MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Ingin seperti Dia


__ADS_3

Pov Author


Tiga bulan berlalu sejak Rubby memimpin perusaha'an meskipun Rubby tak aktif disana. Tapi, Thomas dan Rara begitu baik dalam mengemban amanat mereka.


Yayasan yang Rubby bangun atas nama Diana pun semakin berkembang, dan telah membantu pengobatan banyak orang. Bukan hanya penderita kanker, namun juga penderita penyakit kronis lainya, yang memang memerlukan perhatian dan pengobatan khusus.


Edra pun semakin hangat, semakin mendekap Rubby dan memberikan seluruh cintanya pada Rubby dan Maliq. Mereka menjadi keluarga yang bagitu bahagia, low profile, suka membantu orang lain dengan semua yang mereka miliki.


"By hari ini mau kemana sayang? Ada scedule?" tanya edra.


"Ngga ada sih, Mas. Mba Rara juga ngga minta ke perusaha'an. Jadi By nganggut dirumah sama Maliq. Kenapa?"


"Hmmm, ngga papa. Mas berangkat kerja dulu, ya. Banyak pertemuan hari ini."


"Iya... Hati-hati, ya. Nanti By kesana nganter makan siang,"


"Oke... Bye Maliq. Ketemu dikantor nanti," ujat edra, dengan mencium pangeran kecilnya.


Pov Rubby.


Kenapa masih merasa kosong? Kenapa seperti belum senpurna? Ada apa lagi dengan ku? Belum puaskan dengan semua cinta yang Mas edra berikan? Dimana salahnya?


Aku terus bergumam dalam hati, ketika merasa ada yang lain dalam hatiku.


"By kenapa lagi?" tegur Bik inah.


"Rasanya, seperti berbeda. Kenapa ya?"


"Berbeda bagaimana? By merasa, edra belum tulus. Tinggalkan dan buang jauh-jauh perasa'an itu."


"Apa ada yang salah dalam diri By?"


"By salah. Salah jika By masih beranggapan, jika By harus seperti Kak Dee untuk dicintai Edra."


"Bibik kenapa bilang seperti itu?"


"Bibik tahu, dan Bibik faham. Jika yang di hadapan Bibik ini bukan Rubby yang sebenarnya. Berhenti sayang, berhenti menjadi seperti Diana." bujuk Bik inah.


Ya... Semenjak aku menjadi pemegang perusaha'an. Aku seolah berada dalam posisi Kak Dee. Berusaha menjadi tegas, dan berkelas seperti Dia. Dari semua segi, bahkan merubah style ku menjadi Dia. Agar apa? Agar aku bisa cepat menyesuaikan diri dengan ini.

__ADS_1


"Edra masih belum sadar itu. Dan masih menganggapnya wajar, karna posisi baru By sekarang. Tapi, jika edra sadar akan itu, maka, Ia akan marah By."


"Bik... Hanya dengan seperti ini, By akan cocok bersama mereka. Mereka itu sudah begitu cocok dengan Kakak. By takut, By tak bisa mengimbangi mereka ketika menjadi diri sendiri. Dan Mas... Mas memberikan perhatian lebih ketika begini 'kan?"


"By... Edra sudah berusaha, mencintai kamu dengan begitu tulus. Meraih hati By, meskipun sedikit sulit. Edra hanya ingin Rubby, bukan Rubby yang menajdi Diana. Ah, sudahlah. By akan sadar sendiri nanti."


Perdebatan berakhir, aku berfikir keras dengan yang diucapkan Bik inah padaku.


"Apakah salah, jika menjadikan Kak Dee sebagai pedoman hidupku. Apakah benar, jika Mas akan marah bila menyadari semuanya. Mas edra masih senang saja sekarang. Karna melihatku seperti ini, Ia hanya berfikir karna bertambah nya pergaulan ku."


Aku kembali melamun, hingga suara telepon menyadarkanku.


"Hallo, Mas Thomas? Kenapa? "


"Hallo, By, hari ini kekantor ya. Ada beberapa file yang harus ditandatangani."


"Oh... Iya, By bentar lagi kesana," jawabku padanya.


Aku segera bersiap, kembali memakai pakaian yang dulu nya sering dipakai Kak Dee, dengan baju kemeja lengan panjang berwarna abu-abu, dan celana dasar hitam, serta jilbab pasminah yang ku buat simple melinggar dileherku.


"By... Pakai baju Kakak lagi?" tegur Bik inah.


"Hanya ingin memanfa'atkan yang tidak terpakai, atau ingin terlihat seperti Diana?"


"Bik... Sudahlah, By malas ngomongin itu lagi. By mau pergi dulu, titip rumah Ya, Maliq By bawa." jawabku datar.


Bik inah hanya menggeleng dengan semua sikapku, Aku tahu itu. Tapi ini demi menjaga semua yang telah ditinggalkan Kak Dee padaku. Aku benar-benar tak mau mengecewakan semuanya.


Pov Author.


Rubby tiba dikantor, dan Rara menyambutku, tapi dengan raut wajah terkejut.


"By... Kenapa semakin seperti Diana?" ucapnya.


"Ah... Engga, ngga papa kan. Semua agar semuanya nyaman, dan tidak canggung. Karna mereka semua. Sudah terbiasa dengan Kak Dee."


"Tapi ini salah... Kamu ngga harus seperti ini."


"Ini masih diri By sendiri kok, Mba... Mba ngga usah khawatir. Hanya tidak ingin melupakan Kakak saja," sanggah Rubby.

__ADS_1


"Baiklah, selama kamu masih nyaman" Meskipun, Sebenarnya kami yang tak nyaman. Merasa kamu masih berada dalam bayang-bayang Diana. Dan itu bukanlah dirimu sendiri By.


Rara membawa Rubby keruanganya, dan memberikan file yang diperlukan untuk ditandatangani.


Selama Rubby memeriksa file itu, Rara mengambil Maliq, dan membawanya keluar. "Baca dan pelajari baik-baik By. Maliq Mba bawa,"


Rubby menyelesaikannya satu persatu dengan teliti. Ia bisa karna terbiasa dengan semua, terlebih lagi dengan dukungan dan bantuan orang-orang disekitarnya.


"Mas... Kenapa Rubby sekarang sedikit aneh?" ujar Rara pada Thomas.


"Aneh kenapa? Dia semakin pintar mengelola perusaha'an kan? Meskipun agak sulit, karna memang bukan jurusan yang Ia tekuni."


"Mas... Itu sepertinya bukan Rubby, aku hanya takut, jika Rubby ingin menjadi seperti Diana."


"Untuk apa dia melakukan itu?"


"Aku takut, dia terlalu membawa semua ini menjadi beban dalam fikiranya. Sehingga Dia.... Ingin menjadi seperti Diana, agar perusaha'an ini berjalan seperti sa'at Diana yang mengelola."


"Sayang, kita perhatikan saja dulu bagaimana. Jangan dulu katakan pada edra, takutnya nanti justru akan membuat mereka menjadi gaduh."


"Iya, mas..." jawab Rara, lalu kembali mengasuh Maliq dengan penuh perhatian.


Pov Rubby.


Selesai sengan semua pekerha'an ku, aku kembali mencari Maliq, dan membawanya pergi kekantor Mas edra untuk mengantar makan siang, dengan diantar Mas Bima tentunya.


Dikantor Mas edra, aku berjalan pelan, sambil bermain bersama Maliq dalam gendonganku. Hingga seseorang mamanggil.


"Bu, Diana?" tegurnya.


Aku membalik badan, dan menyapa orang itu.


"Ma'af, Mba... Saya bukan Kak Diana,"


"Oh.... Ma'af, saya pun kaget barusan. Kenapa mirip sekali, sekilas pandang."


"Hh... Iya, saya Rubby." jawabku pada orang itu.


Benarkan, aku benar-benar menyerupai Kak Dee sekarang? Bisakah, cinta Mas edra akan seperti cinta nya pada Kakak untuk ku?

__ADS_1


__ADS_2