
Pov Edra.
Hari ini, aku benar-benar tak konsesntrasi bekerja. Para wanita itu serasa menghantui fikiranku. Diana yang lebih banyak diam, Rubby yabg sedang butuh perhatian, dan Mama yang seolah selalu saja mencari sela parmasalahan diantara kami.
Kenapa Mama hingga kini masih saja mempermasalahkan pernikahan ku dengan Diana, meskipun Diana sudah dengan ikhlas melepaskan perusaha'an ini untuk ku, dan lebih memilih perusaha'an yang satunya lagi.
Aku melamun, hingga Winda tiba keruangan dan menghampiri ku.
"Pak... Bapak kenapa melamun?" tegur Winda.
"Hah... Engga Win, kenapa?" sanggah ku.
"Pak... Saya jadi sekretaris probadi Bapak itu udah lebih dari Lima tahun, saya tahu, Bapak itu bagaimana. Apalagi kalau sedang memikirkan sesuatu. Ini beberapa File yang harus Bapak tanda tangani," ujar Winda.
Ia menyodorkan setumpuk file padaku.
"Kamu memang, Win... Saya hanya bingung sendiri dengan para wanita itu. Terutama Mama dan Diana. Kamu tahu kan, mereka bagaimana?"
"Jelas sangat tahu, Pak." jawab Winda.
"Baru-baru ini... Mama mengajak Rubby mengadakan Baby shower hingga larut malam, dan membuat Rubby kelelahan. Dan karna itu, Diana seolah mengamuk tak terima. Kamu tahu, Diana sampai menjemput Rubby kerumah Mama saat itu juga."
"Hah! Nyonya mendatangi rumah itu? Demi Nona muda?"
"Iya... Sebegitu sayang dan perdulinya Ia pada Rubby."
"Pak... Jujur, saya benar-benar salut pada kehidupan rumah tangga Bapak. Meskipun, poligami... Tapi. Antara Nyonya dan Nona muda benar-benar saling menyayangi satu sama lain."
"Iya, Win... Tak ada masalah dari mereka sebenarnya. Hanya saja, Mama yang jadi pikiran sa'at ini, Win."
"Bu Mirna... Ma'af, sejak dulu sepertinya memang hanya terobsesi untuk memiliki Bapak. Tak ada yang lain yang boleh memiliki Bapak selain beliau. Benar?"
"Maksudnya? Dia mencintai saya? Ngawur kamu."
"Bu... Bukan. Maksud saya, hanya terobsesi untuk memiliki Bapak sebagai anaknya. Bapak hanya milik beliau seorang. Mungkin sejenis gangguan jiwa, OBSESIF IMPLUSIF."
"Benarkah? Tapi sepertinya sayang dengan Rubby."
"Itu karna... Nona mengandung anak Bapak. Bukan karna diri Nona sendiri. Itu, menurut saya."
"Bahaya kah itu?" tanya ku lagi padanya.
"Sanggupkah Bapak, memeriksakan nya ke Rumah Sakit jiwa? Ma'af, psikiater saja."
__ADS_1
"Akan saya coba, Win. Terimakasih atas saranmu,"
"Baik... Saya permisi dulu, nanti kalau ada apa-apa, Bapak panggil saja."
"Oke..." jawab ku. Dan Winda langsung bergegas keluar ruangan itu.
"Apa harus... Ku turuti saran Winda? Tapi memang, terkadang Mama terkesan begitu kelewatan sa'at memanjakan ku dan bahkan memusuhi para istriku. Mama terobsesi membuat ku sempurna dimata orang lain. Bahkan sampai mendonorkan ginjalnya sebelah untuk ku bisa bertahan, menjadi lelaki yang kuat dengan tubuh sempurna. " gumam ku, dengan membaca satu persatu file yang ada dimeja.
*
*
*
Hari sudah senja. Tak terasa, semua pekerjaan ini begitu lamban untuk ku kerjakan.
Aku bersiap untuk segera pulang, dan menjumpai istriku dirumah, dengan perasa'an antusias. Membayangkan mereka menyambutku berdua dengan senyum manis mereka, mebuatku semakin bersemangat menjalani hidupku yang semakin sempurna ini.
"Dee.... By... I'am coming," ujarku dengan melangkahkan kaki menuju mobil kesayangan ku.
Pov Rubby.
Aku terbangun, dan ternyata hari sudah sore.
"Ya Allah... Kenapa Kakak ngga bangunin sih," gumam ku dengan kesal.
Setelah itu, aku langsung mencari Kak dee dibawah, dan ternyata sedang menonton tv seraya membaca buku.
" Kak... Kakak yang bener yang mana? Baca, apa nonton?" tegur ku.
"Dua-dua nya, By." jawabnya, dengan menyunggingkan senyum manisnya padaku.
Aku perlahan duduk, sambil memegangi perutku yang mulai berat. "Hhh... Gimana caranya nonton sambil baca? Ngga konsen lah."
"Kalau lagi mulai talk shownya, Kakak nonton. Pas lagi iklan, Kakak baca lagi."
"Hmm... Kak, hoby Kakak sama kayak Mama mirna."
Ucapan ku itu langsung mendiamkan nya. Dan membuatnya menhembuskan nafas panjang.
"Mama mirna ngga pernah punya hoby baca, By... Mama mirna Hoby nya masak." jawabnya padaku.
"Tapi... Kemarin, juga buku-buku nya banyak di rak."
__ADS_1
"Di rak? Rak yang mana?"
"Rak lemari putih, diruang tengah. Lemarin kaca yang putih bernuansa gold itu."
"By... Itu lemari buku Kakak. Kenapa disana posisinya? Itu barang pribadi Kakak."
"Lah... Ya 'By ngga tahu Kak. By fikir. Emang khusus lemari buku ruang tengah."
Pov Diana.
"Mama sudah lancang memindahkan barangku yang ada disana. Padahal, aku pun tak pernah menyentuh barangnya sama sekali. Apa Mama masih mencari sesuatu dari dalam lemari itu? Hhh... Coba saja, meskipun harus membuatnya kehilangan akal sehat. Dia tak akan menemukan nya dimanapun. " batin ku begejolak. Antara kesal, marah, dan benci.
Aku tahu aku tak pernah lagi kesana. Tapi, sesuai perjanjian. Barang ku yang ada dirumah itu tak ada yang boleh Ia sentuh sama sekali, bahkan memindahkan nya."Sekali lagi... Mama sudah melewati batasan dari Diana, Ma....."
*
*
*
"Assalamualaikum...." sapa Mas edra, yang baru pulang dari kantornya.
"Waalaikum salam..." jawab Rubby, disusul dengan jawaban ku.
Rubby Berdiri, lalu mencium tangan Mas edra, dan memeluknya. Lalu Mas edra menghampiriku, dan mencium keningku.
"Ma'af ya, Mas.... Ngga bisa berdiri tiba-tiba gitu, takut gliyengan." ujarku.
"Ngga papa sayang... Kan udah diwakilin Rubby. Kalian lagi apa?"
"Lagi nonton aja, Mas. Mas jangan mandi lagi ya, By kangen bau badan nya." rengek Rubby.
"By... Jorok. Mas baru pulang kerja, banyak ketemu orang. Bawa banyak virus." omelku padanya.
Ia langsung memonyongkan bibir, daj menatapku kesal. "Ngga usah ngambek. Udah mau jadi Ibu sekarang. Besok pagi, baju semaleman ngga usah dicuci, simpen aja buat ciumanmu."
"Tapi beda rasanya." omel Rubby.
"Ya memang beda... Tapi setidaknya lebih bersih. Kamu ngga inget kata dokter, kalau harus jaga kesehatan Bayimu."
"Iya... Tapi kalau ngidamnya ngga diturutin, nanti anak By ngiler. Mau Kakak lihatnya?"
"Ngidam harus jorok gitu?"
__ADS_1
"Ya engga... Tapi ini pengenya gitu. Kakak sih, Aaaaaah. Kesel By jadinya."
"Heh... Udah, udah... Mas perjalanan pulang tadi ngebayangin, kalau bakalan kalian sembut dengan penuh senyum kasih sayang. Kok malah disuguhin berantem gini. Aaaah, Mas pusing, mau mandi, terserah baju kotornya mau dicuci, disimpen, atau bahkan di Laminating sekalian biar awet." ujar Mas edra dengan kesal. Lalu meninggalkan kami berdua.