikirim kesini meskipun Maliq ngga mau." jawab Maliq.


"Maliq marah sama Ayah?"


"Engga... Maliq cuma kesel, padahal Maliq udah memenuhi janji. Tapi, yasudah... Ini salah Maliq." jawabnya lagi.


"Yang sabar disisini. Selepas Tiga bulan pertama, kami akan rutin menjenguk seminggu sekali." ucap Edra.


"Sebulan sekali aja. Semakin sering dijenguk, Maliq bisa semakin rindu." ucap Maliq pada Sang ayah, lalu mencium tanganya dan pergi. Ia menangis disudut kamar, bukan karena tak ikhlas, tapi karena memang belum pernah Jauh dari Nana.


Terdengar tangis Nana yang pecah dari luar kamar, meraung-raung mengajak Maliq pulang. Namun Maliq berusaha abai dan tak mau melihat mereka pergi. Untungnya, Sang sahabat baru membatu menutup telinga Maliq, sementara Ia mengusap air matanya.

__ADS_1


Diperjalanan pulang, Rubby memangku Nana yang sedang lemas karena kelelahan menangis lalu tidur.


"Sekarang, bagaimana?" tanya Rubby.


"Ya seperti ini. Jaga Nana dan Bram, karena si kembar dengan Mba ratih. By ngga udah sedih, ini semua kan demi Maliq juga." ujar Edra.


"Bukan Maliq dan By, tapi Nana lihat. Ia menangis sampai lemas." balas Rubby.


"Berdo'a saja, lama-lama pasti terbiasa. Sabar sayang, Mas juga sedih. Andai tak malu, Mas juga pasti akan menangis tadi." jawab Edra.


Dua minggu setelah kepergian Maliq, suasana dirumah menjadi sepi. Tak ada lagi yang bisa menjadi pembujuk sikembar untuk mandi, dan tak ada yang bisa membela Bram ketika dibully. Hingga sering, Bram pulang dalam keada'an menangis, dan itu membuat Rubby begitu sedih.


Nana pun demikian, Ia menjadi sulit makan dan lebih banyak bermain. Aktifitasnya tak terkontrol. Meskipun Rubby jarang kekantor sekarang. Rubby masih kesulitan mrngatur semuanya, itu semua adalah tugas yang sering diambil alih oleh Sang Maliq.


Hari ini, malam ini, badan Nana tiba-tiba panas, Ia mengigaukan Maliq. Sangkin khawatirnya, Rubby dan edra membawanya ke Rumah Sakit untuk dirawat.


Maliq disana seperti memiliki ikatan batin yang kuat dengan Nana. Ia.merada gelisah, tak mau makan dan tidur. Hingga Ia menyambangi Ustadz nya dikamar.


"Ustadz... Maliq mau izin pulang." ucap Maliq.


"Kenapa? Tak betah?" tanya Ustadz.


"Tidak... Maliq merasa tak enak dengan Nana, adik Maliq. Maliq mohon, izinkan sehari saja pulang."


"Tidak bisa. Perjanjian selama Tiga bulan. Jika kamu melanggar, hukuman berat akan dijatuhkan." ucap Sang ustadz.


"Maliq siap dihukum. Apapun itu, bahkan kalau harus dibotak. Meskipun Maliq membencinya." mohon Maliq.

__ADS_1


__ADS_2