
Malam tiba...
Fitri, Bu lilis, Bi inah dan Rubby sedang bersama-sama memasak untuk makan malam kami semua. Sedang aku, Mas edra dan Halim menunggu dan mengobrol, sambil menonton tv diruang tengah.
Hp ku berbunyi dari kamar, namun karna suaranya keras, terdengar olehku.
"Mas... Ada telpon, aku kekamar dulu, ya." pamitku.
*
"Hallo, Thom... Bagaimana?"
"Iya, Dee... Kasus bisa naik. Asalkan saksi yang kamu janjikan bersedia menjadi saksi kuncinya. Aku sudah menunjuk pengacara hebat untuk itu."
"Baiklah... Itu tugasku untuk membujuk pak hadi, dan Bi Inah."
"Dee... Masalah perusaha'an besar itu... Apa mau kamu tuntut juga?" tanya Thomas.
"Tidak... Itu sudah ku lupakan. Anggap saja, sebagai kenangan dari ku nanti, untuk para karyawan. Aku tak ingin mempermasalahkanya lagi."
"Baiklah... Jadi hanya Mama mirna 'kan yang jadi masalahnya?"
"Iya... Hanya dia yang mengganggu hidupku."
"Baiklah... Aku akan mengurusnya lagi."
"Iya... Terimakasih ya, Thom."
Thomas hanya berdehem, dan menutup telepon itu dari ku.
Aku duduk kembali termenung, tina-tiba terkenang olehku, semua tentang masa itu. Masa dimana huru-hara itu terjadi. Dimana aku harus mengalah dengan Hak ku sendiri.
*Lima Tahun yang lalu.
Sa'at itu, pernikahan ku dan Mas edra sudah berjalan hampir Dua tahun. Mama mirna masih menunjukan sikap baiknya padaku. Meskipun amu tahu, itu hanya lah tampak depanya saja.
Papa Barata adalah Papa yang begitu baik padaku, pengertian, dan paham sekali dengan semua prestasi Ku.
Pratama's Group, sebenarnya adalah perusaha'an yang dibangun bersama oleh Ayah dan Papa ketika mereka muda dan meretas karir bersama. Hingga suatu sa'at Ayah meninggal karna kecelaka'an. Dan Papa memegang kendali penuh atas perusaha'an itu.
__ADS_1
"Dee.... Papa besok ada urusan diluar kota. Kamu tolong awasi perusaha'an ya. Edra sedang sibuk dengan cabamg barunya." ujar Papa, sa'at makan malam.
"Iya, Pa... Kebetulan, besok Dee ngga ada jadwal meeting."
Mama mirna datang, dengan sikap anggun nya, dan mulai melayani Papa untuk makan malamnya.
"Ini, Pa... Ingat, Papa harus makan bergizi, banyak makan sayuran. Papa ngga boleh makan yang mengandung saos Cabai, pencerna'an Papa sudah terganggu itu." ujarnya panjang lebar.
Papa hanya tersenyum membalas perkata'an Mama. Dan memulai makan malamnya.
Setelah makan malam, Aku diajak Papa masuk keruang kerjanya, dan memepelajari semua seluk beluk tentang perusaha'an itu. Dan dengan fokusnya aku menerima penjelasan Papa saat itu.
Tok... Tok.... Tok..
"Pa... Ini teh nya," ujar Mama mirna memasuki ruangan kami.
"Iya sayang.... Edra sudah pulang?" tanya Papa.
"Sudah lah Mas... Bahkan sa'at seperti ini, harus Mama nya yang melayani." sindir Mama mirna padaku."
" Ma'af, Ma... Dee lagi belajar ngurus perusaha'an sama Papa. " jawabku.
"Begini Ma....."
"Assalamualaikum," ucapan Papa terpotong oleh Mas edra yang masuk keruangan.
"Wa" alaikum salam, Mas." jaeabku dan langsung mencium tangannya.
"Nah... Berhubung edra dateng, ayo sini kita ngobrol sekalian." ajak Papa, memeprsilahkan kami duduk disofa.
Kami semua menuruti Papa, dan duduk berdampingan disofa itu.
"Ma, Edra, Diana... Seperti yang kita ketahui, jika Pratama's group adalah perusaha'an yang Papa dirikan bersama Ayah dan Ibu Diana. Tapi, setelah mereka meninggal, Papa yang menjalamkan itu semua, atas persetujuan dari semua direksi diperusaha'an. Dan sekarang, Diana sepertinya sudah bisa menjalankan perusaha'an tersebut, hingga Papa dan para Direksi semuanya, ingin menyerahkan perusaha'an itu kembali pada Diana. Sebagai pemegang saham terbesar perusaha'an, menggantikan Papa dan Mamanya." jelas Papa.
"Apa? Loh... Ngga bisa lah Pa! Perusaha'an itu selama ini yang menjalankan Papa, sendiri dan dibantu Edra. Kenapa tau-tau beralih ke Diana? Ngga fair lah." sela Mama.
"Ma... Itu memang sudah Hak Diana. Edra juga sudah membangun perusaha'an edra sendiri, dan sekarnag sedang berkembang. Edra ngga mungkin menjalankan keduanya," sahut Mas edra.
Aku hanya diam menyaksikan perdebatan itu. Tak berani menjawab apapun karna posisiku sendiri masih bimbang, antara menyetujui, atau menolaknya.
__ADS_1
"Ma... Itu sudah kesepakatanya." ujar Papa.
Mama mendengus kesal, langsung berdiri dan meninggalkan kami diruangan itu. Papa berusaha masa bodoh, dan meneruskan percakapan kami.
"Bagaimana, Dee? Pengetahuanmu tentang perusaha'an itu sudah membaik. Hanya tinggal mrngasahnya lagi, sambil berjalan saja." tanya Papa.
"Iya sayang... Dengan begitu, Mas bisa fokus dengan perusaha'an baru Mas. Nanti kalau sudah sama-sama baik, kita adakan saja kerjasama, dengan kamu sebagai investor terbesar kami, bagaimana?" sambung Mas edra.
"Ehmmm... Yaudah. Kalau itu memang amanat Ayah Ibu, dan para direksi juga memintanya. Dee ikut, tapi Papa haru mengontrol Dee nanti." jawabku.
"Kalau itu, ya jelas... Itu 'kan tugas Papa. Sebagai penanggung jawab menggantikan Ayah dan Ibu mu." Aku dan Mas Edra mengangguk jelas dengan semua penjelasan itu.
Aku dan Mas edra kembali kekamar, untuk beristirahat.
"Gimana sayang? Sudah siap buat mimpin perusaha'an?" tanya Mas edra padaku.
"Siap ngga siap, Mas... Itu sudah keputusan para direksi. Mereka juga sudah mempertimbangkan itu semua 'kan? Kasihan Papa juga, Beliau udah waktunya istirahat." jawabku.
"Iya... Mas ngerti. Oh iya... Tolong ambilin Mas minum dong, Mas haus banget,"
"Oke... Sekalian ambil persedia'an,"
Aku berjalan keluar, dan menyusuri setiap ruangan dirumah itu, juga melewati kamar Mama dan Papa. Terdengar mereka berdebat begitu hebat, sehingga memancingku untuk mendengarkan meski samar-samar.
"Pa... Ini ngga fair! Hampir Dua puluh tahun, Papa yang menjalan kan perusaha'an itu hingga sukses seperti sekarang. Dan giliran sudah besar, seenaknya saja Diana mau mengambilnya.... Engga, Pa. Itu ngga boleh!"
"Ma... Itu memang Hak Diana, Papa selama ini hanya penggerak saja. Semua modal, dan lainya milik Orang Tua Diana. Papa hanya punya 25% saham disana, ngga sampai setengah."
"Itu kebodohan Papa... Papa terlalu jujur disana. Permainkan saja sedikit, hingga papa yang jadi penguasanya. Toh, Diana tak akan faham. Dan Orang tuanya tak akan tahu, karna mereka sudah Mati."
Bagaikan petir menyambar, kata-kata itu begitu perih dan menusuk tepat dijantungku. Begitu sakit rasanya.
Kreeek....! Mama mirna tiba-tiba membuka pintu, dan terkejut melihatku disana.
"Dee... Kamu dengar semuanya?"
"Sedikit, Ma...."
"Bagus, kalau kamu dengar. Mama ngga usah banyak bicara lagi dengan Mu. Sebaiknya, kamu mundur dari pertemuan yang direncanakan." ujarnya. Lalu pergi meninggalkanku yang terdiam disana.
__ADS_1