
Pagi menjelang. Aku segera bangun, dan melaksanakan subuh ku yang nyaris ketinggalan karna Ibu tak membangun kan ku. Setelah itu, ku hampiri Ia di dapur.
"Ibu kenapa ngga bangunin By? Hampir aja telat subuh," omel Ku.
"Soalnya, By enak banget tidurnya, Ibu ngga tega. Tapi masih sempet shalat 'kan?"
"Alhamdulillah," jawab Ku singkat.
Aku memperhatikan Ibu yang sedang mengiris bawang, dan hendak memasak sesuatu.
"Bi Inah sama Bi Nunik mana? Kok, Ibu yang masak?"
"Mereka kepasar, karna ternyata isi kulkas udah habis. Kamu kan harus banyak makan sayur sama buah-buahan sekarang,"
"He'em... Ibu masak apa?"
"Masak Sop, cuma itu yang ada. By mau nyicip?" tanya Ibu, dengan menyendok kan sedikit untuk Ku.
"Hueeeek! Bau nya bikin mual," ucap Ku, dengan berlari menuju westafel cuci piring.
"Mulai mual rupanya," ledek Ibu.
Mendengar perkataan Ibu, aku langsung mengelus perutku.
"Jangan manja ya, Nak. Kasihan Ayah nanti, kalau kamu manja. Kita harus kuat berdua demi Bunda Mu, yang sedang terbaring disana," ucap ku.
"Yaudah, By tunggu dimeja makan aja. Nanti Ibu kesana,"
Aku menurutinya. Ku tunggu Ibu menghampiriku dengan ku main kan Hp ku, untuk menanyakan kondisi Kak Dee. Hingga tiba-tiba, Mas Edra menelpon.
"Hallo, By... Sedang apa?" tanya Mas Edra.
"Lagi mau sarapan, Mas. Mas lagi apa?"
"Lagi ngurusin Kakak Mu. Dia ribut pengen pulang, jadi ini lagi ngurus kepulangan nya,"
"Emang udah sembuh?"
"Kamu tahu sendiri lah, Kakak Mu gimana. Tunggu dirumah aja 'ya, ngga usah kemana-mana,"
"Iya... By tunggu dirumah ya," ucap Ku dan langsung menutup telpon.
Aku merenung sejenak, dan Ibu datang membawa sarapan Ku.
"Kenapa By?"
"Kak Dee mau pulang. Bibik udah pada pulang dari pasar belum Bu?"
__ADS_1
"Barusan pulang, lagi pada beresin belanjaan."
"Nanti, tolong bilangin suruh siapin kamat Kak Dee, ya Bu," pinta Ku.
"Oke... Nanti Ibu juga bantuin,"
"Bapak mana?" sambung Ku.
"Bapak dibelakang, By. Kemaren kan, katanya Diana pengen dibikinin kebun diteras belakang, buat ruangan baca. Jadi, bapak buatin." jelas Ibu.
"Wah... Asyik nya. Tapi, jangan ditanem bunga, Bu. Kak Dee alergi, tanem pohon-pohon aja."
"Ya... Bilang sama Bapak Mu,"
Aku hanya mengangguk, dan melanjutkan sarapan Ku.
Pov Edra.
"Dee... Kamu belum sehat betul, Dokter pun berat mengizinkan Mu pulang. Tolong sabar sebentar,"
"Aku bosen Mas.... Duduk bentar, tidur lagi, begitu terus. Rasanya bokongku sudah ikut memar sekarang," keluh Diana pada Ku.
"Dee... Jangan sampai keputusan Mu ini, nantinga akan membuat sakit mu semakin parah,"
"Engga... Percaya sama Aku. Berada dirumah bersama Rubby dan calon Bayi nya lah yang akan membuat ku sehat dan semangat,"
'Kamu begitu keras kepala Dee. Tapi, ketangguhan Mu itu lah, yang membuat Ku takluk. Kamu adalah wanita berpendirian teguh, meskipun terkadang menyebalkan'
Aku bergerak dan melangkah berat menuruti semua kehendaknya. "Baiklah, apa yang engga buat kamu Permaisuri Ku,"
Senyum Nya langsung mengembang indah, dan menatap Ku dengan penuh cinta. 'Sepertinya, posisi Ku sebagai penyemangat hidupnya, sudah digantikan oleh Rubby dan Bayi nya'
Aku berjalan menuju ruangan Dokter, dan meminta pendapat Nya.
"Tak bisakah, bertahan beberapa hari lagi? Masih banyak proses pengobatan yang harus dijalani nya," ujar Dokter.
"Dokter tahu sendiri, bagaimana Diana. Bahkan, saran saya untuk ke Singapur pun ditolaknya mentah-mentah."
"Yasudah... Tapi, infus harus tetap terpasang. Karna injeksi nya masih banyak. Rubby masih bisa melakukan nya dengan resep dari Ku. Tapi, jika Kemo, Rubby jangan ikut karna sedang hamil."
"Iya... Akan aku turuti semuanya. Hanya karna Aku pun tak ingin mendengar omelan nya yang lebih parah lagi."
Dokter pun tertawa mendegar perkataan Ku barusan. Dan aku hanya bisa menerima ejekan Nya dengan diam.
Setelah menulis semua resep, Dokter meminta Ku menebus nya di apotek. Lalu, Ia dan asisten nya membereskan Diana diruangan.
Pov Diana.
__ADS_1
Dokter menghampiri Ku dengan beberapa Asisten nya. "Dee... Sudah siap pulang?"
"Sudah boleh?"
"Kamu toh yang minta. Kok malah nanya," jawab Nya meledek.
Aku tersenyum, dan tertunduk malu dengan tingkahku sendiri.
Mereka semua mulai melakukan pengecekan terhadap organ-organ vitalku, untuk memastikan kesiapan ku untuk pulang.
"Tekanan darah, pernafasan, detak jantung semua nya normal, Dok." ucap Salah seorang Perawat.
Dokter menyaksikan dan memeriksa kembali dengan seksama, untuk memastikan.
"Oke... Kamu benar-benar ingin pulang rupanya, Dee."
"Tuh, kan bener. Infusnya ngga dilepas?"
"Engga... Injeksi mu banyak, nanti biar Rubby saja yang ambil alih,"
"Oke...." jawab Ku singkat.
Semua siap, tinggal menunggu Mas Edra kembali dan langsung pulang. Dan aku mencoba berjalan berkeliling ruangan untuk melemaskan ototku.
Cekrek! Mas Edra membuka pintu ruangan, dan segera masuk. "Dee... Sudah siap?"
"Siap... Siap banget malah. By nunggu dirumah 'kan?"
"By terus yang ditanya, Aku ngga pernah lagi diperhati'in," ucap Mas Edra bernada kesal pada Ku.
Aku melirik kearahnya, lalu memeluk erat tubuhnya yang lebih tinggi dari Ku. "Mas... Jangan pernah lagi tanya tentang perhatian pada Ku. Aku sudah tak bisa lagi, itu tugas By sekarang. Bahkan, untuk berdiri menginjak bumi saja, Aku sudah semakin sulit."
Mas Edra membalas pelukan ku dengan erat, dan ku tahu jika Ia meneteskan Air mata nya.
"Terimakasih sudah memilihkan Ku selir terbaik pilihan Mu Dee.
Terimakasih juga, karna madu yang kamu berikan begitu manis. Hingga bukan hanya Aku saja yang bisa meneguk manisnya, tapi kamu juga. Terimakasih, atas semua yang kamu berikan pada Kami," ucap Mas Edra pada Ku, dengan nada yang begitu perih.
Aku mendongak kan kepalaku, menghadap wajah nya. Tangan kiri ku, ku lepas untuk menghapus air mata nya yang menganak sungai, dan nyaris mengalir di pipi nya.
"Mas... Jangan nangis, masa udah mau jadi Ayah, masih suka nangis, malu lah. Usap gih.... Udah itu, kita pulang." bujuk Ku pada nya.
Dengan sigap, Ia mengambilkan kursi roda dan membantu ku duduk disana. Ia segera mendorongku keluar dari ruangan, dan Rumah sakit itu.
Aku menghirup nafas panjang, dan tersenyum menatap dunia luar." Aaaaaah... Lega nya. Akhirnya bebas juga Aku"
"Bebas? Emangnya dari penjara?" ledek Mas Edra pada ku.
__ADS_1
"Penjara cinta Mu, Mas," sahut Ku.
Dengan banyak bercanda dan tertawa. Aku dan Mas Edra memulai perjalanan untuk pulang kerumah. Aku ingin segera berguling dikasur Ku yang empuk dan luas, ingin segera bisa kembali membaca buku yang sudah lama ku tinggal kan, dan ingin kembali bersenda gurau bersama Selir kesayangan Kami. Begitu, ucap Mas Edra pada Ku.