Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Extra bab 3


__ADS_3

⛅ Selamat membaca ⛅


Zafa tersenyum kearah ibunya meskipun sekarang dia sedang merasa sakit. Dian menatap sendu wajah putra pertamanya. Meski fisiknya lemah Zafa selalu ingin melindungi adik-adiknya.


"Kenapa bisa berdarah sayang?" tanya dian penuh kelembutan. Ia mendudukkan Zafa di kursi panjang di halaman itu. Sekar mengambil kotak obat di dalam rumah. Gerry mengambil air mineral dan menyerahkannya pada Dian. Dian membuka tutup botolnya dan memberikannya pada Zafa. Anak itu meminumnya perlahan lalu tersenyum, menatap kedua orangtuanya bergantian.


"Mama, papa terimakasih. Maaf Zafa buat kalian khawatir." Kata Zafa. Zayn yang merasa itu bukan salah Zafa kini membuka suara.


"Itu semua karena kak Ina dan ana ma, mereka berebut ayunan. Kak Zafa mau pisahin mereka. Tapi mereka malah mendorong ayunannya dengan keras. Sampai kena kepala kakak." Ujar Zayn melirik tajam pada adik dan kakak perempuannya.


"Benar begitu sayang?" tanya Dian pada kedua putrinya. Tapi Zafa lagi-lagi menutupinya.


"Zafa yang kurang hati-hati ma," Kata Zafa. Dian membersihkan darah yang mengalir di pelipis putranya. Beruntung hanya luka robek kecil. Kaki Dian rasanya masih gemetaran. Namun Dian selalu menutupinya dengan senyuman untuk buah hatinya.


"Lain kali hati-hati. Apakah ini sakit?" Dian mengusap perlahan luka Zafa. Anak itu hanya memandang penuh cinta kearah ibunya.


Setelah luka Zafa diobati dan ditutup dengan plester Dian mencium kening Zafa. Gerry benar-benar beruntung memperistri wanita sebaik Dian.


Karena hari sudah menjelang sore semuanya masuk ke dalam rumah untuk beristirahat. Gerry memandang wajah Dian yang sedikit memucat.

__ADS_1


"Apa kamu sakit sayang?" tanya Gerry menghampiri Dian yang sedang menyisir rambutnya.


"Tidak mas, mungkin aku hanya lelah." Kata Dian masih melanjutkan kegiatan menyisir rambutnya. Gerry bergerak mengambil alih sisir Dian, wanita itu hanya terdiam saat dengan hati-hati Gerry menyisir rambut panjangnya.


"Jika kamu lelah, sebaiknya besok untuk istirahat saja." Dian menggeleng tanda tak setuju.


"Ga perlu mas. Nanti buat tidur juga pasti besok sudah baikan." Kata Dian. Gerry memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Jangan memaksakan diri. Kalau terjadi sesuatu padamu aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri.


Dian tersenyum dari balik cermin, ia berbalik memeluk pinggang Gerry dan mengangkat wajahnya menatap Gerry.


"Mama ..." teriak Zayana sambil menggedor pintu. Kening Dian dan Gerry bertautan. mereka sedang mengatur nafas. keduanya tersenyum mengingat hal tadi. Andai saja pintu kamar belum terkunci pasti ulah mereka akan ketahuan anak-anaknya.


Dian turun dari gendongan Gerry dan membuka pintu.


"Ada apa sayang. Kenapa berteriak?" tanya Dian mengangkat putri kecilnya.


"Kakak Ina jahat." Kata Zayana mengadu.

__ADS_1


Memang ulah kedua putrinya selalu membuat kepala Dian terasa pusing. Bagaimana tidak. Ada saja hal yang membuat mereka selalu bertengkar. Dian memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Gerry mendekat kearah Dian dan berdiri disamping istrinya.


"No mama, Ana bohong." Kata Zafrina menyusul adiknya, diikuti Zafa dan Zayn.


Dian menatap keempat anaknya. Semua menunduk dan terdiam melihat wajah Dian yang tampak serius.


Dian berjongkok meraih Zayana dan Zafrina. Dengan lembut ia mengusap kepala kedua putrinya.


"Kalian itu bersaudara, mama minta kalian harus akur. Jika kalian bertengkar terus itu artinya kalian tidak sayang sama mama. Karena kalian membuat mama sedih." Kata Dian. Keempat anak-anak itu berhamburan memeluk Dian.


"Kami sayang mama." Ujar keempatnya.


"Maafin Ina mama. Ina janji ga akan nakal lagi."


"Ana juga .."


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Dikit dulu ya guys..

__ADS_1


jangan lupa like komen dan Vote juga hadiah kalian


__ADS_2