Mafia Berhati Malaikat

Mafia Berhati Malaikat
kecurigaan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Lion di saat itu mendatangi Apartemen Tevez bersama George dan anggota lainnya. di saat tiba semua anggota Lion langsung keluar dari mobilnya dan berjalan menuju tempat tinggal Tevez


Prak...


Hentakan pintu yang di lakukan serentak anggota Lion. para anggota Lion mencari keberadaan Tevez di dalam Apartemen itu.


"Sepertinya sudah tidak ada yang tempati " ujar George yang memerhatikan semua ruangan tempat itu


"Dia sudah pergi" kata Lion dengan raut wajah tidak senang


Lion meninggalkan apartemen itu dengan rasa kecewa di raut wajahnya.


"Kakek, mungkin saja dia sudah tahu kita ingin membunuhnya oleh karena itu dia meninggalkan tempat tinggalnya" ujar George yang duduk semobil dengan Lion


"Jangan pernah berharap dia bisa kabur dari ku" jawab Lion dengan merasa kesal


"Bieber, kerahkan seluruh anggota kita untuk mencarinya sampai dapat" perintah Lion dengan tegas


"Baik Ketua besar" jawab Bieber yang sedang menyetir


"Bibi, aku sudah baikkan kenapa tidak biarkan aku pulang?" tanya Lavender yang sedang duduk di ranjangnya


"Lavender, dengarlah kata kakek mu dan George untuk menjalani pemeriksaan selanjutnya" ujar Summy


"Tapi kepala ku sudah tidak sakit, untuk apa di periksa lagi?"


"Sudah! jangan membantah lagi, dengar saja ini untuk kebaikan mu"


"Iya, Bi"


"Lavender, kamu harus pulang ke rumah kakek mu, kalian sudah saling mengenal dan mengakui"


"Tapi aku sudah biasa tinggal bersama, Bibi"


"Lavender, kakek mu sudah rindu pada mu jadi kau harus menemaninya, jika kau ingin pulang ke pasar keramaian kau bisa pulang kapan pun kau mau"


"Bibi, jika ingin aku temani kakek boleh saja tapi aku tidak mau tinggal di sana" kata Lavender dengan tegas


"Kenapa?" tanya Summy dengan penasaran


"Di sana ada Gigolo dan Flora fauna itu, aku tidak mau setiap hari menatap mereka" jawab Lavender sambil melahap buah apel


"Abaikan saja mereka, karena kau baru ahli keluarga Lion. mereka hanya adopsi jadi tidak perlu peduli pada mereka"


"Bibi, katakan pada ku tentang Papa Robek dan Mama Liza"


"Bukan Robek, nama Papa mu itu adalah Robert" jelas Summy yang menahan emosi


"Bibi, apakah Papa ku tampan?"


"Iya Papa mu sangat tampan"jawab Summy dengan senyum


"Apakah Papa ku sifatnya baik?" tanya Lavender lagi dengan penasaran


"Papa mu sangat baik, dan tidak mudah emosi, dia adalah pengawal setia kakek mu, oleh karena itu kakek mu sangat setuju mereka menikah, di saat itu kakek mu sudah berencana mundur dari dunia Mafia dan ingin serahkan kepada Papa mu tapi sayang Papa mu dan Mama mu harus pergi begitu saja" jelas Summy dengan merasa sedih


"Bibi sama Papa apakah saudara kandung?"


"Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Ada bedanya, kalian sama sekali tidak mirip" jawab Lavender sambil sibuk melahap buah apel

__ADS_1


"Dari sisi mananya tidak mirip?"


"Sifat Papa baik dan tampan"


"Terus?"


"Sedangkan, Bibi sangat galak seperti induk serigala dan juga wajah Bibi tidak secantik Papa ku" jawab Lavender dengan terus terang


"Apa maksud mu, Lavenderr?" tanya Summy dengan menahan emosi


"Maksud ku adalah, Bibi seperti dari kutub utara" jawab Lavender dengan santai


"Apa maksud mu?" tanya Summy dengan wajah tidak senang


"Bibi, mirip dengan penduduk di sana"


"Siapa penduduk di sana yang kamu maksud kan?" tanya Summy yang bangkit dari kursinya


"Beruang kutub" jawab Lavender yang ceplas ceplos


"Dasaar anak durhaka, berani sekali kau mengatakan Bibi mu ini beruang kutub" bentak Summy dengan kesal dan menarik telinga Lavender


"Aarggtthh, sakittt" teriakan Lavender yang menahan sakit


"Jika Bibi mu ini beruang kutub maka kau juga keturunan dari sana" bentak Summy yang mulai emosi


"Sakiit! Bibi, lepaskan tangan mu" teriakan Lavender yang kesakitan


"Jangan berharap aku melepaskan mu"


"Aku adalah pasien"


"Aku adalah Bibi mu"


"Aku adalah kakak dari Papa mu"


"Aku adalah cucu Kakek Neon"


"Aku adalah besanan dengan Kakek Neon mu"


"Aku adalah Tunangan Gorila Hamil yang belum jadi" jawab Lavender yang tidak mau kalah


"Maka aku adalah Bibinya Gorila Hamil mu itu" bentak Summy dengan kesal


"Aku adalah anak Mama ku"


"Mama mu adalah adik ipar ku"


"Lepaskan aku, sakit telinga ku" teriak Lavender


"Berani kau mengatakan aku beruang kutub"


"karena tubuh Bibi memang mirip dengannya" jawab Lavender yang tidak mau kalah


"Lihat bagaimana aku menghajar mu" bentak Summy dengan kesal dan menarik telinga Lavender


Markas Lion


"Aarggttt.."teriakan serentak 2 anggota Tevez yang di siksa oleh Kelvin


"Apa kalian masih tidak ingin mengatakan yang sebenarnya di mana Tevez?" bentak Kelvin dengan nada tinggi


"Kami tidak tahu, kami hanya menerima untuk bunuh Lion" jawab salah satu anggota Tevez

__ADS_1


"Lakukan" perintah Kelvin


"Siap" jawab serentak 2 anggota Lion yang menyiksa mereka dengan besi panas


"Aarrggttt.." teriakkan serentak anggota Teves yang di siksa sehingga tubuh mereka penuh luka dan kulit melekat ke besi panas itu


Siksaan kejam tanpa berhenti di lakukan oleh anggota Lion sehingga 2 anggota Tevez pada akhirnya meninggal dunia.


"Buang jasadnya" perintah Kelvin yang meninggalkan ruang siksa itu


"Siap Kak" jawab serentak anggota Lion


"Ketua besar" mereka tidak mengatakan apa pun" kata Kelvin yang berada di ruangan istirahat Lion


"Mereka sangat setia padanya sehingga rela mati di siksa" jawab Lion yang sedang menghisap cerutunya


"Kakek, anggota Lion begitu banyak Tevez tidak mungkin bisa keluar dari kota ini, dia pasti masih di dalam kota" lanjut George dengan menatap ke arah Lion


"Benar, kemana pun dia pergi kita pasti bisa mendapatkannya"


"Hanya saja aku merasa heran"ucap George dengan penasaran


"Tentang apa?"


"Kenapa dia tiba-tiba meninggalkan apartemennya? dia bahkan tidak tahu jika kita tahu dia adalah pembunuh Paman Robert dan Bibi Merliza" ujar George dengan rasa curiga


"Yang tahu soal ini hanya kita beberapa orang saja, kecuali?" sebut Lion yang merasa curiga pada seseorang


"Apa tindakan Kakek jika ini benar?" tanya George yang sudah mengerti maksud Lion


"Jika memang benar maka aku akan ambil nyawanya dengan tangan ku sendiri" jawab Lion dengan tegas


"Kakek, kakek, sudah pulang" panggil Floris yang baru masuk ke ruangan Lion


"Kenapa kau masuk tanpa mengetuk pintu?" tanya Lion dengan tegas


"Kakek, kita adalah keluarga, aku adalah cucu mu" jawab Floris dengan bersikap manja


"Walau kau adalah cucu ku tapi kau jangan lupa peraturan rumah ini" kecam Lion dengan kesal


"Kakek, jangan marah aku hanya senang melihat kakek pulang" jawab Floris dengan mengurut pundak Lion


"Keluar, kami masih ada yang mau di bahaskan" perintah Lion dengan ekspresi wajah yang tidak senang


"Kakek, bahas saja, aku bukan orang luar" jawab Floris yang ingin mengambil hati Lion


"Kakak George, malam ini makan di sini ya?" ajak Floris yang mendekati George dan duduk di sampingnya


"Tidak perlu" jawab George dengan cuek


"Kakak, kita bukannya sering bisa bertemu, maka makanlah bersama kami" pinta Floris dengan memegang tangan George


"Tidak perlu" jawab George dengan melepaskan tangan Floris


"Floris, jaga jarak mu dengan George" kata Lion dengan menatap tajam ke arah Floris


"Kakek, kenapa?"tanya Floris


"George adalah kekasih Lavender, maka kau harus jaga jarak, ada lagi mengenai insiden kemarin aku belum menghukum mu" kata Lion


"Kakek, itu semua tidak benar, aku tidak membunuhnya" jawab Floris dengan berpura-pura menangis


"Jangan menganggap ku bodoh, walau usia ku tua tapi aku bisa membedakan siapa yang benar dan siapa yang salah" bentak Lion dengan kesal

__ADS_1


__ADS_2