
Kediaman Kurashi
"Kak, sudah malam kenapa masih belum tidur?" tanya Mimi yang menghampiri Kurashi yang sedang duduk di sofa ruangannya
"Aku masih belum mengantuk, dan tidak bisa memejamkan mata" jawab Kurashi tanpa menoleh ke arah Mimi
"Bagaimana jika aku mengurut mu, biar kau bisa ketiduran" kata Mimi yang duduk di kaki Kurashi
"Tidak perlu, tidur saja dulu, nanti jika aku mengantuk maka aku akan tidur" jawab Kurashi yang ingin mengelak wanita itu
"Tadi pagi di saat aku membuka mata aku sudah tidak melihat mu di samping ku, begitu pagi kau sudah keluar"
"Aku tiba-tiba ada urusan, oleh sebab itu aku harus keburu-buru pergi" jawab Kurashi dengan alasan
"Kakak, aku ingin pernikahan kita di percepatkan"
"Kenapa?"
"Aku takut kehilangan mu, jangan pernah meninggalkan ku" ucap Mimi dengan memeluk Kurashi
"Mari kita tidur" ajak Kurashi dengan mengendong Mimi yang sedang duduk di pangkuannya
Kurashi yang sedang merasa kecewa di dalam hatinya mengunakan Mimi sebagai pelampiasannya, Kurashi menidurkan Mimi di kasur dan melepaskan pakaian yang membalut tubuh putih mulus dan bungil itu
"Kak, aku masih sakit, apa bisa untuk malam ini kita jangan melakukannya" pinta Mimi yang ketakutan
"Jadi wanita ku tidak boleh takut sakit, jika kau takut maka ini hanya akan membuat ku kecewa, jika kau menolak ku aku tidak akan memaksa mu aku akan tidur di kamar lain" jawab Kurashi yang sedang merasa tertekan
"Jangan marah pada ku" ucap Mimi dengan menarik tubuh Kurashi dan memeluknya
"Kakak, aku mencintai mu, aku berharap hati mu ini adalah milik ku seutuhnya" kata Mimi dengan mencium bibir Kurashi
"Hati ku sudah ku berikan pada gadis lain, tidak bisa ku tarik kembali hati ku ini. Mimi, maaf. aku bersama mu ini hanya karena ingin melindunginya untuk mengambil hati si tua itu" batin Kurashi
Tidak lama kemudian Kurashi melakukan hubungan dengan wanita itu.
"Kakak, jangan terlalu kuat, luka ku masih sakit" pinta Mimi dengan mengeluarkan air mata
"Mimi, kita tidak akan ada akhir yang bahagia, walau di suatu saat aku tidak bersamanya aku tetap tidak akan bersama mu, mungkin saja aku akan menikahi mu tapi pernikahan ini tidak berarti bagi ku, dan semua yang ku lakukan bukan karena aku mencintai mu tapi hanya karena terpaksa" batin Kurashi yang sedang menyetub*hi Mimi
Keesokan harinya.
Di siang itu Lavender sedang berlatih menembak dengan di temani oleh Lion dan George
__ADS_1
Dor...dor...dor...dor...dor...dor...dor...dor
Tembakan Lavender tepat pada sasarannya
"Horeeeeee...tembakan ku tepat lagi" teriak Lavender dengan melompat kegirangan
"Hahahhaha...anak ini hanya berhasil tembakannya sudah membuat nya begitu bahagia" kata Lion dengan tertawa kecil
"Kakek, gadis ceroboh ini memang selalu begini, hidupnya tanpa ada tekanan apa pun" ujar George
"George, apa kau sudah bersedia untuk menikahinya? apa kau tidak menyesal?" tanya Lion
"Tidak, Kek. pilihan ku memang Lavender" jawan George dengan yakin dan melihat ke arah Lavender yang masih sedang berlatih menembak
"Keberuntungan anak ini jika menjadi istri mu, aku sudah tua keinginan ku hanya ingin melihatnya menikah saja" ucap Lion dengan melihat ke arah Lavender
"Kakek, setelah selesai urusan ku dengan Kurashi aku ingin segera menikahinya"
"Baiklah, aku pegang janji mu" jawab Lion dengan senyum
"Kakek, kakek, aku berhasil lagi, kali ini tembakan ku tidak mengenai pohon lagi" teriak Lavender yang berlari menghampiri Lion
"Cucu ku sudah semakin pintar, memang putri Robert dan Merliza" kata Lion dengan senyum bahagia
"Kau mengejek ku ya?" tanya Lavender
"Tidak, aku hanya berkata terus terang, bukankah menghancurkan barang kau adalah ahlinya" jawab George dengan senyum
"Aku tidak mau dengar ucapan mu" ujar Lavender
"Kakek, apa aku bisa memiliki senjata?" tanya Lavender dengan memegang tangan Lion
"Kau sangat menyukai senjata? tapi ini sangat bahaya" jawab Lion dengan senyum
"Kakek, jika aku memilikinya maka jika ada yang berani menyentuh ku aku hanya tinggal mengancam dengan senjata ku saja, jadi aku tidak perlu lagi mengunakan kursi Bibi untuk di jadikan senjata" jelas Lavender
"Hahahahah...iya..iya..ada benarnya dengan perkataan mu ini" jawab Lion dengan tertawa kecil
"Bieber, bawa kemari" perintah Lion dengan melihat ke arahnya
"Nona, silahkan di buka" ucap Bieber yang menunjukan box yang berwarna hitam
"Apa ini ?" tanya Lavender sambil membuka penutup box itu
__ADS_1
"Wah....ini punya ku?" tanya Lavender dengan mengambil pistol berukuran kecil yang ada di dalam box itu
"Lavender, ini adalah milik mu, dan guna kan dengan baik" kata Lion
"Terima kasih, Kek. tapi kenapa ukurannya beda dengan yang punya paman?"
"Ukuran kecil ini adalah khusus untuk mu, mudah di bawa kemana-mana" jawab Lion
"Baiklah, aku ingin mencobanya" ucap Lavender yang berlari kembali ke tempat perlatihan tersebut
"Anak ini sangat aneh bukan berlian atau pakaian mewah yang dia mau, tapi malah pistol yang dia inginkan" ucap Lion dengan senyum
"Mungkin karena kehidupannya yang sederhana oleh sebab itu dia tidak suka barang bermerk"
"Andaikan Robert dan Merliza bisa melihat putri mereka aku yakin mereka pasti akan sangat bahagia" kata Lion dengan merindukan masa lalu
"Walau Paman dan Bibi sudah meninggal tapi setidaknya mereka telah melahirkan seorang putri yang lucu dan pemberani" ujar George dengan senyum
"Dan satu lagi adalah sering membuat Bibinya emosi" lanjut Lion dengan ketawa kecil
"Ini adalah kelebihannya" jawab George dengan bercanda
Malam hari
Lion berada di dalam kamarnya dan sedang menatap dengan tatapan rindu foto putri semata wayangnya
"Merliza, Robert, bayi yang kalian lindungi di saat itu sekarang sudah besar, dia sangat pintar dan lincah dan juga sangat lucu, jika kalian melihatnya aku yakin kalian pasti sangat bahagia" kata Lion sambil menyentuh foto tersebut
"Ketua besar" sapa Bieber yang melangkah masuk ke kamar Lion
"Bieber, hubungi Hendry besok aku ingin bertemu dengannya" perintah Lion
"Baik Ketua besar" jawab Bieber dengan menurut
"Ini sudah waktunya untuk aku menulis surat wasiat, aku sudah berhasil membalas dendam, dan menemukan Lavender, dan sekarang aku hanya ingin melihatnya menikah dengan George" batin Lion
Pasar keramaian
"Lavender, apa kabar dengan kakek mu?" tanya Summy
"Kakek, baik-baik saja, Bi" jawab Lavender dengan senyum
"Bila ada waktu sering-seringlah menemani kakek mu, dia sangat sayang padamu"
__ADS_1
"Baik, Bi. Kakek hari ni telah memberikan ku senjata untuk melindungi diri" jawab Lavender dengan merasa senang