
"Kenapa kau mengurung ku di kamar mu?" tanya Lavender dengan kesal
"Diam duduk di sana, jangan bergerak terus, memang gadis nakal" ucap George yang mengambil obat di lacinya
"Memang kau mau melakukan apa?" tanya Lavender yang sedang duduk di kasur
"Lihatlah diri mu sekarang, sudah membiru di dahi mu ini apa tidak sakit?" kata George yang duduk di kasur dan berhadapan dengan Lavender
"Ini tidak seberapa bagi ku, aku juga bukan anak manja yang suka mengeluh sakit"
"Kau adalah anak gadis tapi tingkah mu seperti seorang pria saja" kata George dengan mengoles salep ke bagian luka gadis itu
"Jangan menyalahkan ku, aku hanya melindungi diri saja, jadi aku tidak bersalah, lagi pula dia yang mencari masalah dengan ku, tentu saja aku harus memberi pelajaran padanya"
"Sudah banyak orang kau hajar sampai habis-habisan, kau belum pernah belajar bela diri kenapa kau begitu bisa begitu tangguh saat melawan mereka?"
"Mungkin saja keturunan Mama dan Papa ku" jawab Lavender dengan ketawa kecil
"Dasar gadis nakal, mama mu sangat lembut dan papa mu juga tidak ceroboh seperti mu, sebenarnya sifat mu di tular dari mana?"
"Mungkin dari bibi ku, karena aku tinggal bersamanya dari kecil"
"Jangan terkena air di bagian luka mu, ini tidak akan meninggalkan bekas"
"Iya aku tahu, aku ingin pulang" ucap Lavender yang ingin bangkit dari kasurnya
"Setelah menghancurkan barang ku kau ingin pergi begitu saja?" kata George yang menarik tangan Lavender dan mendorongnya ke kasur
"Woiii... apa yang kau lakukan?" teriak Lavender yang di tindih oleh George
"Gadis nakal ku, kau harus menganti barang yang telah kau hancurkan dengan bibir mu ini" ucap George dengan senyum dan mencium bibir Lavender
"Em...sudah, ini bukan salah ku, kau harus menyalahkan wanita mu itu" ketus Lavender dengan melepaskan ciumannya
"Dia bukan wanita ku, wanita ku hanya kau saja, gadis nakal" ucap George dengan melanjutkan ciumannya
Hotel
"Sialan, aku sudah terluka tapi George malah mengabaikan ku, apa hubungan mereka memang begitu mesra? sehingga aku yang memiliki identitas lebih bagus saja masih kalah dengannya, aku akan meminta pertolongan Papa" ketus Celine yang sendirian di kamar hotelnya
Celine mengeluarkan handphone dan menghubungi Wallace yang di seberang sana
"Hallo"
"Pa, putri mu di tindas di sini, cepat tolong aku"
"Siapa yang berani menindas putri Wallace?" tanyanya dengan nada emosi
"Dia adalah wanita yang mengoda Geogre, dia menyakiti ku dan memukul ku dan paling parahnya dia ingin bertemu dengan mu dia juga menghina mu, Pa" jawab Celine dengan melas
"Tidak tahu diri, beraninya dia menindas mu, Papa akan berangkat hari ini juga, beraninya dia menghina ku"
"Papa, cepat datang, dia sangat jahat aku ingin menghancurkan tokonya untuk membalas perbuatannya ke atas diri ku"
"Tenang saja, Papa segera berangkat dan membalas semua perbuatannya di hadapan mu"
__ADS_1
Setelah beberapa menit kemudian mereka pun memutuskan panggilannya
"Lavender, Summy, lihat saja bagaimana Papa ku membalas kalian, di saat itu kalian pasti akan berlutut di depan ku dan memohon di kaki ku" gumam Celine dengan merasa yakin
Keesokan harinya
Wallace telah tiba di kota S dan menemui putrinya di hotel tersebut
"Celine, apakah wanita itu yang melukai mu?" tanya Wallace dengan menahan emosi
"Iya Pa, seluruh tubuh ku sakit sekali, tapi aku tidak mau tinggal di rumah sakit, karena tidak ada yang menemani ku jadi aku takut" jawab Celine dengan memeluk papanya itu
"Papa akan membalasnya untuk mu, beritahu di mana alamatnya"
"Di pasar keramaian" jawab Celine
Pasar keramaian
Wallace beserta 4 anggotanya datang ke toko Summy
"Apakah sini adalah toko Summy?" tanya Rico yang sebagai pengawal Wallace
"Benar, Anda siapa?" tanya Lavender dengan melihat ke arah 5 orang pria yang masuk ke dalam tokonya
Wallace duduk di kursi dengan 4 anggotanya berdiri di sampingnya
"Lavender, siapa mereka?" tanya Summy yang baru keluar dari dapur
"Kau adalah Lavender yang telah melukai putri ku, Celine?" tanya Wallace dengan tatapan kejam
"Benar, apa kau tahu jika aku adalah mafia?"
"Tahu, putri mu sudah mengatakannya pada ku"
"Lalu kenapa kau masih saja berani menyentuhnya?"
"Dia menghina ku dengan uangnya dan mengancam ku, kenapa aku harus diam jika dia menghina ku? lagi pula untuk apa aku harus takut jika diri mu adalah ketua Mafia?"
"Kau sangat berani, apa kau tahu jika kau memohon pada ku tetap tidak akan ku lepaskan" kecam Wallace dengan tatapan tajam
"Aku tidak begitu bodoh harus memohon pada mu. Tuan, seharusnya Anda didik putri mu itu dengan baik agar jangan suka mencari masalah dengan orang" ketus Lavender
Prak...
Hentakan meja di lakukan oleh Wallace yang emosi
"Berani sekali kau bicara seperti ini dengan ku, kalian menindas putriku jangan berharap aku akan melepaskan kalian" bentak Wallace
"Apa yang kau inginkan di sini, ha?" teriak Summy dengan nada kesal
"Rico, bawa dia pergi" perintah Wallace
Rico mengeluarkan senjatanya menodongkan ke arah Lavender dengan menghampirinya
"Jangan main ulah Nona" ucap Rico sambil mengancam Lavender
__ADS_1
"Hei..apa yang kalian lakukan?" bentak Summy dengan kesal
"Bibi, tenang saja, mereka semua adalah pengecut maka mengunakan cara ini untuk menangkap ku" ujar Lavender dengan mengejek
"Ajal mu sudah tiba tapi mulut mu masih tidak mau diam" ucap Wallace
"Kenapa aku harus diam? kalian adalah pria yang tidak berguna, jika aku bisa menghajar putri mu maka aku juga bisa menghajar mu" kecam Lavender yang mengambil kesempatan menendang kaki Rico
"Aarrggtth" jeritan Rico yang merasa sakit pada kakinya
Di saat Rico kesakitan Lavender pun merebut senjata dari tangannya dan~β
Bruk
Pukulan senjata dari Lavender mengenai kepala Rico
"Aaarttgghtt, dasar wanita gila" teriakan Rico yang memegang kepalanya
Lavender lalu menodongkan senjata ke arah Wallace karena kejadian ini maka 3 anggota Wallace juga mengeluarkan senjata mereka dan menodongkan ke arah Lavender
"Ingin main senjata dengan ku, Nona? kau belum sepintar itu" kata Wallace yang bangkit dari tempat duduknya
"Benarkah? bagaimana jika kita mencobanya?" ucap Lavender yang mengarahkan senjatanya ke arah kaki Wallace
Dor..dor...
Tembakan Lavender mengenai kaki kiri dan kanan Wallace
"Araaggttthh" teriakan Wallace yang kesakitan sehingga terduduk di kursi
"Ketua" teriak serentak Anggotanya
"Kau berani sekali, ingin cari mati" bentak mereka yang ingin melepaskan tembakan
"Coba saja kalau kalian melepaskan tembakan, maka peluru ku ini akan menembus kepala si tua ini" kecam Lavender yang tanpa rasa ragu
"Lavender, kau hebat sekali dalam menembak" puji Summy dengan senyum
"Bibi, tembakan ku suka melesat jika saja aku menembak bagian tangannya bisa jadi nyasar ke kepalanya dan isi otaknya malah keluar, Bi" ucap Lavender dengan sengaja
"Kau kan sudah belajar kenapa kau bisa tidak yakin?"
"Di saat belajar aku menumbangkan 7 pohon kakek, dan sekarang halaman kakek tidak ada pohon lagi" jawab Lavender sambil menodongkan senjata ke arah Wallace
.
"Ketua, kaki mu berdarah, bagaimana jika kita ke rumah sakit dulu?" ujar Rico yang merasa cemas
"Tidak usah, tembak saja wanita ini" bentak Wallace sambil menunjukan ke arah Lavender
"Coba saja kalau kalian berani, maka kita akan mati bersama" jawab Lavender dengan menantangnya
Bab selanjutnya
Lion murka terhadap Wallace
__ADS_1