
Setelah beberapa hari kemudian luka Lavender telah membaik, dan di siang itu Lavender pun di jemput oleh Lion dan George. mereka menghantar Lavender ke pasar keramaian. untuk pertama kalinya Lion mendatangi tempat tinggal Lavender.
Setelah tiba di toko Summy, Lion, George dan Lavender duduk dan makan bersama masakan yang di sediakan Summy
"Tuan Lion, maaf tempat kami ini kecil berharap anda jangan menyimpan dalam hati" ucap Summy sambil menyajikan makanan ke meja di hadapan Lion dan George
"Summy, jangan segan, toko mu sangat bagus dan masakan mu kelihatannya sangat lezat" ujar Lion dengan senyum
"Kakek, ini daging kecap, ikan kecap, ayam kecap habiskan semuanya ini makanan kesukaan mu" kata Lavender yang sibuk mengambilkan semua lauk untuk Lion sampai memenuhi piringnya
" Lavender, ini sudah terlalu banyak lauknya, kakek mana bisa menghabiskannya" ujar Lion dengan tertawa kecil
"Ini semua kesukaan, kakek" lanjut Lavender yang masih menarohkan lauk-lauk ke piring Lion
"Sudah cukup! ini sudah terlalu banyak" kata Lion dengan senyum
Di siang itu mereka makan bersama dengan penuh rasa bahagia. tentu saja ini pertama kali bagi Lion merasakan kebahagiaan setelah kejadian insiden ledakkan itu. berkumpul kembali bersama cucunya membuatnya merasa senang dan tertawa dengan gembira.
Di sisi lain Tevez yang melarikan diri tinggal di sebuah tempat terpencil yang tidak di ketahui orang.
"Niat ku untuk membunuhnya tapi malah aku yang di incar" bentak Tevez dengan emosi
"Bos, apa tindakan selanjutnya?" tanya anggotanya
"Lion dan Black White jika bergabung maka ini sangat mengancam ku" jawab Tevez yang merasa kesal
"Macan serigala, aku tidak menyangka jika anda bisa bersembunyi kembali setelah menghilang 20 tahun lamanya" sebut seseorang yang datang ke rumah Tevez itu
"Apa niat mu memberitahu semua itu pada ku?" tanya Tevez yang melihat ke arah orang itu
"Dia telah bersatu dengan cucunya dan lebih parahnya si tua itu bergabung dengan George Hamilton, ini hanya akan sulit bagi mu jika dua kumpulan ini bergabung, bahkan jika kau menghadapi salah satu dari mereka saja kau pasti belum tentu bisa mengalahkannya, apalagi jika harus menghadapi 2 kumpulan"
"Aku hanya merasa penasaran pada mu"
"Tentang apa?"
"Kau berada di sisi si tua itu sudah lama, kenapa kau membelotnya? jika dia tahu bukankah nyawa mu akan hilang" ujar Tevez yang duduk di kursinya
"Kenapa memangnya jika aku di sisinya sudah lama? di hatinya aku bukan siapa-siapa juga, aku hanya salah satu kaki tangannya yang dia gunakan untuk senjata"
"Di dunia ini memang tidak ada pengikut setia, si tua itu memiliki penglihatan tajam jika saja dia tahu kau di pihak ku maka dia pasti akan menyiksa mu sepuas-puasnya" ujar Tevez
"Sayangnya sebelum dia tahu, mungkin di saat itu dia harus menunduk pada ku dulu" ucap pria itu
"Apa maksud mu?"
__ADS_1
"Aku sudah tahu kelemahannya"
"Levander?"
"Benar, dia sangat menyayangi cucunya itu, dan aku tahu wanita itu adalah anak dari wanita yang kamu suka dulu"
"Aku penasaran dengan anak itu, dan kau ingin menculiknya?"
"Benar, hanya saja mungkin kita akan menanggung resiko besar jika gagal"
"Kenapa?"
"Selain cucu Lion dia juga kekasih George Hamilton, aku ingin mengunakan wanita ini untuk menguasai 2 kumpulan besar itu" jelas pria itu
"Ambisi mu sangat tinggi, Bukan hanya satu yang kau ingin malah Black White juga menjadi incaran mu" kata Tevez yang senyum sinis
"Bukankah kau menginginkan kumpulan Lion? maka kita harus bekerja sama"
"Aku menginginkannya dari dulu lagi, dan cucu si tua itu tinggal di mana?"
"Dia kembali ke pasar keramaian, sangat mudah untuk menangkapnya, dia sering berkeliaran menghantar makanan" jawab pria itu
"Kalau begitu maka perhatikan dia dan bertindak di saat yang tepat" ucap Tevez yang sedang menghisap rokoknya
"Lion, Lion, lihatlah ini namanya musuh dalam selimut, sama seperti anj*ng mengigit majikan, orang di samping mu menusuk mu dari belakang, pria ini hanya senjata untuk ku melawan mu, jika kelemahan mu itu adalah cucu mu maka cucu mu lah yang akan jatuh ke tangan kami, aku mau melihat apakah diri mu masih bisa sesombong dulu" gumam Tevez dengan senyum sinis
"Lavender, apa kamu ingin pulang bersama kakek?" tanya Lion yang sedang duduk bersama Lavender dan George
"Kakek, aku sudah biasa tinggal di sini, tapi aku bisa juga tinggal di tempat kakek untuk beberapa hari dan kembali lagi ke sini, karena aku ingin membantu Bibi, jawab Lavender
"Lavender, Bibi mu selama ini telah merawat mu dengan baik, sebagai ucapan terima kasih Kakek ingin membantu Bibi mu" kata Lion dengan senyum
"Bantu dengan cara apa, Kek?"
"Kakek, akan mencarikan anggota untuk membantu Bibi mu, dan selain itu kakek berencana ingin memperbesarkan toko ini dan mencarikan pelanggan untuk Bibi mu" jelas Lion yang melihat ke semua arah dalam toko tersebut
"Wah..kenalan Kakek banyak, aku yakin di saat itu Bibi pasti akan sibuk sekali" jawab Lavender dengan senang
"Iya, jika ada yang pesan makanan maka biar anggota kita yang antar, dan kau bantu saja bibi mu di toko, asal jangan meledakkan tokonya saja" kata Lion dengan seraya bercanda
"Jangan menertawakan ku, Kek"
"Lavender, apa kamu masih ingin berlatih menembak?"
"Mau! aku belum mempelajarinya" jawab Lavender dengan penuh berharap
__ADS_1
"Kalau begitu kapan kau punya waktu maka kakek akan mengajari mu"
"Apa sekarang bisa?"
"Lavender, hari kamu baru pulang dari rumah sakit, jadi kau harus istirahat dulu" ujar Lion dengan menyentuh kepala cucunya
"Iya, aku tahu" jawab Lavender dengan menurut
"Kakek, jika gadis ceroboh ini belajar menembak aku takut pelurunya akan nyasar ke rumah orang" kata George dengan bercanda
"Jangan mengejek ku" ujar Lavender yang melihat ke arah George
"Gadis ceroboh, aku tidak yakin kau bisa mengunakannya dengan benar" ngeledek George dengan senyum
"Gorila Hamil, hati-hati pelurunya nyasar ke kepala mu" balas Lavender
"Coba saja kalau kau sanggup" jawab George
"George, sangat ahli dalam menembak. Lavender, kau bisa juga belajar darinya" lanjut Lion dengan gembira
"Tidak mau, aku mau belajar sama, Kakek saja"
"Kenapa? kalian adalah pasangan dan wajar jika George mengajari mu kan?" tanya Lion dengan bercanda
Kakek, aku belum setuju untuk jadi pasangannya"
"Kakek, apakah kakek merestui kami?" tanya George dengan melihat ke arah Lion
"Tentu saja kakek merestui kalian, ini berita baik untuk ku" jawab Lion dengan senang hati
"Kakek, kalian sudah sepakat untuk mempermainkan ku, aku belum menerimanya" kata Lavender yang menatap ke arah Lion dan George
"Lavender, setuju atau tidak kau tidak ada pilihan lain lagi" jawab George dengan senyum
"Kenapa tidak ada pilihan lain? aku berhak untuk menolak?" tanya Lavender
"Sudahlah! Lavender, jika kau cepat menikah maka hidup Bibi mu lebih tenang dan panjang umur" sambung Summy yang membawa seteko teh panas
"Bibi, tega sekali pada ku"
"Kenapa? usia mu sudah cocok untuk menikah" jawab Summy sambil menuangkan teh ke cangkir Lion dan George
"Aku masih muda, aku belum mau menikah" Jawab Lavender
Di sepanjang hari itu Lion dan George berada di toko Summy sambil bercanda ria dengan senang hati menikmati makan siang bersama-sama.
__ADS_1