Menikahi Ibu Susu Baby Zafa

Menikahi Ibu Susu Baby Zafa
Bab 70


__ADS_3

⛅ Selamat membaca ⛅


Part ini mengandung unsur xxx harap bijak. Belum cukup umur skip aja. tapi tetap tinggalkan likenya.


Melihat Gerry yang tiba-tiba bersimpuh dikakinya membuat hati Dian seketika melemah. Bara amarah yang tadinya menguasai dirinya langsung padam bagai tersiram air


"Jangan membuatku benar-benar kecewa telah memilihmu mas. Aku hanya seorang wanita yang juga punya perasaan. Kau bahkan meragukan perasaanku untukmu. Apa kita perlu berpisah agar kita bisa saling instrospeksi diri?" ujar Dian lirih. Air matanya benar-benar terlalu sulit untuk di bendung.


Gerry menggeleng kuat. Ia tak ingin berpisah lagi dengan Dian. "Maafkan aku, aku janji hal seperti ini tak akan terulang lagi. Aku hanya takut kau berpaling dariku. Aku takut aku benar benar trauma." Kini air mata Gerry pun tak urung ikut mengalir. Dian semakin tak kuasa mendengar ucapan Gerry.


Ia membantu Gerry berdiri, lalu memegang lengan Gerry dengan erat. "Bisakah kau melupakannya dan hanya mengingatku saja? aku Dian bukan Selena. Kau tau dimana hatiku berlabuh. Jangan ragukan aku mas. Jangan dorong aku untuk menjauhimu."


Gerry seketika memeluk Dian dengan erat. Ada rasa hangat yang mengalir di hatinya. Ya dia harusnya tak larut dalam trauma berumahtangga dengan Selena.


"Maaf .. aku memang pria bodoh. Aku terlalu mencintaimu hingga aku takut kehilanganmu."


Dian mengurai pelukan Gerry. Ia membelai lembut wajah Gerry mengusap air mata yang membasahi wajah pria itu.


Tatapan mata keduanya beradu. Dian perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Gerry lalu me*lu*mat bibir pria yang membuatnya benar benar jatuh hati. Gerry terpejam saat bibir tipis nan hangat itu menempel di bibirnya. Gerry membalas lu*matan Dian dengan begitu rakus, hingga tiba tiba rasa panas menjalar diantara pangkal pahanya.


Setelah ciuman keduanya terlepas Gerry mengangkat tubuh Dian menaiki lift menuju lantai 3 dimana kamar mereka berada. Dian mengalungkan tangannya di leher Gerry. Matanya tak lepas menatap wajah Gerry.


"Aku tau jika aku terlalu tampan." Ujar Gerry tiba tiba menunduk melemparkan senyum termanisnya. Dian mengangkat sudut bibirnya, tangannya meraih rahang kokoh Gerry.


Gerry perlahan menurunkan Dian di depan pintu kamar, setelah membuka kamar mereka, Gerry kembali mengangkat tubuh Dian ala bridal style dan menutup kamar mereka menggunakan kaki.


Ia meletakkan Dian dengan hati hati seolah tubuh Dian seperti kristal yang pecah jika terlalu kasar menyentuhnya.

__ADS_1


"Aku tau kamu mencintaiku, tapi bisakah kau mempercayaiku? bahkan jika aku dihadapkan dengan sepuluh Rian, atau seratus Rian. Semua tak akan mampu membuatku berpaling darimu mas. Aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu sedalam-dalamnya." Kata Dian tangannya terus membelai rahang kokoh Gerry.


Mendapat ungkapan cinta yang begitu mendalam dari sang istri membuat Gerry merasa terharu. Ia tau jika dirinya salah selama ini menganggap semua wanita sama. Menganggap Dian akan seperti Selena yang. memilih laki laki yang lebih memiliki segalanya.


Selena. Bahkan Gerry lupa tujuannya pulang lebih awal untuk membicarakan itu.


"Sayang, ada yang ingin aku sampaikan padamu. Ku harap kau tak akan marah padaku. Aku benar-benar melakukan semua itu hanya karena rasa kemanusiaan."


"Apa ..?"


"Selena ada di rumah sakit, dan Arya yg mengurusnya."


"Lalu ..?"


"Aku membiayai biaya rumah sakitnya. Apa kau keberatan? jika kau tak mengijinkannya aku akan katakan pada Arya untuk membatalkannya." Ujar Gerry khawatir jika Dian akan kembali marah.


"Apa disaat seperti ini aku boleh iri padanya? kau selalu perhatian pada mantan istrimu itu, dan memperlakukan diriku dengan buruk. Atau jangan-jangan kau masih menyimpan cinta untuknya?"


Gerry menggeleng kuat. "Bukan begitu sayang, percayalah padaku. Aku mencintaimu sangat mencintaimu. Maafkan sikapku yang kasar padamu. Tapi percayalah hanya kamu satu satunya wanita yang bertahta di hatiku. Aku akan menghubungi Arya untuk membatalkan semuanya yang berhubungan dengan Selena."


Saat Gerry akan merogoh ponselnya, Dian mencekal tangan Gerry.


"Jangan, biarkan saja seperti itu mas. Lakukanlah apa yang menurutmu baik. Maafkan aku! tak seharusnya aku bersikap seperti ini." Gerry mengusap air mata Dian, ia mengecup bibir merah muda Dian.


Keduanya saling menatap penuh damba, Dian mendorong tubuh Gerry hingga tubuh Gerry terlentang. Dian mulai mencumbui Gerry dengan agresif. Tangannya bergerak aktif membuka simpul ikatan dasi Gerry. Setelah terlepas Dian mengikat tangan Gerry diatas kepala.


"Sa-sayang apa yang kau lakukan?" tanya Gerry gugup. Jujur saja ia tak pernah melihat Dian seagresif ini. Tapi Gerry menyukainya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin menghukummu."


Dian membuka kemeja Gerry, membiarkan tubuh sixpack Gerry terpampang dihadapan Dian, Dian terus menjilat dan menghisap dada Gerry, hingga meninggalkan beberapa tanda kemerahan dibeberapa tempat.


Tak sampai disitu, Dian mulai membuka dress yang ia kenakan hingga menyisakan dua kain pembungkus yang menutupi aset berharganya. Penampilan Dian dengan perut buncitnya sungguh menggugah nafsu Gerry. Inti bagian bawahnya sudah menegang sempurna, dan posisi Dian yang menduduki perut bagian bawah Gerry dapat merasakan pergerakan dari pusaka Gerry. Dian menarik sudut bibirnya keatas, sebuah lengkungan yang mampu membuat jantung Gerry berdetak kencang.


Dian membalikkan badannya menghadap kaki Gerry. Tangannya bergerak lincah membuka ikat pinggang yang memeluk pinggang Gerry erat. Ia menarik turun sleting celana Gerry dan menarik pusaka Gerry dari dalam segitiga pengaman Gerry.


"Aah .. " Gerry mendesah saat ujung pusaka Gerry menyentuh langit-langit rongga mulut Dian yang terasa hangat.


Dian terus memainkan pusaka Gerry dengan mengul*mnya perlahan dan ditambah gerakan tangan dengan ritme yang teratur yang mampu membuat si empunya pusaka blingsatan menahan gejolak yang akan segera meledak.


"Aaargh .. stop sa-yang! aku sudah tidak tahan." Ujar Gerry terbata.


Setelah mendengar permohonan Gerry Dian bangkit dari posisinya, ia melepas dua kain tersisa dan melemparkannya ke sofa. Dian menduduki pusaka Gerry yang masih berdiri kokoh, hingga seluruhnya terbenam di inti tubuh Dian.


Dian memejamkan mata saat merasakan inti tubuhnya terasa penuh. Namun tanpa Dian duga ikatan tangan Gerry terlepas sehingga dengan mudah pria itu mengangkat sedikit tubuh Dian agar lebih condong ke depan dan dia menggerakkan pusakanya dengan gerakan yang lembut.


"Jika hukuman yang kau berikan seenak ini. Setiap hari aku akan buat kesalahan padamu sayang." Bisik Gerry.


⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅⛅


Duh malah ikut panas dingin ini othor.


Othor tu mau nunjukin pelangi setelah badai. Othor juga ga suka konflik yang terlalu berat. Tapi disini emang sifatnya Gerry tu mudah emosian, mudah baper.


jangan lupa like komen dan Vote ya. Kasih bunga juga boleh.

__ADS_1


__ADS_2