
Pov Diana.
"Dee... Panggil Ibu?" tanya Bu Lilis menghampiri Ku.
"Bu... By udah ngomong? Maaf, ya ngerepotin." balas Ku.
"Ngga papa, yuk tidur. Biar Ibu temenin malam ini, tapi besok subuh Ibu udah harus pulang, ya."
"Iya... Ngga papa," ucap Ku menahan haru.
Bu Lilis kemudian berbabaring di sebelahku, dan mulai memejam kan mata nya. Beda dengan Ku, yang tetap terjaga, meskipun sekuat tenaga kunpejam kan.
"Dee... Belum tidur?" tanya Bu Lilis.
"Ngga bisa Bu, ngga tahu kenapa."
"Ada apa... Ada yang mau dibicarakan, atau Dee mau cerita?"
"Boleh?" tanya Ku.
"Iya... Boleh, cerita saja." jawab Bu Lilis.
"Dee sebenarnya rindu mendiang Orang tua Dee,"
"Wajar, jika rindu. Terlebih lagi, pada yang sudah sekian lama tak bertemu Dee."
"Iya Bu... Begitu menyakitkan terkadang. Ingin menangis, tapi sulit. Dee adalah tipe orang yang tak pernah mau menceritakan kesedihan dengan orang lain. Karna bagi Dee, itu akan membuat orang hanya merasa kasihan. Bukan benar-benar perduli,"
"Rindu yang paling menyakitkan, adalah rindu pada orang yang sudah tiada Dee. Mama dan Papa m, meningal karna apa? " tanya Bu Lilis.
"Mama sebenarnya sakit seperti Dee. Tapi, mereka meninggal bersama'an saat Papa mengantar Mama kemo, dan kecelaka'an. Meskipun mereka meninggalkan harta yang begitu banyak. Tapi Dee lebih inginkan mereka tetap ada disamping Dee,"
"Seperti itulah takdir, Dee. Kamu tahu Rubby sebelum kemari 'kan, dan kita juga tak tahu, apa yang terjadi setelah nya."
"Iya... Dee sedikit tenang setelah cerita. Makasih ya Bu, ayo sekarang tidur. Malam semakin larut," ajak Ku.
Bu Lilis kembali terlelap dengan begitu nyaman. Dan aku berusaha segera menyusulnya. Tapi, posisi tubuhku yang masih menggunakan infus, masih membuat mobilitasku begitu sulit untuk bebas.
.
.
.
"Dee... Bangun, Nak." bujuk Bu Lilis pada Ku.
"Sudah jam berapa bu?"
__ADS_1
"Jam Enam pagi. Ibu pamit, ya."
"Iya bu... Makasih udah temenin Dee tidur malam ini, dan maaf. Ngga bisa anter keluar," sesal ku.
"Ngga papa... Santai aja, Ibu berangkat ya. Kamu jaga kesehatan, jangan capek-capek. Dan... Ibu punya kejutan buay kamu, setelah mandi nanti, By akan antar kamu nelihat kejutan nya,"
Aku mengerenyitkan dahi, dan memandangnya penuh tanya.
"Kejutan apa?"
"Udah... Nanti aja. Ibu berangkat ya, assalamualaikum,"
"Waalaikum salam," jawab Ku, seraya melihatnya berlalu.
Pov Author.
Bu Lilis dan Pak anton, melangkah pelan menghampiri Halim yang sudah menunggu dimobilnya. Rubby pun demikian, menggandeng sang ibu seolah belum rela ditinggalkan. Karna sebenarnya, Ia masih begitu ingin bermanja.
"Bu... Nanti kalau urusan nya selesai, Ibu kesini lagi, ya," rengek Rubby.
"Iya... Ini kenapa manja begini sih?" tanya Bu Lilis dengan nada heran.
"Masih rindu Dia, Bu. Wajarlah, lagi butuh tempat bermanja. Sini By, sama Mas aja," sahut Edra menghampiri Rubby. "Udah.. Besok-besok kan Ibu kesini lagi, ngga boleh manja gitu," sambung Nya.
Mobil segera berlalu dari pandangan mereka, dan Rubby terlihat semakin murung.
"Kenapa ngga bisa?"
"Mas harus lebih perhati'in Kakak,"
"By... Kakak ya Kakak, Kamu ya Kamu. Sebisa mungkin, Mas bisa membagi semuanya. Kakak juga pastinya akan lebih memanjakan Mu dari sekarang, meskipun diri nya sendiri butuh perhatian."
"Iya... By tahu,"
"Lantas? Kenapa masih murung? Udah yuk, masuk. Waktunya Kak Dee mandi sama Injeksi 'kan?" ajak Edra. Rubby hanya mengangguk, dan menuruti Edra masuk ke dalam rumah lalu segera menghampiri Diana dikamar nya.
Rubby mulai menangani Diana seperti biasa. Memberi obat, memandikan, bahkan mendandani nya.
"Cieeee... Yang baru ditinggal Ibu, murung langsung. Kenapa? Sedih?" ledek Diana.
"Masih rindu tau... Kayak ngga pernah rindu aja," jawab Rubby.
"Ya... Setidaknya, kamu rindu tapi masih bisa bertemu By. Sedangkan Kakak? Eh... Tapi mungkij bentar lagi juga ketemu sama Mama Papa," jawab Diana dengan santai.
"Kakaaaaak,,! Mulai sih, Kakak ngga boleh gitu lah. Ngga inget janji nya gimana sama By." balas Rubby kesal.
"Iya... Maaf, oh iya... Duduk didepan yuk, Kakak bosen."
__ADS_1
"Yaudah... Ayok, Kakak belum sarapan juga Kan, biar By siapin."
Rubby lalu memapah Diana keluar dari kamarnya, dan mulai menuruni anak tangga dengan perlahan.
Edra menyusulnya di belakang, dengan pakaian yang sudah rapi dan bersiap berangkat kerja.
"Mau kemana?" tanya Edra.
"Kakak mau kebawah, Mas." jawab Rubby.
"Hati-hati... Sini, biar Mas pegangin Kakak, By pegang infusnya." ujar Edra.
Mereka perlahan mendudukan Diana disofa, dan Rubby beralih membenarkan dasi Edra.
"Mas berangkat dulu, ya. Baik-baik dirumah, jaga Kakak juga." pesan Edra pada Rubby, lalu mencium keningnya bergantian dengan Diana yang duduk disebelahnya.
"Kak... Ngetehnya diteras belakang, yuk. By punya sesuatu," ucap Rubby, lalu kembali menggandeng tangan Diana menuju teras belakang
"Ya Allah... Cantiknya, siapa yang buat?"
"Bapak, Ibu, sama Mas kemaren gotong royong. Taneman nya Bapak bawain dari kampung," jawab Rubby.
Pov Diana.
Sungguh tulus kasih sayang mereka pada Ku, hingga mampu membuatkan Ku semua ini bahkan dalam waktu yang singkat. Padahal, kemaren hanya sekedar mengagumi. Apakah mereka sangat takut, jika aku pergi dalam keadaan penasaran, sehingga semua keinginan ku mereka penuhi sedemikian rupa? Entahlah, yang jelas sekarang aku begitu bahagia dan terharu dengan semua rasa tulus yang mereka berikan pada ku.
Aku merasa cukup, untuk sekarang. Hanya tinggal menunggu kelahiran anak mereka. Dan mungkin, setelah itu aku bisa benar-benar tenang. Dan siap saat aku harus menyusul Papa dan Mama.
"Nyonya... Ini teh nya," ucap Bik Nunik, memecah lamunan ku.
"Iya... Terimakasih," jawab Ku padanya. Sedang Rubby masih sibuk mengatur tempat untuk tiang infusku agar tak tersangkut di pepohonan.
"By... Makasih ya, udah mau buat ini." ucap Ku pada Nya.
"Sama Mas aja, terimakasihnya. By cuma ikut ngelihatin aja, Kak." sahut Nya. Lalu duduk disampingku, dan menikmati susu yang juga sudah dipersiapkan.
Kami asyik bersenda gurau, dan menikmati semua pemandangan, hingga seorang tamu yang tak diundang tiba, untuk menghancurkan kebersama'an kami.
"Hay... Selamat pagi, para menantu Mama," sapa Mama Mirna.
"Tumben, kesini pagi-pagi. Kenapa?" tanya Ku.
"Kenapa? Mama cuma pengen jenguk Rubby, dan memberi selamat dengan kehamilan nya, salah?" jawab Mama Mirna.
Aku hanya diam, dan menyaksikan Mama Mirna yang seolah sedang mencari perhatian Rubby. Tanpa menghiraukan jika ada aku disebelahnya.
Semua nada bicara nya memuji Rubby, namun menyindirku dengan halus, seolah aku adalah produk gagal yanh sudah tak patut dipertahan kan. Seperti itulah, Mama Mirna. Sayangnya, aku sudah begitu faham dengan nya hingga telinga, dan hatiku sudah terbiasa dan kebal.
__ADS_1