MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
OBSESI


__ADS_3

Aku diam tanpa menjawab, masih memandangi sosok Ramlan yang digiring para satpam ke pos mereka.


"Dee... Mas nanya,"


Aku tersentak, "Ha... Iya Mas, kenapa?"


"Itu tadi siapa? Kenapa bisa nyerang kamu?"


"Nanti Dee ceritain... Tolong semua yang ada disini, bawa Pak Adam kerumah sakit." ujar ku pada mereka yang ada disana.


Aku membawa Mas edra kembali keruangannya. Aku membuka lengan bajunya, dan mulai mengobatinya.


"Mas... Kedokter yuk, takut kenapa-kenapa. Tadi yang buat mukul kan tongkat baseball."


"Mas ngga papa Dee... Jawab pertanya'an Mas dulu. Siapa dia?"


"Dia... Dia itu lelaki yang mengejar Rubby dari kampung Mas. Dia anak Lurah disana yang terobsesi pada Rubby."


"Ada rahasia sebesar ini, tapu kalian ngga cerita? Sejak kapan kamu tahu?" tanya Mas edra lagi.


"Dari sebelum kalian menikah...." jawab Ku santai.


"Dee... Lihat Mas sebentar," ucapnya padaku. Dan aku menurutinya.


"Dee tahu, ada lelaki yang menginginkan By, tapi Dee malah meminta Mas menikah dengan dia. Lihat pria itu frustasi Dee,"


"Mas... Dia memang terobsesi dengan By sudah lama. Bahkan Dee menjodohkan kalian, salah satunya untuk melindungi By dari Dia."


"Benarkah? Mas ngga mau, karna obsesi mu, kamu menyakiti hati orang lain Dee. Apa bedanya kamu sama Mama,"


"Kok jadi nyamain aku sama Mama? Ngga bisa gitu dong Mas."


"Iya... Maaf, Mas cuma ngga mau. Kalau kamu terobsesi dengan sesuatu. Hingga menyakiti orang lain. By tahu, Laki-laki itu mengikutinya sampai kemari?" tanya Mas edra lagi, padaku.


Aku merenung sejenak, mengingat kembali semua kejadian lalu. "Kayaknya... Engga, Mas. By ngga tahu. Terakhir kami bertemu pun, saat kami pulang kampung."


Kami berdua berdiam diri, hingga hp Mas edra berbunyi dan Salah seorang satpam menelpon.


"Hallo, Lip... Kenapa?" nya Mas edra.


"Maaf, Pak... Laki-laki ini bagaimana seharusnya? Apakah, langsung dibawa kekantor polisi?" tanya Sang satpam.


"Bagaimana kondisinya sekarang?"


"Dia... Seperti orang mengigau, Pak. Memanggil Rubby. Bukan kah itu_..."


"Ya... Benar. Bawa dia kekantor polisi, kamu tahu kan pasalnya?"


"Saya mengerti, Pak."


Mereka menutup telpon satu sama lain.


"Bagaimana Mas?" tanya ku.


"Boleh... Mas bawa By kekantor polisi nanti?"

__ADS_1


"Buat apa?"


"Pria itu memanggil Rubby. Seperti orang gila katanya. Mas mau, Rubby melihatnya sebentar, agar kita bisa mengambil keputusan, akan dikemanakan orang itu."


"Mas... Jangan,"


"Dee... Meskipun menyakitkan, tapi kenyataan itu harus diketahui oleh Rubby."


"Oke... Aku pulang dulu, kasi kabar ke Rubby. Udah itu, kalian pergi berdua." ucapku, dengan berdiri lalu pergi meninggalkan  Mas edra, dengan tangan terbalut verban.


Sepanjang jalan aku hanya diam. Memikirkan respon By selanjutnya.


"Bukan salah Kakak kan By, By memang tidak pernah menyukai Ramlan selama ini. Ramlan itu sakit, Dia terlalu terobsesi padamu. Bukan salah Kakak By, bukan. Kakak justru melindungi mu, bukan?"


Batinku penuh tanda tanya, selama perjalanan pulang kerumah.


*


Mobil berhenti, dan sudha diparkir digarasi. Aku turun dengan perlahan, dan langsung mencari Rubbt di dalam rumah.


"By... Kamu dimana?" teriak ku.


"Non By diteras belakang Nyonya."  jawab Bik nunik, yang sedang memasak.


"Oke... Makasih," jawabku.


Langsung aku berlari kecil menuju teras belakang, dan menemui Rubby yang sedang menyiram tanaman.


"By... Sedang apa?" tegurku.


"Kakak... By lagi nyiram taneman aja. By bosen dikamar,"


"Udah sehatan... By minum obat tadi, terus tidur. Kakak kenapa? Kok cemas?" tanya Rubby padaku.


Aku harus mulai darimana, harus menjelaskan dengan cara apa, agar Rubby tidak syok.


Aku mengajak nya duduk, dan perlahan memulai pembicara'an.


"By... Tadi, Kakak diserang seseorang dikantor,"


"Hah...! Kakak ngga papa? Gimana bisa diserang? Siapa dia?" pertanya'an bertubi-tubi, meluncur dari bibir nya.


"By... Nanti ikut Mas edra kekantor polisi ya. Dia disana?"


"Dia siapa? By ngga mau kalo Kakak ngomongnya ngga jelas gitu." omelnya.


Aku menarik nafas dalam-dalam. Dan kembali menjelaskan.


"By... Beberapa hari lalu, By pernah cerita 'kan, kalau. Ada seseorang yabg sering ngikutin By,"


"Iya... Sampai kemarin yang terakhir By lihat."


"Dia juga yang nyerang Kakak tadi. Dan ternyata, Dia itu Ramlan. Dia meminta kamu kembali dari Kakak, By."


"Apa lagi maksudnya... Kenapa Dia lagi, Ya Allah... Dari mana dia tahu,"

__ADS_1


Rubby terlihat begitu marah, dan mulai memegang perutnya.


"By... By kenapa?"


"Auuuuwh... Perut By keram lagi,"


"By... Makanya Kakak tahan dari tadi. Takut By seperti ini," ucapku dengan begitu khawatir.


Aku segera memapahnya kekamar, dan menidurkan nya. Tak lupa ku baluri minyak kayu putih di datas perutnya, dengan sedikit memijatnya.


"By... Udah enakan?"


"Lumayan Kak... Tapi, badan By gemetaran, By takut. Bagaimana Mas?"


"Mas sedikit cidera... Tapi tak apa. Nanti By kesana sama Mas. Mas bingung, Ramlan mau ditahan dimana. Rumah sakit jiwa, atau kantor polisi."


"Tapi... By takut,"


"Ngga usah takut, kan By sama Mas."


Rubby hanya mengangguk, namun masih dengan wajah cemasnya. Aku meniggalkanya perlahan untuk shalat ashar, lalu mandi untuk menyambut Mas edra pulang.


Pov Rubby.


Pikiran ku kacau, tubuh ku gemetar. Mengapa Bang ramlan sampai senekat ini. Bagaimana tanggapan Mas edra selanjutnya. Kenapa mengacau disa'at aku mulai bahagia.


Tubuhku tak henti gemetar. Hatiku semakin tak karuan. Terlebih lagi, Mas edra mengajak ku menemuinya.


"By... By dimana?" suara Mas edra memanggilku.


"Mas... By dikamar," jawabku perlahan.


Mas edra menghampiriku, dan mengecup keningku.


"By... Sehat?" tanya nya.


Ku lihat dengan jelas, tangan kanan nya yang terbalut kain verban dengan rapi.


"Mas... Ini?" tanya ku, dengan memeriksa tangan itu.


"Iya... By sudah dikasih tau Kakak Kan?"


"Iya... Maaf, By nambah masalah dalam keluarga kita. Atau, jangan-jangan memang benar, kalau By itu_...."


"Hey... Jangan pernah bilang seperti itu. Sekarang By siap-siap, ikut Mas kekantor polisi."


"Mas... By takut, By ngga mau ketemu dia."


Mas edra meraih pundak ku, dan mengarahkan pandanganku menatap matanya.


"By... Kalau By sadar, jika ini masalah By. Maka, ayo kita hadapi sama-sama. Masalah itu ada untuk dihadapi, bukan ditinggal pergi. Bahkan, saat By pergi untuk menghindari Ramlan pun, Dia masih bisa mengejar By sampai kemari 'kan?"


Aku hanya mengangguk lemah.


"By... Cara terbaik untuk menyembuhkan suatu trauma adalah dengan cara melawan rasa trauma itu. Ayo, kita temui dia sekarang. Tanya kan, apa mau nya."

__ADS_1


"Dia hanya mau By, Mas."


"Mas tahu... Maka dari itu, mari kita tunjukan pada Dia. Jika kamu itu, sudah menjadi milik ku." ucap Mas edra meyakinkan hatiku, dengan begitu manis.


__ADS_2