
"Bibi, aku pulang" Teriak Lavender yang masuk ke tokonya
"Lavender, kau ke mana lagi? pergi pagi pulang sore, apa kau nyasar lagi?" Tanya Bibinya yang sedang duduk di kursi
"Bibi, aku tidak nyasar, tadi aku bertemu dengan mafia yang sedang baku tembak"
"Lavender, kenapa hidup mu selalu saja bertemu dengan mafia? ini hanya kebetulan saja atau diri mu yang sedang bermimpi?"
"Bibi, aku tidak berbohong, aku di antar oleh tuan Gorila Hamil" Jelas Lavender
"Bibi" Sapa George yang baru masuk ke toko itu
"Eh...Tuan hamilton" Balas sapaan Bibi dengan sopan
"Maaf. Bi, tadi karena ada satu kejadian maka melibatkan Lavender oleh karena itu dia jadi terlambat pulang ke rumah" Jelas George
"Ternyata begitu, tidak apa-apa, jika dia bersama Tuan aku percaya, aku hanya khawatir jika dia meledakkan rumah orang saja" Ujar Bibi dengan bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri George
"Tidak, hari ini dia malah menyelamatkan dua orang"Kata George
"Menyelamatkan 2 orang? memang siapa yang dia selamatkan?" Tanya Bibi dengan penasaran
"Seorang Kakek dan diri ku"Jawab George dengan singkat
"Lavender, selain membuat onar kau bisa menyelamatkan orang? ini adalah keajaiban"
"Bibi, jangan tertawakan aku" Ujar Lavender
"Bibi, ini adalah kesalahan ku, karena melibatkannya" Ucap George dengan sopan
"Tidak Tuan, jangan mengatakan seperti itu, ini tidak apa-apa. silahkan duduk dulu cuaca luar sangat panas biar Bibi menuangkan air untuk mu" Sahut Bibi dengan sopan
"Baiklah, terima kasih" Ucap George dengan sopan dan duduk di kursi tersebut
"Lavender, ambilkan makanan untuk Tuan Hamilton" Kata Bibinya yang sedang menuangkan air ke gelas
"Iya, baik" Jawab Lavender dengan menurut sambil berjalan ke arah dapur
"Tuan, silahkan. makanlah di sini sebelum pulang" Ujar Bibi dengan menarohkan minuman ke meja
"Bibi, ke mana orang tua Lavender?"Tanya George
"Sudah meninggal dari usianya yang masih beberapa bulan" Jawab Bibi dengan sedih dan duduk berhadapan dengan george
"Beberapa bulan?"
"Benar, di saat itu dia baru usia 2 bulan bahkan nama saja belum sempat di berikan, karena orang tuanya sangat menyayanginya maka mereka ingin mencari nama yang sesuai, tapi sayang belum mendapat nama yang bagus mereka sudah pergi duluan" Jelas Bibi dengan merasa sedih
__ADS_1
"Hanya 2 bulan sudah tidak ada orang tua, ini tidak mudah untuk Bibi menjaganya seorang diri sambil membuka toko makanan ini" Lanjut George
"Iya benar. walau dia sudah dewasa dan baik, tapi selalu membuat ku khawatir"
"Kenapa? dia sangat berani?"
"Semakin berani semakin membuat ku khawatir, dia tidak ada rasa takut sama sekali" Jawab Bibi dengan merasa khawatir
"Setidaknya Bibi tidak perlu takut dia di tindas oleh orang lain" Kata George
"Benar juga, tapi seperti yang Anda lihat selain dia berani dia juga sering nyasar, inilah yang sering membuat ku khawatir" Ujar Bibi dengan menarik nafas panjang
"Apa tidak memiliki saudara lain?"
"Tidak" Jawab Bibi dengan menyimpan kebenaran
"Bibi, ada yang ingin ku tanyakan?" Sebut Geroge dengan sopan
"Tuan, silahkan bertanya?"
"Kalung yang di kenakan oleh Lavender telah menyelamatkannya dari peluru, tidak tahu di mana Bibi membeli kalung itu?"
"Ah..kalung itu? kalung itu dari dia masih kecil Bibi beli di tepi jalan, Bibi anggap sebagai zimat. tidak menyangka ini berguna untuknya" Jawab Bibi dengan beralasan
"Wanita ini menyimpan kebenarannya" Batin George
"Benar, aku juga baru tahu setelah mendengar Tuan mengatakan ini" Jawab Bibi yang dengan pura-pura senyum
"Bibi, apa anda bisa memberitahu ku di saat itu kalungnya beli dengan siapa? aku sangat tertarik pada kalung itu" Tanya George dengan senyum
"Ini sudah lama, Tuan, Bibi sudah tua jadi tidak bisa ingat beli sama siapa atau di mana. dia saat itu bocah itu baru berusia satu bulan saja ini sudah berlalu begitu lama" Jelas Bibi Summy
"Aku hanya penasaran kalung itu terdapat inisial L apakah ini tandanya namanya adalah Lavender?"
"I-iya. benar Tuan, Ini tandanya kalung itu miliknya" Jawab Bibi dengan merasa cemas
"Beli kalung itu di saat usianya sebulan dan di beri inisial L dengan lambang nama Lavender, sementara baru saja dia mengatakan jika gadis itu di usia dua bulan belum memiliki nama, wanita ini memang sedang berbohong" Batin George
"Makanan sudah datang" Sebut Lavender yang menyajikan makanannya
"Tuan Gorila Hamil, silahkan makan. masakan Bibi ku sangat enak" Kata Lavender dengan senyum
"Terima kasih" Ucap George dengan senyum
"Lavender, jangan tidak sopan."
"Kenapa Bi?"
__ADS_1
"Nama Tuan ini adalah George Hamilton" Kata Bibinya dengan menahan emosi
"Tuan Go..go.."
"Sudah tidak apa-apa"Ucap George yang menatap ke arah Bibi Summy
"Maaf Tuan" Ucap Bibi dengan segan
"Tidak masalah" Balas George dengan sopan
Setelah selesai makan Lavender mengantar George keluar dari toko nya
"Terima kasih sudah mentraktir ku makan" Ucap George yang menatap ke arah Lavender
"Tidak apa- apa, ini tanda terima kasih dari kami juga" Balas Lavender
"Besok aku ingin ke panti asuhan, apa kau ingin pergi?"
"Tuan, mengajak ku?"
"Iya, ada acara di sana"
"boleh juga"
"Baiklah, kalau begitu aku akan datang menjemput mu besok, sampai jumpa" Kata George yang meninggalkan tempat itu
"Sampai jumpa" Balas Lavender dengan sopan
Di sisi lain Bibi Summy yang merasa sangat khawatir jika Keponakannya itu bergaul dengan ketua mafia, tentu saja masa lalu menjadi sebuah mimpi buruk bagi dirinya..
"Aku berusaha untuk menjauhkan bocah ini dari dunia gelap, akan tetapi dia malah bergaul dengan ketua mafia, apa lagi sampai hampir tewas, apakah ini adalah takdir yang tidak bisa di elakkan? aku lebih berharap jika anak ini hidup sebagai gadis biasa saja, dengan begitu dia bisa lebih aman" Batin Summy yang khawatir
"Bibi, ada apa dengan mu? kenapa dari tadi muram saja? apa karena darah Bibi naik lagi?"
"Tidak, Lavender lain kali jangan terlalu dekat dengan Tuan Hamilton"
"Kenapa?"
"Dia adalah mafia, dan seperti kejadian tadi hampir merenggut nyawa mu"
"Bibi, tapi aku sudah tidak apa- apa, kalung ini telah menyelamatkan ku" Jawab Lavender
"Bibi tahu, tapi asal kau tahu keberuntungan tidak selalu berpihak pada kita, hari ni hanya keberuntungan saja, tapi kalau lain kali kita belum tahu"
"Tapi kami jarang bertemu juga, tadi hanya kebetulan saja"
"Baiklah, lain kali jaga jarak dengannya, ingat kalung ini jangan sampai siapa pun yang melihatnya, jaga dengan baik ini adalah pelindung mu" Pesan Bibi yang merasa tidak tenang di hatinya
__ADS_1
"Iya. Bi"