MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Takdir 2


__ADS_3

Rubby, setengah berlari mencari Ruangan dokter dan segera memanggilnya, lalu segera kembali keruangan Diana.


"Kak... Kakak gimana? Apa yang sakit?" tanya Rubby.


Diana hanya menggeleng, dan menggenggam tangan Rubby, lalu menunjuk perutnya.


"I... Ni" lirih nya.


"Iya, Kak... By hamil, By ngga bohong. Ini hasil testpack nya," ucap Rubby.


Dokter datang dengan beberapa Perawatnya.


"Bagaimana, By?"


"Kak Dee, sadar Dok. Dia bahkan sempat menunjuk perut saya dengan jari nya,"


"Baik, kita cek dulu Tanda Vitalnya." ujar Dokter.


"Dok... Denyut nadi, pernafasan, tekanan darah semuanya normal. Dan reflek motoriknya Baik," lapor salah seorang perawat.


"Dee... Kamu kenal Dia?" tanya Dokter, dengan menunjuk Rubby.


"Ru... By," jawabnya pelan.


"Ya Allah, Kak... Kakak sabar ya, bentar lagi Mas Edra datang." ucap Rubby, dengan begitu bahagia.


Diana hanya mengangguk lemah, dan meminta Dokter melepas alat bantu Oksigennya.


"Sebentar, ya. Kita lihat perkembangan kamu Satu Jam lagi," bujuk Dokter. Dan Lagi-lagi, Diana hanya mengangguk.


Dokter dan perawat terus mengecek semua keadaan Diana. Hingga saat Edra tiba, dan menangis bahagia.


"Dee... Kamu sadar sayang, Alhamdulilah Ya Allah." peluknya pada Diana. "By... Bagaimana bisa-...."


"Nanti By ceritakan, Mas." potong Rubby.


Setelah yakin keadaan sudah benar-benar membaik, para petugas kesehatan akhirnya melepas Masker oksigen Diana.


"Sekarang dilepas. Tapi, nanti kalau sesak lagi, kamu bilang dan jangan bohong ya, Dee." pinta Dokter.


"I... Ya," jawab Diana terbata.


Setelah semuanya terlepas, Diana bernafas dengan ringan, dan lega. Rubby segera mengambil beberapa lembar tissue untuk membersihkan Diana dari keringat yang membanjiri wajahnya.


"By..."

__ADS_1


"Iya Kak, kenapa?"


"Selamat, ya."


"Kak... Sekarang fokus ke kesehatan Kakak dulu, jangan By terus."


Diana hanya mengangguk menuruti Rubby, dan tersenyum begitu manis.


POV Rubby.


Aku bahagia, bahkan bahagia ku tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata sekarang. Dua kabar gembira sekaligus menghampiri ku saat ini. Meskipun awalnya aku pun cemas, karna kabar pertama adalah sebuah keinginan terbesar Kak Dee dan Aku begitu takut, jika itu adalah keinginan terakhirnya. Tapi, ternyata semua tak seperti yang ku bayangkan. Justru Kak Dee cepat bangun karna mendengar kabar bahagia ini. Ya, kabar saat Aku ternyata sudah hamil dengan usia Lima Minggu.


Aku sadar jika mulai sekarang, aku sudah tak bisa lagi mengurus Kak Dee secara maksimal karna keadaan Ku. Sekarang, bukan hanya diriku saja yang perlu dilindungi, melain kan janin yang ada dirahim ku saat ini.


"Selagi belum hamil saja, aku bagaikan gadis lemah yang harus meminta perlindungan disana sini. Bagaimana saat hamil, apakah semakin banyak orang yang akan pasang badan hanya untuk melindungi madu Seperti ku? Atau kah, mulai sekarang aku harus seperti Kak Dee, yang harus selalu kuat meskipun sebenarnya rapuh? " gumam Rubby, sambil mengganti pakaian Diana, yang sudah kusut.


Cekrek...! Mas Edra datang, dengan membawa sebungkus makanan.


" By... Makan dulu, daritadi belum makan, kasihan Baby, " bujuk nya.


" Iya Mas, sebentar lagi," balasku.


" Udah... Itu biar Mas yang gantiin. Nanti By lemes lagi kayak kemaren,"


Mas Edra dengan sigap, menggantikan posisi Ku, untuk merawat Diana, dan mengganti pakaiannya.


"Bagaimana Dee? Sudah nyaman seperti ini?" tanya Edra memastikan.


"Udah, Mas." angguk Diana. "Mas... Pengen duduk,"


Mas Edra lalu memutar esel diujung tempat tidur Diana, dan merubah posisinya menjadi Semi Fowler.


"Seperti ini, cukup?" Pertanyaan Mas Edra hanya dibalas anggukan Kak Dee.


"Mas... Udah makan nya, kekenyangan tapi." ucapku, dengan mengelus perut.


"Iya... ngga papa, emang kan sekarang butuh lebih banyak makan, sama ngemil," balas Mas Edra.


"By tiduran sebentar, boleh? Badan pegel semua,"


"Boleh dong... Istirahat aja dulu, kan Mas disini. Nanti gantian lagi kalau By udah enakan. Kerjaan kantor udah dihandle Winda."


Aku berbaring sejenak disofa, dan tak terasa tertidur pulas. Padahal, Aku tak pernah bisa tidur siang sebelumnya. Entah lah, mungkin ini bawaan Baby.


Dua jam setelahnya, Aku sudah berpindah tempat disebuah brankar, disebelah brankar Kak Dee.

__ADS_1


" Mas... Kita pindah ruangan?" tanyaku.


"Iya, By. Kata dokter, perkembangan kesehatan Diana cukup signifikan. Jadi... Bisa dipindahkan. Mas minta ruang VIP dengan Dua tempat tidur,"


"Makasih ya, Mas. Mau shalat Ashar dulu, deh..." ucap Ku dengan mengucir rambut, lalu melangkah ke kamar mandi.


Aku segera melaksanakan Asharku setelah itu. Ku panjatkan Do'a syukur yang begitu banyak kepada -Nya, atas semua anugra yang teleh diberikan keluarga kami.


" By... Buruan pulang dulu, Ibu dan Bapak udah nyampe dirumah," ujar Mas Edra.


"Lah... Katanya besok kesini nya,"


"Mereka keburu khawatir dan cemas, lagian dirumah ada mobil Satu lagi. Jadi, mereka minta temen Bang Halim nganterin."


"Oh... Yaudah, By pulang dulu sebentar ya, Mas."


"Iya... Hati-hati, jangan lupa nanti minta temenin sama Ibu, buat beli vitamin sama susu ya. Kamu perlu nutrisi lebih," pesan Mas Edra pada Ku.


Aku segera menyangking Hanbag ku, dan mencium tangan Mas Edra. Ia pun mencium kening ku, dan sempat mengelus perutku sebentar.


" Salam buat Bapak dan Ibu, ya sayang, " ucap Nya


" Iya... Pamitin Kak Dee, Ya. "


Aku lekas berlalu, dan turun ke parkiran untuk menemui Mas Bima.


"Mas... Ayok, antar By pulang," pinta Ku.


"Oh... Iya, Non." jawab Nya, dengan membuang puntung rokok yang baru Ia hisap.


Dirumah Edra.


"Pak... Kok By lama, ya,"


"Ya sabar, Bu. Dari sinu ke Rumah sakit 'kan lumayan jauh. Terlebih lagi, By harus serba hati-hati sekarang." jawab Bapak.


Mereka beristirahat diruang tamu yang megah itu, dengan sesekali memandangi foto pernikahan Edra dan Diana, dan juga Edra dan Rubby yang dipajang berdampingan.


" Kadang... Ibu masih ngga menyangka, Pak. Jika Anak kita akan menjadi istri kedua nya pengusaha kaya raya. Kadang... Jika dipikir-pikir, perjalanan jodoh itu rumit ya,"


"Kita ngga akan bisa menebak yang namanya takdir, Bu. Terkadang... Apa yang kita benci, dan paling kita hindari, adalah sebuah jalan terbaik bagi kita, tanpa kita sadari. Contohnya, Rubby. Meskipun menjadi Istri kedua tapi Dia begitu dicintai oleh suami dan Istri tua nya."


" Benar, Pak. Kita hanya harus tebal telinga, dan pasang badan, saat ada orang yang meremehkan posisinya sekarang. "


Mereka berdua mengobrol dengan santai diruang tamu, dengan meminum teh yang disediakan Bik Nunik.

__ADS_1


__ADS_2