
Aku menjadi Rubby yang biasanya, Rubby yang tak terlalu elegan dengan penampilan, Rubby yang cuek, tapi sebenarnya selalu memperhatikan. Rubby yang tak mengerti dengan barang mewah, dan lebih nyaman dengan tas selempangnya, kemanapun Ia pergi.
Tujuan utama kami hari ini adalah ke yayasan, dimana para pasien kami ditampung, dan menerima pengobatan gratis disana. Aku dan Mas edra akan membagikan pakaian Kakak, agar bisa lebih bermanfa'at nantinya.
Aku turun, dan meminta seorang perawat, memanggil para pasien dewasa, dan para orang tua dari Anak-anak yang mereka tunggu. Ku minta mereka duduk rapi, lalu ku panggil satu persatu untuk memilih sendiri, pakaian yang mereka inginkan.
"Ambil secukupnya, ya, karna meskipun banyak, tapi masih banyak juga yang berhak menerima." ucap ku pada salah seorang disana.
"Iya, Bu, terimakasih banyak. Saya ambil Dua saja, karna yang satu buat keponakam saya." jawabnya.
Aku hanya mengangguk, dan memberikan senyumku. Ada perasa'an yang begitu lega sekarang, ketika aku sudah tak terbebani dengan apa yang ku fikirkan. Terlebih lagi, jika pemikiran itu terlalu keras dalam batinku yang terdalam.
Mas edra mencintaiku, aku tak perlu meragukanya lagi. Ia hanya mencintaiku dengan caranya, Ia hanya ingin aku menjadi diriku sendiri, dan tak terjebak dalam masa lalu yang perih.
Aku tahu, merubah kebiasa'an dalam. Waktu yang singkat itu tak mudah. Tapi, tak juga sebagian orang mau menerima bagaimana kita sebenarnya. Perlahan saja, berubah sesuai bagaimana hatimu. Jangan dipaksakan, apalagi membuatmu menjadi seperti dia.
"Bu... Boleh lah saya ambil agak banyak?" tanya seorang lagi yang menghampiriku.
"Ibu perlu banyak pakaian?"
"Ah... Tidak, saya hanya ingin membagikanya lagi pada orang-orang diblok kami. Mereka adalah kumpulan orang jalanan, yang untuk makan saja susah."
"Oh... Baiklah, ambil seberapa banyak yang akan dibagikan. Jangan sampai terlewat, karna takut ada konflik nanti." jawabku.
Ia minggir sebentar, dan mulai menghitung jumlah orang yang ada disana."Semuanya, ada Dua Puluh Lima orang. Itu yang dewasa, dan pantas memakai ini. Yang lain, pasti ada rejeki lain 'kan?"
"Iya... Bisa kah saya menitip rejeki itu pada anda, untuk menyampaikan pada mereka?" tanya ku.
"Ya... Jelas bisa, insyaalah saya amanah," jawabnya dengan antusias.
Aku memberikan beberapa lembar uang, dan memintanya membagikan dengan adil. "Tolong bagikan, do'akan yang terbaik atas nama Diana. Ma'af, saya tidak bisa turun langsung, karna banyak pekerja'an hari ini."
Dengan wajah semringah, Wanita itu pun menerimanya, dan berjanji akan membagikan dengan seadil-adilnya, lalu Ia segera berlalu meninggalkan ku.
Mas edra membantu mengawasi pembangunan di lahan sebelah, sedang Winda, asyik bermain bersama Maliq, yang sedang lincah merangkak, dan semakin menggemaskan.
Aku melangkah, dan menghampiri mereka yang sedang bermain bersama beberapa anak yayasan, ikut tertawa ketika Maliq terbahak-bahak dengan goda'an mereka. Ya, meskipun mereka sebenarnya sakit, tapi mereka masih bisa menghibur orang lain, itu kekuatan tersembunyi dari mereka yang tak akan pernah bisa kita tebak.
__ADS_1
Perjalananku terhenti, ketika Hp ditasku berbunyi. Aku mencari tempat duduk terdekat, lalu mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Bu,"
"Wa'alaikum salam, By. Gimana kabarnya Nak?"
"Alhamdulillah sehat, ma'af, By belum bisa kesana nengokin Ibu bawa Maliq. Disini lagi sibuk banget,"
"Iya... Ibu ngerti. Nak, Ibu mau minta izin boleh?"
"Izin apa, Bu?"
"Esok lusa, Abang Ramlan mau ngelamar Maya, mereka mau numpang nginap disitu boleh sayang?"
"Kenapa Ibu yang nelpon? Bu rina nya mana?" tanya ku kesal.
"Pak fauzy sebenarnya sedang sakit, jadi mereka minta tolong Ibu menanyakan,"
"Ibu ikut?"
"Ngga bisa sayang, Kak fitri lagi hamil muda, lagi lemah-lemahnya, Ibu harus nemanin, Kasihan. Tapi Bang halim besok mewakili kami, meskipun datang tak bersama'an."
"By ngga usah khawatir, Bu rina, insyaalah sudah berubah, tak seperti dulu lagi."
"Iya... By tau, semoga aja kalo ngelihat By, beliau ngga kumat lagi ya, Bu."
"Iya sayang... Salam sama Edra, sama Maliq juga, ya,"
"He'emh... Assalamualaikum," tutupku.
"Ah... Kenapa harus bertemu Dia lagi, ya Allah. Tapi, ikut seneng, Bang ramlan sama Maya jadi juga." gumam ku.
Aku melangkah lagi, namun tak menuju Maliq, melainkan, menyusul Mas edra diproyeknya.
"Sayang... Kenapa kesini? Banyak debu loh,"
"Mass, katanya mau seharian sama Anak istri, kok malah ke proyek lagi?" keluhku.
__ADS_1
Ia mengerengitkan alisnya, dan menghampiri ku.
"By tadi 'kan sibuk, jadi Mas sekalian lihatin ini. Sekarang udah selesai?"
"Udah..."
"Mau kemana kita? Ke mall, wahana bermain? Kebun binatang, atau pantai?"
"Wahana bermain, tapi yang ada di Mall. By mau beli baju, yang pantas buat kekantor,"
"Gamis juga pantas kekantor, lebih cocok sama By,"
"Iya... Tapi gamisnya yang formal gitu, bukan gamis santai. Ntar malah, dikiranya ngeremehin pekerja'an lagi,"
"Oke lah, ayo, kita berangkat." ajaknya.
Aku melepas Mba Winda, agar Ia bisa menikmati liburanya sendiri, namun Maliq justru menangis. Hingga akhirnya, Ia kami ajak kemanapun kami pergi. Beruntungnya, jika terus seperti ini.
Kami menuju Mall, tempatku dan Kak Dee sering berbelanja, namun tak seperti biasa, karna tujuan awal kami adalah wahana bermain untuk Maliq.
"Sayang... Kalau mau shoping, atau ke salon, pergi aja, ajak Winda. Biar Mas sama Maliq main disini."
"Serius, ngga papa? Ntar nyalonya lama, apalagi antri," jawabku.
"Boking aja satu salon buat kalian berdua, lebih nyaman, lebih leluasa."
"Ish... Ngga boleh gitu lah, kasihan yang lain." jawabku, lalu menggandeng Winda pergi meninggalkan Maliq dan ayahnya.
Kami masuk ke salon langganan ku dan Kak Dee dulu, dan mengantre beberapa sa'at, hingga akhirnya giliran kami tiba.
Semua tahapan spa kami nikmati, meskipun sedikit cemas, bagaimana Maliq disana, tapi yakinlah, karna Ia bersama Ayahnya.
"Bu, makasih traktiranya," ucap Winda padaku.
"Iya, Mba Win, sama-sama. Malah seneng saya kalau ada temen begini. Lagian, calon pengantinkan memang butuhperawatan," jawabku.
"Biasanya, kalau kesini pasti bookingan pribadi, atau VIP, kok tumben," ujar pegawai salon yang melayaniku.
__ADS_1
"Ini kan Rubby Kak, bukan Kak Diana," jawabku dengan sedikit melempar senyum padanya.
Ya, ini Rubby. Rubby yang tak akan bisa menjadi Diana.