
Suara mobil terdengar masuk kehalaman rumah. Lalu terdengar suara langkah Kaki memasuki ruangan rumah itu dengan langkah pelan.
"Itu... Mama udah jemput. Pasti bentar lagi manggil, " ujar Diana.
"Rubby... Mama dateng sayang, kamu dimana?" panggil Mama Mirna.
"Kak... By pergi dulu, ya." pamit Rubby pada Diana.
Rubby lalu berlari kecil menghampiri Mama mirna diruang tamu.
"By disini, Ma. Udah siap daritadi kok," jawab Rubby.
Mama mirna memperhatikan penampilan Rubby dari atas, hingga keujung kaki.
"Astaga... Diana ngga ngasih kamu uang apa buat beli pakaian?. Dianaaaa... Sini kamu," teriak Mama mirna.
"Kenapa? Ada apa lagi?" tanya Diana yang berjalan santai menghampiri Mama mertuanya.
"Kamu ngga ngasih duit sama Rubby? Kamu keterlaluan ya, diri sendiri aja yang dipentingin. Lihat Rubby dandanan nya kampungan gini," omel Mama mirna.
"Rubby bukan kampungan... Dia memang style nya begitu. Bahkan uang Rubby yang saya kasih sekarang lebih banyak dari uang Mama. Udah lah, asal By ngga kebanyakn hutang sana sini aja demi fashion." jawab Diana santai.
"Kamu nyindir Mama?"
"Engga.... Tapi kalau ngerasa ya, bagus. Udah sana pergi, By ngga boleh kecape'an. Jangan di apa-apain madu ku, masih inget kan kejadian beberapa waktu lalu. Jangan sampai keulang lagi." diana memberi peringatan pada Mama mertuanya.
Mama mirna hanya menatap Diana tajam, lalu berbalik arah menggandeng Rubby, tanpa sepatah kata pun.
Pov Rubby.
Mama mirna menggandengku dan berjalan cepat memasuki mobilnya. Perasaanku campur aduk, antara bahagia, bingung, atau khawatir. Tapi, Kak Dee bilang aku harus tetap tenang, karna Ia mengirimkan seseorang dibelakangku.
"Mama... Mau ngajak By kemana?"
"Shoping... Mama geli ngelihat kamu dandananya begitu, kumel. Kamu itu jadi andalan Edra sekarang. Dibawa kemana-mana setiap pertemuan. Masa, istri konglomerat dandanan nya begini... Meskipun istri kedua."
Deg... Sedikit lara hati ku saat Mama menekan kan kalimat itu. Kau menyadarinya, namun entah kenapa saat Ia yang berbicara kenapa masih terasa sakit. Tapi, aku harus ingat pesan Kak Dee, jika aku tak boleh terbawa perasaan.
Aku menengok kearah belakang sejenak. Terlihat seorang pria dengan baju serba hitam dan mengendarai sebuah motor mengikuti. "Apa itu orang suruhan Kakak, untuk mengawasi ku?" gumam Ku.
__ADS_1
Aku kembali terdiam, dan tak bergerak lagi demi tak memancing pembicara'an dengan Mama. Hingga sampai disebuah Mall.
"Ayo turun... Ada butik langganan Mama disini. Nanti, sekalian belanja keperluan bayi. Harus yang bagus, dam bermerk." ucap Nya dengan ketus.
"Iya...." Aku menunduk, lalu mengikutinya dari belakang.
Benar saja, Mama masuk dan membawa ku kesebuah salon. Mama meminta ku untuk perawatan. Melakukan vermak untuk penampilan ku. Mungkin, Ia ingin jika aku berpenampilan seperti Dia.
"Ma... By ngga bisa pake hells,"
"Harus dibiasain... Edra itu cocoknya sama wanita yang anggun, berkelas. Dulu Dee juga seperti itu, bangga kalau dibawa kemana-mana. Tapi sekarang? Melihatnya saja Mama sudah mau muntah." balas Nya.
Hati ku meradang, namun kembali lagi ku hela nafas panjang dan tak ingin membalas bicaranya.
Pemberhentian berikutnya, Mama membawaku kesebuah Baby shop mewah. Dengan berbagai perlengkapan bayi yang pastinya berharga fantastis.
"Ma... Kenapa harus belanja sekarang? Kehamilan By baru jalan Lima bulan. Kata Ibu_..."
"Mama mau adain Baby shower sama rekan bisnis Mama. Untuk menyambut Bayi pertama keluarga Pratama. Dan jangan senang dulu, Mama begini buat anak mu, bukan kamu." sela nya padaku.
Ternyata memang cuma karna bayi ku, Mama juga ngga akan bisa mengubah pandangan nya padaku.
"Ma... Jangan kecepetan, By susah jalan nya." teriak Ku. Namun Mama tak perduli hingga aku keseleo dan seseorang menghadangku.
"Auuuwh... Sakit," keluhku dengan memegangi pergelangan kaki.
"Mba... Ngga papa?" Tanya pria berbaju serba hitam tersebut.
"Ngga papa... Makasih ya, Mas," ucap Ku. Itu seperti pria yang mengikuti dari belakang tadi. Tapi, suaranya seperti kenal. Siapa ya?.
Sebelum sempat berfikir, Mama mirna kembali menebar kata-kata manisnya padaku.
"By... Kenapa dengan pria itu? Tampan? Ngga usah dilihatin. Edra aja mau sama kamu karna dojodohin sama Diana," ucap nya santai.
"Iya... Tahu. Jangan dipertegas mulu kenapa?" jawab Ku.
"Udah bisa jawab?" tanya nya kembali, dengan menatapku tajam.
"Engga... Pulang yuk, Ma. By capek, udah waktunya Kak dee minum obat sekarang." alih ku.
__ADS_1
"Biarin ngga usah minum obat, minum obat sebanyak apa juga ngga sembuh. Mama lebih fresh dari dia sekarang."
Aku kembali diam menahan kesal, sambil melemparkan senyuman getirku padanya.
Seampainya dirumah, Mas edra menyambutku dengan manis, begitu juga Kak dee, awalnya. Namun, Kak dee terlihat meradang saat tahu aku memakai hells tinggi yang bisa menyakiti pinggang ku.
"By... Kenapa pakai hells? Kamu ngga kasihan bayi mu?" bentak Kak dee.
Aku ingin menjawab, namun disela oleh Mama yang ikut masuk kerumah.
"Mama yang suruh... Kenapa? Ngga suka?" ucap nya angkuh.
"By... Buka hellsnya! Kakak tahu kamu sakit pakai itu. Kakak udah bilang, ucapan nya ngga harus semua dituruti 'kan." ucap Kak dee, yang mengabaikan Mama berbicara.
"Iya Kak... Betis sama pinggang By sakit rasanya," balasku.
Mas edra membantuku melepas hells itu, dan memakaikan sendalnya padaku.
"Hey Diana... Kenapa kamu mempengaruhi Rubby untuk bergaya kampungan seperti biasanya. Kamu ngga mau, dia lebih cantik dari kamu? Lebih fashionable dari kamu yang sudah semakin menyedihkan itu?"
"Biarkan By nyaman dengan gaya nya, Ma. Mama jangan paksa untuk menjadi seperti Mama. By lagi hamil," sahut Mas edra.
Aku hanya terdiam menunduk mendengar perbincangan mereka. Tanpa bisa menengahi.
"Ma... Diana tahu, mama seperti ini hanya untuk menunjukan pada yang lain, betapa perdulinya Mama pada Rubby. Tapi itu hanya untuk mencari muka dikalangan sahabat mama 'kan. Bukan karna tulus?" tanya Kak dee.
"Diana.... Kamu makin lama makin lancang!" ujar Mama mirna, dengan mengarahkan tamparan nya ke Kak dee. Namun, ditangkis Mas edra.
"Ma... Edra tahu, Mama sayang dengan calon cucu mama. Dan perduli pada penampilan Rubby saat menemani edra. Tapi, ngga begini caranya. Edra senang, Mama mau mengajak Rubby jalan, belanja. Mama juga harus ingat jika Rubby itu bukan Mama. Mama ngga bisa memaksakan kehendak Mama pada Rubby."
"Mama hanya ingin buat Rubby terlihat elegan saat berada disamping kamu, sayang. Mama ngga suka lihat gayanya yang kampungan itu,"
"Ma... Rubby nyaman dengan itu. By juga bisa menyesuaikan diri dengan keberada'anya. Tak perlu dipaksa, lihat... Dia kesakitan,"
Mama mirna mengepalkan tangannya, Ia mendengus kesal, lalu pergi dari hadapan kami tanpa sepatah katapun.
"By... Istirahat dikamar. Biar Bik Nunik nanti pijitin kaki kamu," ujar Kak dee.
"Kak... By boleh makan dulu ngga? By laper.... Daritadi diajak keliling ngga diajak makan." rengk ku dengan memegangi perut yang semakin membesar itu.
__ADS_1
"Memang... Keterlaluan Mama.... Yasudah, Nanti Kakak anter makanan buatmu. Yang penting istirahat dulu, kasihan Bayi mu," balas Kak dee lagi, yang sepertinya masih emosi.