MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)

MADU PILIHAN ISTRIKU (RUBBY)
Anak-anakku


__ADS_3

"Ibu... Kangen," ucap Bayu, dengan khas cadelnya lalu memeluk ku dengan begitu erat.


"Bayu, Ibu kangen juga sama kalian. Ibu sama adek Nana udah pulang, jadi kita bisa main bareng lagi." balasku dengan bahagia.


"Adek mana? Bram mau lihat." ucap Bram, lalu beralari kekamar atas, disusul yang lain.


"Bram... Jangan larian, nanti jatuh." teriak Maliq, lalu mengejar mereka, disusul aku dibelakangnya.


Sikembar dengan bahagianya tidur. Dikanan dan kiri Nana, sedang Bram dengan wajah penuh penasaran, sesekali mencolek wajah Nana dan menciuminya.


"Sayang, hey.... Ganti baju dulu, kan baru pulang sekolah. Itu kotor, bau keringet." ujarku.


"Sebentar aja, mau peluk adek." balas Adi padaku, dengan tangan kiri memeluk Nana yang sedang tertidur pulas.


Akhirnya Mba ratih yang mendatangi kami, dengan membawakan pakaian si kembar, dan  Maliq membawakan pakaian Bram.


"Sini, Mas ganti'in bajunya. Bram tuh ngeyel kalau dibilangin." omel Maliq.


"Kan, Bram mau nengok adek. Mas udah nengok, ya ngga pengen lagi lah." jawab Bram.


"Ayo Bayu, Adi, ganti dulu pakaianya nanti adeknga kebauan," bujuk Mba ratih pada kembarku.


"Sini, Ibu aja yang pakaikan." pintaku padanya.


Kini ku nikmati kembali mengurus bayi mungil setelah Enam tahun, bersama mengurus yang lainya. Karna meskipun ada seorang pengasuh, tapi mereka tetap begitu dekat denganku.


Pernah ku coba untuk mencari pengasuh tambahan, namun hasilnya, anak-anak mengeluh karna merindukanku setiap hari, dan justru memangis ketika ku tinggal bekerja. Hingga akhirnya aku memilih vakum, dan lebih fokus pada anak-anak sekarang. Terlebih lagi Nana, yang butuh perawatan khusus dari kami.


Sore ini, kami berkumpul diruang tengah, menonton Tv, sembari mengasuh Nana bersama.


"Ayah mana?" tanya Bram.


"Belum pulang Bram, sebentar lagi kayaknya." jawab Maliq.


Bram lalu menggelindingkan tubuhnya dikarpet, seolah sedang dalam fase terlalu bosan, dan kami pun hanya tertawa melihat tingkah lakunya.


"Bram kenapa?" tanya Maliq.


"Bram kebosanan, nonton tv bosan, semuanya bosan. Adek kapan besarnya Mas?" tanya Bram.


"Gede nya masih lama Bram, main sama Bayu dan Adi aja kalau bosan."


"Ah, malas. Mereka nakal, suka rebutin mainan."


"Ya sama kayak Bram, yang suka rebutin mainan Mas maliq," ledek nya pada Bram.

__ADS_1


"Udah, jangan berantem. Ajak main adeknya, Mas."leraiku.


"Iya Bu. Ayo main, mau main apa? Asal jangan ngajak berantem." ahak Maliq.


Bram seketika menegakkan tubuhnya dengan begitu semangat, dan mengikuti sang kakak keruang bermain.


"Assalamualaikum," ucap Mas edra, yang pulang dari kantor.


Semua punggawaku berhamburan keluar menghampiri Sang ayah lalu berebutan memeluknya, hingga kewalahan.


Brugh.....! Mas edra terjatuh kelantai, memeluk anak-anak.


"Ya Allah, pelan-pelan sayang. Ayah capek itu," tegurku.


"Selelah apapun pulang kerja. Kalau dirumah disambut begini rasanya langsung hilang capeknya." jawab Mas edra, dengan wajah bahagia.


Mereka saling menggelitik dan melempar tawa tanpa lelah, seperti sudah sekian lama tak bersenda gurau. Wajar saja, Satu minggu lebih mereka mengurusku di Rumah Sakit, dan hanya sesekali Mas edra pulang.


"Udah sayang, ayahnya bau suruh mandi dulu lah." tegurku lagi.


"Iya, dengar Ibu tuh. Ayah mai mandi dulu, nanti kita main lagi." jawabnya.


Menatap kebersama'an mereka membuatku bahagia. Hingga kini terasa semakin lengkap kebahagia'anku, karna setidaknya aku memiliki seorang putri yang akan  berdandan bersamaku esok hari. Memakai baju yang sama, warna kesuka'an yang sama, hingga kami akan berbelanjan bersama ketika Ia sudah dewasa.


"By, ngga cari pengasuh tambahan buat anak-anak?" tanya Mas edra.


"Ya, buat Nana. Kan dia yang butuh asuhan ekstra."


"Hmm, boleh. Besok By minta ke yayasan lagi." jawabku padanya.


Mas edra mengendap-endap tidur disampingku.


"Adek... Udah tidur?" tanya nya.


"Udah, kenapa?"


"Hmmm... Boleh ngga, hmm itu..."


"Eh, belom boleh, kan masih...."


"Ish.... Mas minta kerokin lah," potongnya dengan nada kesal."


"Hahahha.... Ma'af, Mas. Kirain sesuatu tadi." tawaku terbahak-bahak.


Malam itu pun kuhabiskan berdua bersama Mas edra. Bertiga lebih tepatnya, karna Isyana tidur bersama kami. Semalaman, aku dan Mas edra bergantian bangun membuatkanya susu, dan memangku tubuhnya ketika rewel.

__ADS_1


"Mas, Nana rewel lagi?" tanyaku, yang terbangun dari lelap.


"Iya, ngerengek sebentar. By tidur aja, seharian kan capek ngurusin anak. Mana luka operasinya belum sembuh total kan?"


"Mas, ngga capek?"


"Engga lah, By lebih capek. Empat yang lain ngga lepas dari By, bahkan ketika tengah malam By harus menyusui mereka, dan Mas ngga bisa bantu 'kan. Tapi sekarang, sepertinya Nana sengaja rewel buat bangunin Mas, biar bisa gantian ngurusin Nana kalau malam."


"Iya, terimakasih," jawabku haru.


"Pantes aja, By waktu hamil Nana, kesel sama Mas. Berarti ini tandanya, kalau Nana memang akan lebih deket sama Mas nantinya. Dasar, anak nakal," ledeknya, dengan memainkan hidung Nana yang mancung itu.


Pov Author.


Hari ini adalah hari minggu, Maliq dan kembar ikut bersama ayah mereka dalam sebuah pertemuan, dan Bik inah beserta Mba ratih, ku minta untuk belanja bulanan.


"Bram kenapa ngga ikut ayah?" tanyaku pada Bram, yang diam dirumah dengan Hpnya.


"Males, disana rame. Mending dirumah, jagain Ibu sama adek." ucapnya, cuek.


"Hmm, Ibu boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa?" tanya nya, lalu meletakan Hpnya dimeja.


Aku menggandengnya masuk kekamar, dan menidurkan Nana diranjang.


"Mupung adeknya tidur. Ibu mau mandi dulu, Bram bisa jagain adek?"


"Bisa, Ibu mandi aja sana." jawabnya dengan penuh semangat.


"Tungguin aja tapi, ya. Jangan diapa-apain, jangan ditinggal. Ibu cuma sebentar aja, kalau udah langsung kesini. Oke?"


"Oke, Bu." balas Bram, lalu duduk disamping Nana dengan penuh rasa sayang.


Lima belas menit aku meninggalkanya, tak ada tangis, tak ada panggilan. Hingga aku yang penasaran dengan cepat memakai pakaian ku dan menemui mereka kembali kebawah.


"Mas Bram, adeknya ngga nangis?" tanyaku padanya.


"Engga Bu, adek diem, tidur terus. Bram pinter kan jaganya?"


"Iya, pinter." jawabku, dengan sesekali mengendus bau kurang sedap dikamar.


"Ini, adeknya ngompol kok ngga nangis?" tanyaku, lalu mencari aumber bau, yang ternyata dari celana Bram yang sudah basah..


"Loh... Mas ngompol? Kenapa ngga pipis dikamar mandi?"

__ADS_1


"Kan, Ibu bilang jangan kemana-mana, takut adek nangis. Ya, Bram ngga kemana-mana. Ehh, ngompol," balasnya dengan senyum geli.


"Ya Allah, Nak... Ibu nyuruh diem nungguin, tapi ngga begini juga sayang." gemasku padanya, lalu membawanya kekamar mandi.


__ADS_2