
Pov Edra.
Terduduk disini, kembali menatap fotomu.
"Dee, tadi By curhat apa? Masih meragukan ketulusan Mas kah? Udah, Dee jangan dengerin By. By hanya khawatir saja. Disini, Mas udah mulai mengasah cinta Mas buat By, jadi Dee bisa makin tenang disana. Mas akan jaga amanat kamu sayang. Membahagiakan By, tapi dengan cara Mas sendiri. Ma'af, tadi ngga ikut mampir, karna takut Maliq makin rewel nantinya. Yang tenang disana ya, jangan khawatirkan kami." kemudian aku mengecup foto itu.
Foto itu adalah foto yang kami ambil sebelum kami menikah, disa'at masih mengejar restu Mama. Sungguh sangat sulit waktu itu, karna Mama dahulunya menjodohkan ku dengan yang lain, tapi cintaku justru berakhir pada Diana.
Tok.... Tok... Tok...!
"Mas, kok masih disini? Belum tidur?" tanya By padaku.
"Hah? Ngga papa sayang. By belum tidur?"
"By, kan nungguin Mas. Mas kangen Kakak?"
"Kamu tahu itu, sayang. Kerinduan yang tak pernah bisa diredam, karna tak akan bisa terobati."jawabnya.
"Mas, shalat, ngaji, do'ain Kakak. By lagi ngga bisa ikut,"
"Yaudah, Mas tahajud dulu, ya. By ngga udah nungguin. Tidur aja langsung,"
Ia hanya mengangguk, dan kembali kekamar. Ku ambil air wudhu, dan kupakai baju koko pemberian terakhir Diana. Kurentangkan sajadahku dan shalat dengan khusyu.
"Ya Allah, aku tahu, engkau begitu menyayanginya, dan tak ingin merasakan sakit lebih lama lagi. Jujur, aku masih kehilangan sampai sekarang. Aku tahu. Diana tak ingin aku seperti ini, cengeng, dan terlalu terbawa perasa'an. Tapi, begini lah kenyata'anya. Bantu aku ikhlas dan menerima semuanya. Mengemban amanat yang Diana berikan padaku, dengarkan lah do'aku... Aamiin, "
Aku melipat kembali sajadah itu dengan rapi, dan kembali pada Rubby.
"Mas... Udah shalatnya?"
"Udah... By kenapa belum tidur."
"Ngga papa. Oh iya, ehmm... Kakak ngga ada ninggalin surat apa, gimana gitu?"
"Ngga ada kalau buat By, cuma ada buat Mas. Ya... Kita tahu lah isinya, By juga bisa menebaknya." jawabku.
"Pasti Kakak nyuruh jagain By sama Maliq kan?"
"Iya..."
"Ngga ada yang lain?"
"Engga sayang... Ayo tidur, udah malem. Besok kesiangan. Kan, By mau ngantor besok."
__ADS_1
"Eh... Iya, ya. Lupa," tawanya.
Rubby tidur membelakangi ku karna memeluk Maliq diranjang yang sama, dan ku peluk tubuhnya dari belakang, dan mengusap rambutnya yang tergerai indah, mengingatkan ku kembali pada Diana.
"Jangan seperti itu, Dra. Ini Rubby, bukan Diana." gumamku.
Paginya, kami semua bersiap untuk kekantor masing-masing.
"Mas... Hari ini acaranya apa, ya?" tanya Rubby.
"Paling... Kalau hari ini, Cuma perkenalan sama semua staf aja, ngga terlalu sibuk. Maliq dibawa?"
"He'emh... Kasihan Bibik, pusing kalau Maliq rewel nanti. Lagian, ngga seharian 'kan."
Aku berdiri dari meja makan, merapikan jas dan kemejaku. Rubby yang melihatnya, langsung ikut berdiri, dengan roti dimulutnya, dan. Membenarkan dasi ku.
"By makan roti aja?"
"Iya... Males makan nasi, begah," jawabnya sedikit kesulitan.
Dengan refleks, aku menggigit roti yang ada dimulutnya, lalu mengunyahnya dimulutku.
"Hhh... Mas, udah tahu lagi ngga selera makan, malah rotinya diminta," omelnya.
"Ish... Dasar," tepuknya didadaku.
"Rubby sekarang jadi tukang nabok,"
"Biarin... Udah sana, pergi, nanti kesiangan. Ntar digosipin karyawan lagi loh,"
"Yaudah...mas berngkat, ya." pamitku.
Pov Rubby.
Setelah keberangkatan Mas edra, aku nenggendong Maliq, dan menyusul untuk pergi kekantor. Ku naiki mobil, dan meminta Mas bima segera menyetirnya.
"Mas..."
"Iya, Bu?"
"Masih nyaman pakai mobil ini?"
"Kalau saya, nyaman-nyaman aja, Bu. Kenapa?"
__ADS_1
"By pengen ganti mobil, tapi ngga tahu bagusnya yang gimana. Solanya, semakin kedepan, semakin banyak kegiatan nanti. Kemana-mana haru bawa Maliq, barangnya banyak." ujarku.
"Mobil apa maunya Bu?"
"Apa, ya? Yang gede gitu. Jadi kalau mau pulang kampung, bisa santai dimobil,"
"Alphard gimana?" tanya Mas Bima.
"Apa itu? Mahal kah?"
"Sebenarnya, dulu Bapak mau beli'in buat Ibu nyonya, tapi beliau ngga mau. Lebih nyaman pakai yang ini. Kalau Alphard sekitar Satu Milyar, Bu."
Aku terngaga mendengar Ia mengucapkan harganya. "Satu M, Pak?"
"Iya... Soalnya, Bapak udah mau beli'in Buat Ibu nyonya, udah hampir di Dp, tapi cansel."
"Hah? Apa jadinya, kalau aku beli mobil itu. Aku hanya takut, jika masih ada yang memggunjingku. Lalu menuduhku bersenang-senang dengan peninggalan Kakak." batin ku.
"Nanti deh, tanya Mas aja." jawabku.
Tiba dikantor, beberapa karyawan menawarkan jasanya mengasuh Maliq, tapi Maliq ku menolaknya, hingga Ia harus ku bawa kemanapun.
Aku menuju keruanganku, dan ternyata disana sudah menunggu Mba Rara dan Mas Thomas.
"By, silahkan masuk. Hari ini, agenda kita ringan. Hanya memperkenalkan mu, pada seluruh staf disini. Agar mereka semua faham, jika kamu yang memimpin disini sekarang."
Aku hanya mengangguk, dan menuruti mereka. Mba Rara mengambil Maliq dari ku, dan untung saja, Maliq tenang bersamanya.
Satu persatu kegiatan kami lakukan, menyapa seluruh karyawan, dan memperkenalkan diri. Sambutan mereka hangat padaku, tak tahu dibelakang ku.
Kembali keruangan, aku mempelajari beberapa berkas perusaha'an, yang sudah berganti nama itu. Untuk lebih memahami, kinerja perusaha'an ini.
"By... Mau ke Yayasan? Kami sudah mendirikan nya beberapa hari lalu, sesuai perintahmu. Ya, meskipun masih ngontrak disana. Tapi lumayan, bisa menampung banyak orang." ujar Mba Rara.
"Baiklah... Dengan senang hati, By akan kesana. Ayo, Mba." ajak ku, dengan Maliq yang sudah kembali ke tanganku.
Yayasanya tak begitu luas, tak begitu megah, namun, cukup untuk meringankan beban mereka sementara, menunggu tempat baru, yang sedang dibangun.
"Sudah ada Dua Puluh orang disini, sejak dibuka nya yayasan Seminggu yang lalu, By. Mereka dengan berbagai macam diagnosa kanker, dari yang masih awal, hingga stadium akhir, seperti Diana dulu."
Aku memperhatikan sekeliling, manatap mereka satu persatu.
"Kak... Ini yayasan atas namamu. By ingin membantu semua orang yang kurang beruntung, dengan penyakitnya. Semoga usaha kita tak sia-sia, Kak. Meskipun Kakak ngga menuliskan pesan untuk By, tapi By tahu, ini keinginan terbesar Kakak yang belum bisa terwujud. Karna kita yang sama-sama sibuk ketika itu."
__ADS_1