
Pov Rubby
Malam tiba, Aku mengajak Ibu dan Bapaknya menjenguk Kak Dee di Rumah Sakit. Dengan disupir oleh Mas Bima, Kami berjalan santai seraya mempir ke Minimarket untuk berbelanja kebutuhan kehamilan Ku.
"By mau susu yang mana?" tanya Ibu.
"By juga ngga tahu, Bu. By kan ngga suka susu,"
"Harus doyan buat sekarang, By. Kan demi Anak Mu juga nanti nya,"
"Iya sih... Yaudah, Susu yang ini aja. Kayaknya ngga terlalu bau obat. Soalnya, By sering nyium bau susu Bumil begitu," balas ku.
"Yaudah, cari cemilan juga. Kadang kalau lagi malem suka pengen ngemil,"
"Gitu ya, Bu? By ngga tahu sih. Memang By ngga pernah ngerasa apa-apa makanya sampe ngga tahu kalau lagi hamil."
"Ya... Enaklah kalau gitu, Jadi nanti ngga terlalu ngerepotin suami mu."
Setelah belanja selesai, Aku dan Ibu segera membayarnya dikasir. Lalu, kami kembali ke perjalanan kami.
.
.
.
"Assalamualaikum...." ucap Ku, memasuki Ruangan Kak Dee.
"Waalaikum salam... Bu, Repot-repotĀ kesini," ucap Mas edra.
"Iya... Sengaja mau nengok Diana. Gimana keadaan Mu Dee?"
"Seperti ini lah, Bu. Ngga tahu, kapan sehatnya." jawab Kak Dee, dengan senyum terkembang.
"Yang sabar, hanya itu yang bisa Ibu katakan pada Mu,"
"Iya, Bu. Diana selalau sabar kok, terlebih lagi kan Rubby udah mau punya anak, jadinya harus ekstra semangat menyambut kelahiran nya nanti," andai saja bisa sampai ke masa itu.
"Iya Dee... Itu kebahagiaan kita bersama," balas Ibu, dengen mengusap tangan Kak Dee.
"Mas... Kapan Kakak pulang?" tanya Ku.
"Belum tahu By, kenapa?"
"Ngga papa, Mas."
"By... Kalai capek bolak balik nungguin Kakak disini, kamu dirumah aja. Kan yang nungguin udah giliran juga sama Thomas dan Rara," sahut Kak Dee.
"I... Ya, Kak. By cuma tahu aja kalau Kakak bosen 'kan?" balas Ku, dengan membuat secangkir susu hangat.
__ADS_1
"Sini, Mas buatin." ucap Mas Edra dengan meminta cangkirku.
"Udah selesai juga,"
"Oh iya... Hehehe," mas Edra mengembangkan senyum nya.
"By... Ngobrol diluar sebentar yuk," bujuk Mas Edra.
Aku menurutinya, dan pamit sebentar pada Kak Dee dan Ibu.
"Kenapa, Mas?"
"Mas... Ada niat mau bawa Kakak ke singapur, gimana?"
"Kalau By, ya setuju aja. Kan demi kesembuhan Kak Dee, lagian disana kan teknologinya lebih canggih. By ngga papa 'kok. Kalau bosen, pergi aja kekampung sebentar."
"Tapi... Kakak Mu ngga mau, By. Capek katanya."
"Ehmm, By paham sih. Memang kelihatan nya, Kak Dee udah capek banget sama semua proses yang dijalani. Dari kemo, obat, dan yang lain nya. By sebenernya pengen bantu mbujik, tapi kayaknya untuk sekarang, mending hormatin aja kemauan Kak Dee, Mas. Jangan sampai, malah Dia tertekan dengan keinginan kita, " jawab Ku, dengan sessekali meneguk susu yang ku pegang.
"Hmm... Iya, By. Dokter juga bilang begitu. Dee juga janji, akan terus kuat setidaknya, sampai anak kita lahir."
Ucap Mas Edra, yang dengan tanpa sadar mengambil minuman Ku, dab meminum nya.
Aku membulatkan mata dan menatapnya. "Mas... Itu minuman By, kenapa diminum? Itu susu Ibu hamil,"
"Ya Allah... Maaf By, kirain kopi... Yaudah, Mas buatin lagi ya. Yuk, masuk kedalem." ajak Nya padaku.
"By... Susunya nambah?" tanya Kak Dee.
"Bukan nambah, tapi yang tadi diabisin Mas." ucap Ku.
Kak Dee, hanya bida menggelengkan kepalanya, dan Mas Edra hanya bisa tersenyum geli dengan kelakuan nya sendiri.
"Abis minum susu, By pulang aja sama Ibu. Biar Mas yang jaga Kakak disini. Ingat, By harus jaga kesehatan By sendiri sekarang,"
"Iya... Mas," jawab Ku singkat, dengan meminum kembali minuman Ku.
Setelah semua selesai, Ibu membereskan semua bawaan, dan menggandengku pulang.
"Kak... By pulang dulu ya, Kakak istirahat aja. Biar cepet pulang," pesan Ku.
"Iya By... Kakak pengen pulang besok, sampai ketemu dirumah, ya." ucap Kak Dee.
Aku melirik Mas Edra, dan Ia hanya menganggukan kepalanya padaku.
"Ayo, By...." gandeng Ibu padaku.
Kami keluat dan menyusuri lorong demi lorong Rumah Sakit, menuju mobil.
__ADS_1
"Pulang, Non?" tanya Mas Bima.
"Iya, Mas...." jawab Ibu, mewakiliku.
Disepanjang jalan, Aku mendiamkan Ibu dengan terus memikirkan cara, agar bisa membujuk Kak Dee untuk mau berobat ke singapur.
"Dee... Kok ngelamun?" tegur Ibu.
"Hah... Engga, Bu. By ngga ngelamun, 'kok," sanggah Ku.
"Kenapa diem?"
"Ngga papa... Cuma lagi mikir aja, ngga nyangka kalau bentar lagi, By udah mau jadi Ibu,"
"Takdir memang ngga pernah bisa kita duga By. Pokonya, sekarang pandai-pandai lah Kamu merawat diri kamu sendiri,"
"Iya... Bu,"
Tak lama kemudian, kami sampai dirumah. Diruang tamu, terdapat banyak belanjaan yang Aku sendiri tak tahu siapa pengirim nya.
"Bi.... Bik Inah, Bik Nunik...." panggil Ku.
"Iya, Non... Kenapa?" sahut Mereka.
"Ini... Belanjaan banyak banget dari siapa?"
"Itu... Dari Nyonya besar, Non," jawab Bik Nunik.
"Mama Mirna?"
"Iya... Katanya ucapan selamat buat Non, karna udah hamil...."
"Oh... Siapa ngasih tau?"
"Maaf, Non.... Saya yang kasih tau, karna saya pikir, ini berita bahagia dan Non lupa ngasih tahu karna lagi sibuk."
"Oh iya... Makasih, Ya," balas Ku singkat.
Aku segera kembali ke kamar dan beristirahat.
"Mertua Mu, baik ya By...." ujar Ibu, yang tidur disebelahku.
"Iya Bu, alhamdulillah." jangan aja, Ibu tahu yang sebenarnya tentang Mama Mirna, Bisa stres nanti kalau tahu semuanya.
Aku memejam kan mataku, dan memeluk Ibu dengan erat. Rasa rindu yang begitu menggebu, bagaikan anak kecil yang sudah begitu lama ditinggalkan Ibu Nya.
Hidupku sekarang bukan lagi gelas kosong, yang selalu berusaha membahagaiakan orang lain, namun diriku sendiri hampa. Tidak, gelasku sudah terisi penuh dengan curahan kasih sayang dari mereka semua. Mereka yang selalu melindungi ku dan memberi dukungan dalam setiap hal yang ku lakukan.
Aki tahu, Mas edra sudah begitu berusaha untuk adil pada kami. Dan itu pun cukup bagi ku, karna memang aku sadar akan posisi.
__ADS_1
Fisik ku lebih kuat dari Kak Dee, tapi Hati Kak Dee lebih kuat dari hati ku yang rapuh. Semoga, kami bisa saling melindungi hingga nanti dan tak akan ada kata lelah, sehingga kami sama-sama merasakan kebahagia'an.