
Pov Rubby.
"Non... Non By ada dapet kiriman bunga," teriak Bik nunik padaku.
"Pagi-pagi gini, siapa yang kirimin bunga Bik?" tanya ku balik, sambil menerima karangan bunga mawar tersebut.
"Ngga tahu... Tadi saya buang sampah diluar, bunga ini dicantelin dipagar, terus ngga ada pengirimnya," jawab nya singkat.
Ku bolak balik karangan bunga tersebut, untuk mencari data pengirim, namun tak juga ditemukan.
"Siapalah pagi-pagi iseng? Buang ajalah, daripada ntar jadi masalah. Apalagi, sampai kecium sama Kak dee, bahaya ntar."
Ku letak kan bunga itu kedalam tong sampah, dan tak lagi mau melihatnya. Aku segera menuju ke kamar kak Dee, untuk menjemputnya sarapan. Tapi, ternyata mereka sudah lebih dulu keluar.
"Eh... Udah selesai mandinya? By baru mau manggil,"
"Iya... Udah selesai kok, yuk By kita sarapan. Kakak laper," ajak Kak dee pada ku.
Segera ku siapkan semuanya, dan mengambilkan mereka nasi secukupnya.
"Kakak segini dulu, nanti kalo mau nambah lagi bilang By, ya."
"Iya... Yaudah, makan dulu." balas Kak dee.
Seperti biasa, kami menikmati sarapan pagi bersama dengan tenang. Tanpa gangguan, benar-benar hanya ada ketenangan hingga Mas edra membuka percakapan.
"By... Kapan Bapak sampai?"
"Mungkin siang, Mas. Bang halim sekalian bawa penumpang, jadi nurunin para penumpangnya dulu." jawab ku.
"Usahanya berkembang ya, ngga salah kita modalin mobil. Pas juga, mau nikah, udah punya usaha. Tinggal ngembangin lagi,"
"Iya Mas, Alhamdulillah... Semoga sesuai dengan apa yang direncanakan."
"Kalau ada apa-apa... Suruh dia langsung bilang sama Mas, ya."
"He'em...." angguk ku. Yang dalam bersama'an, sedang memperhatikan Kak dee menyantap makanannya.
"Kenapa By? Kaget lihat Kakak makan banyak?" tanyanya padaku.
Aku tersentak, dan langsung mengalihkan perhatian. "Eng... Engga 'Kak, ngga papa. By malah seneng lihat Kakak lahap makan," jawab ku.
"Hmmm... Lagi banyak selera aja," jawab nya lagi.
Aku dan Mas edra saling lirik, mata kami mengisyaratkan suatu kebahagia'an tersendiri, yang memang hanya kami yang mengetahuinya.
__ADS_1
Mas edra bersiap berangkat kekantornya, lalu aku mengantarnya hingga ke depan pintu.
"By... Mas pergi dulu, nanti kalau Bapak sama Bang halim datang telpon aja, kalau engga, bawa kekantor juga ngga papa. Hari ini Mas banyak banget kerja'an soalnya."
"Iya, Mas.... Hati-hati, ya." ucapku padanya.
Setelah mengecup keningku, Mas edra pun segera berangkat dengan mobilnya.
Aku segera kembali kedalam, dan mencari keberada'an Kak dee, lau bertanya pada Bik inah yang sedang membereskan meja makan.
"Kakak mana, Bik?"
"Kayaknya ke teras belakang," jawab nya. Dan aku langsung menghampirinya disana.
Benar saja, Kak dee sedang sibuk dengan semua tanaman kesayanganya, menyiram, membuang daun kering, dan menyusunnya kembali sesuai keinginannya.
"Kakak kurang suka tatanan By?"
"Bukan ngga suka... Tapi, setiap tanaman harus dikelompokan sesuai jenis. Takutnya, nanti kalau ada hama malah nular kemana-mana, By."
"Ooh... Gitu."
"By... Sepertinya sebentar lagi ada yang datang menemuimu," ucap Kak dee.
"Hah... Siapa?"
"By.... Rubby.... Mantu kesayangan Mama mana?" panggil seseorang dengan lembut. Yang aku sudah faham dengan suaranya, yaitu, Mama. Mirna.
"Waduh... Kok mama pagi-pagi gini udah datang, kak?"
"Ya... Mana Kakak tahu. Sambut sana, masa Kakak yang suruh nyambut," ucap Kak dee padaku.
"By diteras belakang, Maaa...." balasku pada Mama mirna.
"Hadeeeh... Kenapa dibawa kesini sih By?" ucap Kak dee, kesal.
"Oops... Ma'af,"
"Yaudahlah... Siap-siap aja," ucapnya lagi.
Langkah Mama mirna terdengar menghampiri kami. Ku lihat Kak dee santai saja, dan cuek dengan kehadiran Mama mertua kami itu. Karna lebih memilih untuk tetap dengan tanamannya.
"Eeeh, disini By. Lagi apa?" tanya Mama mirna dengan senyum semringah nya.
"Ngga papa Ma. Cuma bantuin Kak dee ngurus taneman." jawab ku.
__ADS_1
"Hmmm... Bagus sih, kamu memang harus banyak gerak, supaya kandunganmu sehat. Dan kamu juga sehat, ngga banyak penyakit," ucap Mama mirna dengan melirik Kak dee.
"Mama sendirian?" tanya ku lagi, untuk mengalihkan perhatian.
"Iya... Dianter pak Jarwo. Eh, By... Mama haus, bikinin teh ya." pinta Mama.
"Iya... Tapi, yang anter Bik nunik ya. By mau ambil obat Kak dee sebentar," ucapku, lalu pergi meninggalkannya.
Pov Diana.
Oh tuhan... Aku sedang malas berbicara dengan nya. Aku harus mengatur nafas, dan emosiku mulai sekarang.
Aku menjaga jarak dan pandangan, agar Mama mirna tak melirik ku, dan memulai pembicara'an padaku. Tapi, akhirnya terbuka juga bibirnya.
"Dee... Kamu ngga lihat Mama disini?" tanya nya.
"Masa segede itu ngga lihat?" jawab ku.
"Kenapa ngga nyambut Mama?"
"Kan udah disambut By tadi. Nyarinya juga nyari By, kan?"
"Iya... Mau tanya keada'an calon cucu kesayangan Mama." balasnya ketus.
"Yaudah... Tanyain aja calon cucunya lagi ngapain aja didalem perut." balasku.
"Dee... Kenapa perasa'an Mama, kamu ini makin lama makin ngga ngehormatin Mama?" herannya.
"Engga kok... Dee masih hormat. Nyatanya, Dee ngga langsung pergi saat Mama dateng 'kan?" balasku dengan senyum terbaik.
"Dee... Perasa'an Mama, kamu makin lama makin ngelawan sama nantang Mama, ya?" nadanya semakin naik.
"Jangan terlalu banyak merasa, Ma. Terlalu banyak merasa itu, justru akan membuat kita tak bisa merasakan apa-apa..." aku membalasnya dengan nada datar, dengan terus merapikan bonsai ku.
"DIANAAAA....!" umpatnya dengan penuh penekanan dalam nada bicaranya.
"Kenapa lagi?"
"Mama kesini dateng baik-baik buat jenguk kalian, malah digini'in. Buat Mama sedih kamu ya, jahat. Sampai Mama berfikir, jika Mama ingin menangis." omelnya lagi.
Aku menghela nafas panjang, dan menyelesaikan pekerjaanku, lalu menghampirinya.
"Mama mertua kesayangan ku. Air mata itu datangnya dari hati, bukan dari otak. Apakah Mama masih punya air mata? Dee rasa tidak. Dee mau minum obat dulu, ya. Karna meskipun sakit, hidup Dee itu harus terus berjalan. Hingga waktunya berhenti sendiri. Bye, Ma.... " ujar ku dengan meninggalkan nya yang wajahnya mulai memerah karna kesal.
Ku hampiri Rubby yang keluar dari. Kamarku, membawa nampan obat beserta air putih. Ku hadang Ia, lalu ku minum butiran obat itu langsung ditempatnya berdiri.
__ADS_1
" Udah... Kakak mau istirahat lagi. Pinggang Kakak pegel. Temenin ya mertuanya," pesan ku pada Rubby. Dan Ia hanya mengangguk, meskipun dengan banyak tanya tanya dikepalanya.