Mafia Berhati Malaikat

Mafia Berhati Malaikat
Floris merasa iri


__ADS_3

"Bibi, aku pulang" sapa Lavender yang masuk ke tokonya


"Ini sudah sore menjelang malam kau nyasar ke rumah siapa lagi?" tanya Summy yang sedang meneguk minumannya


"Ah...aku tadi?"


"Ada apa dengan tangan mu?" tanya Summy yang melihat luka goresan di tangan Lavender


"Tadi ledakan terjadi di sebuah restoran, aku hanya kena serpihannya saja"


"Ledakkan? kenapa biasa meledak? dan kenapa bisa mengenai tangan mu?"


"Karena aku yang meledakan restoran itu" jawab Lavender sambil mengaruk kepalanya yang kebinggunan


"Apaaa? kau meledakkan restoran orang?"Teriak Summy dengan nada memenuhi satu toko


"Bibi, jangan berteriak dulu"


"Katakan kenapa kau meledakkan restoran orang?"


"Terjadi baku tembak antara Kakek Neon dan musuhnya"


"Terus?"


Lavender menceritakan semua kejadian pada Bibinya itu..


"Lavender, apa kau tahu bom itu sangat bahaya tapi kalau malah melepaskannya dan membawa ke restoran, apa kau tahu kau bisa tewas karena ledakkan itu" ujar Summy yang heran melihat ponakannya itu yang tanpa rasa takut


"Bibi, aku juga tidak tahu jika ledakannya bisa sekuat itu, sekali aku melempar semua penjahat jadi ayam cincang dan restoran roboh sebagian" jelas Lavender dengan terus terang


"Iya, jika meledakkan mu maka kau juga akan menjadi ayam cincang"


"Bibi, masakkan daging kecap" pinta Lavender yang dengan berharap


"Untuk apa?"


"Kakek Neon suka makan daging kecap"


"Tidak mau, semenjak kau mengenalnya diri mu selalu saja dalam bahaya, maka jangan bertemu dengannya lagi" kata Summy yang menolak permintaan ponakannya itu


"Bibi, masakkan" pinta Lavender sambil menarik lengan Summy dengan manja


"Tidak perlu manja, Bibi tidak akan memasaknya, kakek Neon mu itu bukannya tidak ada yang masak untuk nya, untuk apa kau sibuk?"


"Bibi, masakan dagingnya" melas Lavender yang tidak putus asa sambil menarik lengan Summy tanpa berhenti


"Tidak perlu membujuk ku, jangan tarik lengan ku lagi, walau kau menangis juga percuma usaha mu" kata Summy yang bangkit dari kursinya


"Bibi, masakan" rayu Lavender dengan suara melas

__ADS_1


"Tidaaakk"


"Bibi, masakan" pinta Lavender sambil menarik dress yang di kenakan oleh Summy


"Sudah jangan tarik pakaian ku, aku tidak mau masak"Bentak Summy mulai kesal


"Bibi, masakan" Pinta Levender lagi yang menarik dress Summy tanpa melepaskannya


"Tidak mau, jauh kan diri mu dari dia, kemarin kau terlibat baku tembak dan hari ini ledakkan, apa kau kira nasib mu selalu beruntung bisa keluar hidup-hidup dari kejadian itu"


"Bibi, masakan" pinta Lavender memeluk erat tubuh Summy dari belakang


"Lepaskan tangan mu, jangan memeluk ku begitu kuat" bentak Summy mulai kesal


"Kalau Bibi masakan maka aku baru lepaskan tanganku"


"Tidak mau, jangan menjumpainya lagi" bentak Summy dengan berusaha melepaskan tangan Keponakannya itu


"Aargggggttt, Bibi jahat hanya minta masakan saja tidak mau, nasib ku memang buruk bertemu dengan Bibi, bukan cuma makin bodoh tapi juga tidak ada pintarnya" teriak Lavender sambil menangis dengan sengaja


"Hei..hei..kenapa kau menangis hanya karena daging kecap, ha?"


"Bibi jahat, kalau tidak mau iya sudah, aku masak sendiri saja"jawab Lavender yang melangkah ke dapur


"Hei..jangan sentuh dapur ku" teriak Summy yang ikuti langkah Lavender


"Jangan coba-coba kau menghidupkan kompor jika kau tidak mau meledakkan dapur ku"


"Kau berani mengancam ku? dasar durhakaa" teriak Summy dengan menarik telinga Lavender


"Aaargghhttt...sakiiitttt, lepaskan tangan mu, Bi" teriak Lavender yang kesakitan


"Kau di besarkan oleh ku tapi kau mengancam ku, anak durhaka"


"Pantas saja Bibi tidak yang ada mau, karena suka menarik telinga orang" kata Lavender yang tidak mau kalah


" Apa yang kau katakan? jika kau tidak berubah maka lihat saja tunangan mu itu masih mau atau tidak bersama mu" bentak Summy dengan kesal


"Kalau tidak mau bersama ku iya sudah aku tidak peduli juga, kalau Bibi mau ambil saja lagi pula Bibi belum ada yang mau, jawab Lavender yang tidak mau kalah


"Dasaaarr" bentak Summy sambil menarik kuat telinga Lavender


"Aarrggghhtttt, Bibi, cepat menikah saja sana biar lebih tenang hidup ku" teriak Lavender dengan kesal


"Apaaaa?" teriak Summy


Keesokan harinya


"Ketua besar, anda sudah sadar?"sapa Bieber dan Kelvin

__ADS_1


"Kakek, bagaimana dengan kakek?" tanya Serentak Girvanlo dan Floris


"Aku sudah tidak apa-apa," jawab Lion yang duduk bersandar di ranjangnya


"Ketua besar, ini kalungnya" ujar Bieber yang mengembalikan kalung tersebut


"Kalung ini menjadi penyelamatku, jika bukan dia aku sudah tewas" Ucap Lion yang memakai kalung itu ke lehernya


"Kakek, siapa dalang yang menyerang kakek? mereka melakukannya secara terang-terangan" kata Girvanlo


"Musuh ku sangat banyak jadi ini sudah tidak heran, dalam hidup ku ini bukan pertama kali di serang" ujar Lion dengam bersikap tenang


"Mana Lavender? apa gadis itu baik-baik saja?" tanya Lion yang menoleh ke arah Kelvin dan Bieber


"Ketua besar jangan khawatir, nona Lavender hanya luka kulit" jawab Bieber dengan sopan


"Apa dia di obati oleh dokter?" tanya Lion lagi


"Nona Lavender tidak mau" jawab Kelvin dengan sopan


"Ada waktu aku ingin singgah ke tokonya"Ujar Lion


"Kenapa kakek begitu peduli padanya? padahal dia hanyalah orang luar, aku baru cucunya tapi kakek tidak pernah begitu baik pada ku" Batin Floris yang merasa iri


"Girvanlo, Floris, kalian pulang dulu, di sini biar Bieber dan Kelvin yang membantu ku" ujar Lion yang menoleh ke arah Girvanlo dan Floris


"Baik Kek" jawab serentak Girvanlo dan Floris


Sesaat kemudian mereka pun meninggalkan kamar itu, akan tetapi tas milik Floris tertinggal di sofa kamar itu.


"Ketua besar, aku mencurigai sesuatu" ucap Bieber


"Katakan" jawab Lion dengan menoleh ke arah Bieber


"Dalang semua ini apakah ada hubungannya dengan Tevez si macan serigala itu?" jelas Bieber


"Aku juga sempat memikirkannya, jika dia juga ingin mengambil nyawa ku maka aku juga tidak heran" kata Lion


Di saat keluar dari rumah sakit Floris teringat dia lupa membawa tasnya yang tadinya dia tinggalkan di kamar kakeknya itu


"Kakak, tunggu aku di mobil, aku lupa ambil tas ku" ujar Floris yang melangkah menuju ke kamar Lion


"Iya, aku tinggu di mobil saja" jawab Girvanlo dengan cuek


"Ketua besar, penyerangan kali ini pasti telah di rencanakan sebelumnya, bahkan mereka menyamar sebagai pelayan restoran" sebut Kelvin


"Aku berharap bisa bertemu dengannya karena aku ingin meminta dia mengembalikan barang itu pada ku" ucap Lion


Di saat Floris ingin masuk ke kamar Lion dia menghentikan langkahnya dan menguping perkataan kakeknya dari luar kamar.

__ADS_1


"Meminta apa, Ketua besar?" tanya serentak Bieber dan Kelvin dengan penasaran


"Kalung keluarga ini" jawab Lion


__ADS_2